Mendag Kok Terus Ulur Penentuan HPP Kedelai

Buntut Produksi Anjlok, Petani Makin Ogah Menanam

Sabtu, 29 Desember 2012, 08:20 WIB
Mendag Kok Terus Ulur Penentuan HPP Kedelai
ilustrasi, petani kedelai
Kecil Besar
rmol news logo .Pemerintah menargetkan ketentuan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) dan harga penjualan pemerintah untuk kedelai akan kelar pada Januari 2013. Kepentingan petani masih dinomorduakan.

Menteri Perdagangan (Men­dag) Gita Wirjawan meng­atakan, saat ini pihaknya masih mengka­ji me­ngenai besaran nilai HPP. Nan­ti­nya, kebijakan tersebut akan ke­luar dalam bentuk Ins­truksi Pre­siden (Inpres).

“Ya 2013 di­harap­kan bisa sele­sai dan keluar Inpres­nya. Untuk itu, dengan adanya HPP tersebut, maka petani kede­lai akan men­dapat insentif dan lebih bekerja keras untuk me­ning­katkan pro­duksi,” ujar Gita kepada warta­wan di kantornya, kemarin.

Dia menjelaskan, penerapan harga pembelian kedelai ini akan melindungi petani agar harga ko­moditi tidak anjlok saat pro­duksi melimpah. Sebab, komo­di­tas ke­delai menjadi fokus karena ter­masuk salah satu komo­ditas yang didorong untuk swa­sembada.

“Dengan penerapan harga pem­belian dan penjualan peme­rintah, pemerintah meng­ingin­kan agar petani tidak merugi dan mas­yarakat yang membeli pro­duk tu­runan kedelai tidak ke­ma­halan,” jelas Gita.

Sebelumnya, Ketua Dewan Ke­delai Nasional Benny Kusbini mengusulkan, HPP kedelai se­besar Rp 7.000 per kilo gram (kg). Dengan harga itu, diharap­kan petani kedelai tertarik me­ngem­bangkan lahan per­ta­nian­nya.

Sekedar informasi, produksi nasional kedelai tahun ini tercatat sebanyak 783 ribu ton. Namun, jumlah tersebut ternyata belum menguntungkan petani. Justru yang terjadi malah sebaliknya, harganya tidak terkendali.

Aki­batnya, banyak petani ber­cocok tanam ke komoditas lain. Alhasil, banyak lahan kedelai berkurang dibandingkan tahun lalu. Se­panjang 2011, lahan ke­del­ai ter­catat 622 ribu hektare (ha), na­mun di 2012 menyusut menjadi 566.693 ha.

Tahun ini, pro­duksi kedelai na­sional hanya memenuhi 34,3 per­sen dari kebutuhan nasional. Padahal, Ke­menterian Pertanian dalam lapo­ran akhir tahunnya menyebutkan, produksi kedelai pada 2012 men­capai 783 ribu ton atau turun 7 persen dibanding tahun lalu.

Sementara Menteri Pertanian (Mentan) Suswono menjelaskan, penuru­nan produksi ini disebab­kan ting­kat keinginan petani mena­nam kedelai juga anjlok. Hal itu ber­kaitan dengan harga kedelai yang masih rendah.

“Dulu pada 1992, harga kedelai 1,5 kali dari harga beras. Jadi ba­nyak petani yang memilih me­nanam kedelai,” kata Mentan.

Menurut Suswono, harga yang tinggi itu berdampak pada lahan tanam kedelai yang mencapai 1 juta ha. Sementara saat ini, In­do­nesia hanya memiliki se­kitar 700 ribu hektar.

Ironisnya, penurunan pro­duksi itu berbanding terbalik de­ngan kebutuhan kedelai. Tahun lalu kebutuhan kedelai men­capai 2,122 juta ton se­dangkan tahun ini naik menjadi 2,283 juta ton.

Untuk mengantisipasi hal itu, Suswono meminta harus ada ke­bijakan yang dapat mendorong gairah petani menanam kedelai harus segera diputuskan. Misal­nya penetapan HPP kedelai.

Pihaknya menargetkan tahun depan produksi kedelai nasional mencapai 1,5 juta ton atau dua kali lipat dari produksi pada 2012. Untuk mencapai target itu, pi­hak­nya telah menyiapkan 500 ribu ha lahan baru Perum Per­hu­tani. Ia mencontohkan bebe­rapa waktu lalu, Kementan telah mem­buka lahan baru di Aceh Timur seluas 50 ribu ha.

Ekonom dari The Economic Inteligence Sunarsip Tuban me­ngatakan, selama ini pemer­i­ntah tak pernah tegas dalam mem­buat kebijakan. Sebut saja soal swa­sembada kedelai. Aki­batnya, kon­sumen selalu ter­gantung de­ngan kedelai impor. [Harian Rakyat Merdeka]

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA