Selain fokus pada penyaÂluran bahan bakar minyak (BBM) subsidi, PT Pertamina (Persero) juga siap dalam peÂngadaan stasiun pengisian listrik umum (SPLU) untuk mobil listrik.
Vice President Corporate CoÂmmunication Pertamina Ali MundÂakir mengatakan, keberaÂdaan SPLU tujuannya meyaÂkinÂkan masyarakat untuk mengÂgunakan mobil listrik.
“Kita menambah (SPLU lisÂtrik) biar masyarakat tertarik mengÂguÂnakan mobil listrik,†kata Ali.
Menurut dia, pengadaan alat tersebut bukan bermaksud unÂtuk menyaingi PLN sebagai penyedia listrik dan penggagas keberadaan SPLU. Electric Vehicle Charging Station yang dibuat justru untuk membantu PLN mensukseskan program tersebut.
“Kita membantu, kita siapÂkan di kantor pusat. Kita memÂbantu program mobil listrik,†cetus Ali.
Pertamina, lanjut dia, meÂmiÂliki infrastruktur yang meÂmadai untuk melaksanakan proÂgram tersebut seperti meÂmanÂfaatkan fasilitas yang sudah ada di Stasiun Pengisian BaÂhan Bakar Umum (SPBU). “Kita punya SPBU, lahan parÂkir, kenapa kiÂta tidak manÂfaatkan,†ujarnya.
Wakil Menteri Energi dan SumÂber Daya Mineral (ESDM) RuÂdi Rubiandini mengatakan, keÂberadaan SPLU sangat diduÂkung terutama di tempat parkir seÂperti gedung perkanÂtoran dan mall. Namun, harga listrikÂnya juga harus menjadi perhatian.
Menurut Rudi, SPLU sangat berguna bagi kehadiran mobil listrik. Kendati begitu, dia juga menggarisbawahi masalah harÂga listriknya yang akan diÂjual. Penjualan listrik di satu sisi harus murah, namun di sisi lain tidak boleh merugikan PLN.
“Tapi agar PLN tidak rugi perbedaan harganya dibebanÂkan ke pemerintah,†ujarnya.
Rudi menambahkan, karena harga listrik yang murah, maka dibuÂtuhkan subsidi untuk meÂnunÂjangnya. Untuk itu, harus ada perpindahan keberÂpihakan pada energi baru dan terbaÂrukan (EBT).
“Nanti pemerintah meminÂdahkan subsidi yang biasanya untuk BBM dialihkan ke mobil listrik,†tandasnya. [Harian Rakyat Merdeka]