Kementerian Perdagangan (Kemendag) diminta mengeluarÂkan kebijakan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) kedelai untuk merangsang petani meningkatkan produksinya.
Apalagi berdasarkan data KeÂmenterian Pertanian (KeÂmentan), produksi kedelai tahun depan akan mengalami defisit 1,5 juta ton. Produksi nasional hanya mampu mencapai 783.000 ton, sisanya impor.
“Kita tagih janji Menteri PerÂdagangan (Mendag) yang akan mengeluarkan HPP untuk keÂdelai,†tegas Ketua Hubungan Antar Lembaga Dewan Kedelai NaÂsional Muchlisin kepada RakÂyat Merdeka, kemarin.
Dia menyayangkan, lambatnya kinerja Kemendag mengeluarkan kebijakan HPP kedelai. Padahal, dulu dijanjikan HPP akan keluar setelah Lebaran dan sebelum musim panen tiba. Tapi kenyaÂtaanÂnya hingga musim panen raya kedelai selesai, HPP belum juga keluar.
Muchlisin mengklaim sudah bolak-balik menanyakan soal nasib HPP kedelai ke Kemendag. Namun, kementerian itu selalu beralasan sedang dibahas dan menghitung subsidi. Padahal keputusan petani kedelai dengan perajin tahu tempe sudah sepakat HPP di angka Rp 7.000 per kiÂlogram (kg).
Menurutnya, HPP sangat diÂtungÂgu petani untuk memÂberikan kepastian harga kedelai. Apalagi saat ini harganya terus turun yang menyebabkan petani tidak mau menanam kedelai lagi.
“Jangan sampai gara-gara peÂmerintah lambat mengeluarkan HPP, banyak petani yang alih profesi. Ini akan mengancam proÂduksi dan menyebabkan keÂlangkaan seperti yang terjadi perÂtengahan tahun,†tegasnya.
Menteri Pertanian Suswono mengatakan, rendahnya produksi keÂdelai nasional akibat harga jualÂnya yang terlalu murah. Hal itu membuat petani malas meÂnanam kedelai.
Karena itu, dia meminta KeÂmendag tidak berlama-lama memÂbahas HPP untuk komoditas kedelai. “Kedelai defisit akibat problem harga, semoga HPP bisa segera ditetapkan karena bisa menggairahkan petani,†ujarnya.
Menurut dia, saat ini harga kedelai impor lebih murah dari harga jual kedelai lokal. Padahal, komoditas itu rentan terhadap serangan hama sehingga risiko gagal panen sangat besar.
Penetapan HPP, kata Suswono, bakal meningkatkan kemungÂkiÂnan perluasan lahan kedelai. Jika harga jual menarik bagi petani, mereka bakal mengubah lahan tebu menjadi kedelai.
“Semoga HPP bisa mendorong (perluasan lahan), karena saat ini lahan kedelai nasional baru 978.000 hektar,†jelasnya.
Kementan menargetkan perÂluasan areal tanam kedelai menÂcapai 1,02 juta hektar. Tahun deÂpan, diharapkan HPP dan perluaÂsan lahan berjalan mulus, sehingÂga produksi bisa mencapai 1,5 juta ton.
Untuk diketahui, pada 2011 nilai impor mencapai 60 persen dari total konsumsi dalam negeri sekitar 3,1 juta ton dengan nilai 2,5 miliar dolar AS. Untuk tahun depan, Kementan menurunkan target produksi kedelai menjadi 1,5 juta ton dari 2,2 juta ton.
Sebelumnya, Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Bayu Krisnamurthi mengatakan, HPP kedelai masih dalam pembahaÂsan. HPP akan menjadi patokan yang tepat untuk para pelaku paÂsar sebagaimana yang diterapÂkan pada beras.
Bayu mengatakan, pihaknya juga membahas masalah keterÂsediaan kedelai. Karena saat ini ada pilihan menggunakan penÂcaÂdangan atau subsidi. KonseÂkuenÂsiÂnya, bila menggunakan sistem cadangan, seperti yang dilakukan pada beras, maka bebannya ada pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). BerÂbeda dengan meÂkanisme subsidi. Subsidi hanya dikeluarkan untuk menutup selisih harga saja. [Harian Rakyat Merdeka]