.Belum selesai soal Upah Minimum Propinsi (UMP), pengusaha dipusingkan dengan rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL) pada awal Januari 2013. Dikhawatirkan bakal muncul gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di kalangan buruh.
Wakil Ketua Kamar Dagang Dan Industri (Kadin) DKI JaÂkarta Sarman Simanjorang menilai, keputusan pemerintah menaikkan TDL per tiga bulan mulai Januari 2013 dipastikan menghambat pertumbuhan ekoÂnomi.
“Dengan kenaikan TDL dan UMP serta mungkin masih ada tarif-tarif yang lain akan naik, akan memperlambat pertumbuÂhan ekonomi nasional,†ujarnya kepada Rakyat Merdeka di JaÂkarta, akhir pekan lalu.
Sarman menyebut beberapa sektor industri yang akan terÂpuÂkul dengan TDL. Antara lain, industri otomotif, elektronik, maÂkanan dan minuman, padat karya serta industri UKM (usaha kecil dan menengah).
Padahal, besaran UMP saja sudah memÂbebani biaÂya pengeluÂarÂan penguÂsaha hingga 44 persen. Jika tidak dikelola deÂngan baik, piÂhaknya mengkhaÂwatirkan munÂculÂnya gelombang pemutuÂsan hubungan kerja (PHK).
Dia menilai, kebijakan kenaiÂkan TDL yang dibuat KementeÂrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) itu menunjukÂkan buruknya koordinasi antarÂlemÂbaga pemerintahan. Pasalnya, ketika perekonomian ditarget tumbuh 6,5 persen, Kementerian ESDM malah membuat kebijaÂkan yang menghambat pertumÂbuhan ekonomi.
“Seharusnya pemerintah meÂningkatkan koordinasi antar keÂmenterian, sehingga kebijakan yang diambil tidak jalan sendiri-sendiri yang semuanya membeÂbani pelaku usaha dan mengÂhamÂbat pertumbuhan ekonomi,†tandasnya.
Ekonom Indef Ahmad Erani Yustika mengataÂkan, kenaikan TDL tahun depan akan menyuÂlitkan industri nasioÂnal. MenuÂrutnya, industri pengÂguna listrik akan terkena dampak dari keÂnaikan TDL. Akibatnya, akan mempengaruhi daya saing inÂdustri nasional.
“Kenaikan TDL akan berdamÂpak kepada leÂmahnya daya beli masyarakat. SeÂbagai perusahaan tentu akan melakukan penyesuian harga produk barang hasil inÂdustrinya karena cost produksi membengkak,†ujar ekonom dari Universitas Brawijaya ini.
Erani mengatakan, jika daya beli masyarakat lemah, maka akan menekan produk dalam negeri. Yang dikhawatirkan, masyarakat akan memilih barang impor, jika di pasaran harganya lebih murah daripada produk lokal.
“Pasar IndoÂnesia masih menjaÂdi pasar bebas bagi produk luar neÂgeri. Daya saing dengan proÂduk impor akan melemah. BaÂnyak produk impor yang hargaÂnya lebih muÂrah,†katanya.
Kondisi ini tentu akan mengÂuntungkan imporÂtir. Mereka tidak perlu pusing memikirkan proÂduksi, tapi harga barangnya lebih laku dijual.
Ekonom UGM Tony PrasetianÂtono memÂproyeksi, inflasi tahun 2013 bisa mencapai 6 persen deÂngan kenaikan TDL. “Dengan adanya kenaikan TDL, inflasi akan terdorong naik hingga 5 persen. Terlebih lagi apabila peÂmeÂrintah menaikkan harga BBM, maka inflasi akan meroÂket hingga 6 persen,†ujarnya.
Menurut Tony, dengan naiknya inflasi otomatis akan mengerek suku bunga acuan Bank IndoneÂsia (BI rate). “Dengan demikian BI rate diperkirakan naik 5,75-6 persen, tapi saya tidak khawatir perbankan kita akan goyah deÂngan suku bunga tinggi. PerÂbankan kita sudah lebih kuat, leÂbih bandel,†katanya.
Menteri PerinÂdustrian MS HiÂdaÂyat mengataÂkan, pelaku indusÂtri meminta agar kenaikan TDL sebesar 15 persen tidak dibebanÂkan seluruhÂnya ke sektor itu. “Semua industri menggunakan listrik, tapi keÂnaikÂan TDL dengan cara bertahap dan kenaikannya maksimal 15 persen saya rasa maÂsih bisa ditolerir,†ujarnya. [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: