Gara-gara Kenaikan Listrik Barang Impor Banjiri Pasar

Awas, Daya Saing Produk Lokal Anjlok & Gelombang PHK

Minggu, 30 Desember 2012, 08:33 WIB
Gara-gara Kenaikan Listrik Barang Impor Banjiri Pasar
ilustrasi/ist
Kecil Besar
rmol news logo .Belum selesai soal Upah Minimum Propinsi (UMP), pengusaha dipusingkan dengan rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL) pada awal Januari 2013. Dikhawatirkan bakal muncul gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di kalangan buruh.

Wakil Ketua Kamar Dagang Dan Industri (Kadin) DKI Ja­karta Sarman Simanjorang menilai, keputusan pemerintah menaikkan TDL per tiga bulan mulai Januari 2013 dipastikan menghambat pertumbuhan eko­nomi.

“Dengan kenaikan TDL dan UMP serta mungkin masih ada tarif-tarif yang lain akan naik, akan memperlambat pertumbu­han ekonomi nasional,” ujarnya kepada Rakyat Merdeka di Ja­karta, akhir pekan lalu.

Sarman menyebut beberapa sektor industri yang akan ter­pu­kul dengan TDL. Antara lain, industri otomotif, elektronik, ma­kanan dan minuman, padat karya serta industri UKM (usaha kecil dan menengah).

Padahal, besaran UMP saja sudah mem­bebani bia­ya pengelu­ar­an pengu­saha hingga 44 persen. Jika tidak dikelola de­ngan baik, pi­haknya mengkha­watirkan mun­cul­nya gelombang pemutu­san hubungan kerja (PHK).

Dia menilai, kebijakan kenai­kan TDL yang dibuat Kemente­rian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) itu menunjuk­kan buruknya koordinasi antar­lem­baga pemerintahan. Pasalnya, ketika perekonomian ditarget tumbuh 6,5 persen, Kementerian ESDM malah membuat kebija­kan yang menghambat pertum­buhan ekonomi.

“Seharusnya pemerintah me­ningkatkan koordinasi antar ke­menterian, sehingga kebijakan yang diambil tidak jalan sendiri-sendiri yang semuanya membe­bani pelaku usaha dan meng­ham­bat pertumbuhan ekonomi,” tandasnya.

Ekonom Indef Ahmad Erani Yustika mengata­kan, kenaikan TDL tahun depan akan menyu­litkan industri nasio­nal. Menu­rutnya, industri peng­guna listrik akan terkena dampak dari ke­naikan TDL. Akibatnya, akan mempengaruhi daya saing in­dustri nasional.

“Kenaikan TDL akan berdam­pak kepada le­mahnya daya beli masyarakat. Se­bagai perusahaan tentu akan melakukan penyesuian harga produk barang hasil in­dustrinya karena cost produksi membengkak,” ujar ekonom dari Universitas Brawijaya ini.

Erani mengatakan, jika daya beli masyarakat lemah, maka akan menekan produk dalam negeri. Yang dikhawatirkan, masyarakat akan memilih barang impor, jika di pasaran harganya lebih murah daripada produk lokal.

“Pasar Indo­nesia masih menja­di pasar bebas bagi produk luar ne­geri. Daya saing dengan pro­duk impor akan melemah. Ba­nyak produk impor yang harga­nya lebih mu­rah,” katanya.

Kondisi ini tentu­ akan meng­untungkan impor­tir. Mereka tidak perlu pusing memikirkan pro­duksi, tapi harga barangnya lebih laku dijual.

Ekonom UGM Tony Prasetian­tono mem­proyeksi, inflasi tahun 2013 bisa mencapai 6 persen de­ngan kenaikan TDL. “Dengan adanya kenaikan TDL, inflasi akan terdorong naik hingga 5 persen. Terlebih lagi apabila pe­me­rintah menaikkan harga BBM, maka inflasi akan mero­ket hingga 6 persen,” ujarnya.

Menurut Tony, dengan naiknya inflasi otomatis akan mengerek suku bunga acuan Bank Indone­sia (BI rate). “Dengan demikian BI rate diperkirakan naik 5,75-6 persen, tapi saya tidak khawatir perbankan kita akan goyah de­ngan suku bunga tinggi. Per­bankan kita sudah lebih kuat, le­bih bandel,” katanya.

Menteri Perin­dustrian MS Hi­da­yat mengata­kan, pelaku indus­tri meminta agar kenaikan TDL sebesar 15 persen tidak dibeban­kan seluruh­nya ke sektor itu. “Semua industri menggunakan listrik, tapi ke­naik­an TDL dengan cara bertahap dan kenaikannya maksimal 15 persen saya rasa ma­sih bisa ditolerir,” ujarnya. [Harian Rakyat Merdeka]

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA