Kenaikan TDL Imbas Leletnya Proyek 10.000 Mega Watt...?

Minggu, 30 Desember 2012, 08:06 WIB
Kenaikan TDL Imbas Leletnya Proyek 10.000 Mega Watt...?
ilustrasi/ist
Kecil Besar
rmol news logo Pemerintah akhirnya me­mastikan bahwa tarif listrik untuk golongan 1.300 volt ampere (Va) ke atas pada Januari 2013 dinaik­kan per tiga bulan (4,3 persen per bulan) de­ngan maksimal 15 per­sen selama setahun. Kenaikan tersebut perlu diantisipas karena akan menjadi beban bagi pengu­saha akibat kenaikan biaya pro­duksi yang diprediksi bisa men­capai 15 persen.

Industri yang paling ter­kena dampak dari kenaikan TDL di antaranya usaha yang ber­gerak di bidang katering, ritel, gar­men, ka­rena perusahaan ter­sebut ada­lah para pengguna listrik dan gas.

Ketua Ikatan Wanita Pengu­saha Indonesia (Iwapi) Nita Yudi menyatakan, kenaikan TDL akan memberatkan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Sebab, ka­lau TDL naik, pasti akan membe­bani biaya produksi. Im­basnya akan membuat biaya ting­gi dan harga jual barang juga tinggi.

“Bagaimana produk-produk kita mau bersaing dengan produk dari China. Barang me­reka yang masuk ke Indonesia se­makin ba­nyak dan harganya semakin mu­rah,” keluh Nita kepada Rakyat Merdeka, akhir pekan lalu.

Kata Nita, satu-satunya jalan adalah dengan memperpebaiki dan menambah infrastruktur. Se­perti pembangunan Pembang­kit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan jaringan listrik di setiap dae­rah, harus dipercepat.

Informasi yang di­terima Rakyat Merdeka, mun­cul­nya kenaikan TDL ini salah satu­nya dipicu ga­galnya proyek listrik 10.000 mega watt (MW). Semula program ini jadi andalan bagi pemerataan listrik di Tanah Air.

PT PLN mengungkapkan, sam­pai dengan akhir tahun 2012 rea­lisasi proyek 10.000 mega watt (MW) tahap pertama akan men­capai 64 persen atau 6.338 MW.

“Sampai dengan akhir tahun 2012 program 10.000 MW tahap per­tama akan tercapai 6.338 MW, atau 64 persen,” kata Direktur Utama PLN Nur Pamudji.

Diakui Nur, proyek itu me­mang terhambat pembangunan­nya ka­rena beberapa persoalan teknis se­perti peralatan yang ru­sak sebe­lum digunakan dan lain-lain. Kabar­nya, jika ada salah satu baut di proyek itu rusak ti­dak bisa lang­sung diganti karena baut tersebut diimpor dari China.

“Makanya kita akan evaluasi pada proyek 10.000 MW tahap kedua,” ujar Nur. [Harian Rakyat Merdeka]

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA