.Pemerintah menargetkan ketentuan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) dan harga penjualan pemerintah untuk kedelai akan kelar pada Januari 2013. Kepentingan petani masih dinomorduakan.
Menteri Perdagangan (MenÂdag) Gita Wirjawan mengÂatakan, saat ini pihaknya masih mengkaÂji meÂngenai besaran nilai HPP. NanÂtiÂnya, kebijakan tersebut akan keÂluar dalam bentuk InsÂtruksi PreÂsiden (Inpres).
“Ya 2013 diÂharapÂkan bisa seleÂsai dan keluar InpresÂnya. Untuk itu, dengan adanya HPP tersebut, maka petani kedeÂlai akan menÂdapat insentif dan lebih bekerja keras untuk meÂningÂkatkan proÂduksi,†ujar Gita kepada wartaÂwan di kantornya, kemarin.
Dia menjelaskan, penerapan harga pembelian kedelai ini akan melindungi petani agar harga koÂmoditi tidak anjlok saat proÂduksi melimpah. Sebab, komoÂdiÂtas keÂdelai menjadi fokus karena terÂmasuk salah satu komoÂditas yang didorong untuk swaÂsembada.
“Dengan penerapan harga pemÂbelian dan penjualan pemeÂrintah, pemerintah mengÂinginÂkan agar petani tidak merugi dan masÂyarakat yang membeli proÂduk tuÂrunan kedelai tidak keÂmaÂhalan,†jelas Gita.
Sebelumnya, Ketua Dewan KeÂdelai Nasional Benny Kusbini mengusulkan, HPP kedelai seÂbesar Rp 7.000 per kilo gram (kg). Dengan harga itu, diharapÂkan petani kedelai tertarik meÂngemÂbangkan lahan perÂtaÂnianÂnya.
Sekedar informasi, produksi nasional kedelai tahun ini tercatat sebanyak 783 ribu ton. Namun, jumlah tersebut ternyata belum menguntungkan petani. Justru yang terjadi malah sebaliknya, harganya tidak terkendali.
AkiÂbatnya, banyak petani berÂcocok tanam ke komoditas lain. Alhasil, banyak lahan kedelai berkurang dibandingkan tahun lalu. SeÂpanjang 2011, lahan keÂdelÂai terÂcatat 622 ribu hektare (ha), naÂmun di 2012 menyusut menjadi 566.693 ha.
Tahun ini, proÂduksi kedelai naÂsional hanya memenuhi 34,3 perÂsen dari kebutuhan nasional. Padahal, KeÂmenterian Pertanian dalam lapoÂran akhir tahunnya menyebutkan, produksi kedelai pada 2012 menÂcapai 783 ribu ton atau turun 7 persen dibanding tahun lalu.
Sementara Menteri Pertanian (Mentan) Suswono menjelaskan, penuruÂnan produksi ini disebabÂkan tingÂkat keinginan petani menaÂnam kedelai juga anjlok. Hal itu berÂkaitan dengan harga kedelai yang masih rendah.
“Dulu pada 1992, harga kedelai 1,5 kali dari harga beras. Jadi baÂnyak petani yang memilih meÂnanam kedelai,†kata Mentan.
Menurut Suswono, harga yang tinggi itu berdampak pada lahan tanam kedelai yang mencapai 1 juta ha. Sementara saat ini, InÂdoÂnesia hanya memiliki seÂkitar 700 ribu hektar.
Ironisnya, penurunan proÂduksi itu berbanding terbalik deÂngan kebutuhan kedelai. Tahun lalu kebutuhan kedelai menÂcapai 2,122 juta ton seÂdangkan tahun ini naik menjadi 2,283 juta ton.
Untuk mengantisipasi hal itu, Suswono meminta harus ada keÂbijakan yang dapat mendorong gairah petani menanam kedelai harus segera diputuskan. MisalÂnya penetapan HPP kedelai.
Pihaknya menargetkan tahun depan produksi kedelai nasional mencapai 1,5 juta ton atau dua kali lipat dari produksi pada 2012. Untuk mencapai target itu, piÂhakÂnya telah menyiapkan 500 ribu ha lahan baru Perum PerÂhuÂtani. Ia mencontohkan bebeÂrapa waktu lalu, Kementan telah memÂbuka lahan baru di Aceh Timur seluas 50 ribu ha.
Ekonom dari The Economic Inteligence Sunarsip Tuban meÂngatakan, selama ini pemerÂiÂntah tak pernah tegas dalam memÂbuat kebijakan. Sebut saja soal swaÂsembada kedelai. AkiÂbatnya, konÂsumen selalu terÂgantung deÂngan kedelai impor. [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: