.Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) terus berupaya menjual aset Bank Mutiara seharga Rp 6,7 triliun sampai tahun 2013. PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP) mengaku tertarik mengambilalih bank yang dulu bernama Bank Century ini.
Ketua Dewan Komisioner LPS Heru Budiargo optimistis dapat menjual aset Bank Mutiara setara atau lebih dengan harga penyelaÂmatan Bank Century. Pasalnya, saat ini kondisi keuangan Bank Mutiara sudah sehat dan masuk dalam kategori status baik deÂngan aset sebanyak Rp 14 triliun.
Heru mengaku sudah ada 10 peminat yang menawar aset Bank Mutiara. Namun, ke-10 peÂminat belum lolos kualifiÂkasi yang diÂtetapkan LPS, seperti aspek reÂkam jejak dan komÂpeÂtensi peÂngelolaan bank dari setiap peÂminat.
Informasi di lanÂtai bursa meÂnyeÂbutkan, CMNP tengah menÂjajaki akuisisi PT Bank Mutiara Tbk (BCIC) senilai Rp 6,7 triliun. MaÂnuÂver tersebut sebagai bagian langÂkah strategis operator jalan tol ini untuk ekspansi bisnis di sektor finansial. Perseroan saat ini puÂnya dana kas sedikitnya Rp 1,1 triliun.
Menurut Dirut CMNP Jusuf Hamka, rencananya pihak maÂnajemen perseroan akan bertemu jajaran direksi dan koÂmisaris Bank Mutiara guna meÂnindakÂlanjuti penawaran non forÂmal yang disampaikan dua mingÂgu sebelumnya.
“Kami diÂunÂdang makan siang bersama seluruh jajaran direksi dan komiÂsaris Bank Mutiara. Mereka mau memÂpreÂsentasikan soal Bank Mutiara ke kami,†kata Hamka di Jakarta, Rabu malam (26/12).
Jusuf mengaku, pihaknya berÂminat atas Bank Mutiara, sepanÂjang segala masalah politiknya terÂkait warisan lama ketika berÂnama Bank Century, masalah deÂngan investor lama serta tuntuÂtan nasabah Antaboga sudah terÂseleÂsaikan.
Perusahaan yang sebagian saÂhamnya dimiliki Siti Hardiyanti Rukmana (Tutut) ini berÂharap mendapat keistimewaan (priviÂlege) dalam hal jangka wakÂtu pembayaran karena harga akuiÂsisi tidak bisa didiskon.
“Kami berminat akuisisi asal tiÂdak ada ongkos politiknya dan naÂsabah Antaboga yang tidak diÂbaÂyar oleh Bank Mutiara tidak maÂsuk dalam masalah ini. JaÂngan sampai nanti tiap hari kita diÂdeÂmo, kan pusing juga kalau meÂreka deÂmo di jalan tol,†kata Jusuf.
Jusuf menyadari, nilai akuisisi Bank Mutiara sebesar Rp 6,7 triÂliun bukanlah harga yang muÂrah karena mencapai empat kali dari nilai buku (price to book value).
Salah satu daya tarik Bank MuÂtiara adalah sejumlah aset kreÂdit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) yang berÂnilai strateÂgis bagi CMNP. Bank ini memiÂliki aset NPL berupa satu peruÂmahan seluas 200 hektar deÂngan 1.000 rumah di Serpong- BalaraÂja, dekat dengan proyek tol SerÂpong-Balaraja CMNP.
Pertimbangan lainnya, kata JuÂsuf, CMNP kerap kali ditawari banyak bank untuk menempatkan dana deposito. Dia beranggapan akan lebih baik apabila CMNP memiliki bank sendiri. “Dengan memiliki bank sendiri, perseroan bisa mengetahui ke mana dana depositonya diinvestasikan.â€
Direktur Keuangan CMNP InÂdrawan Sumantri menambahÂkan, CMNP memiliki dana kas Rp 1,1 triliun yang dipakai untuk akuiÂsisi. Bank Mutiara maÂyoritas saÂhamnya (99 persen) diÂmiliki oleh LPS. Sebab, pada 2008, ketika masih bernama Bank Century, bank ini mendaÂpat suntikan dana talangan senilai Rp 6,7 triliun.
Sebelumnya, beberapa investor dan perbankan siap mengamÂbilaÂlih bank yang dulu dimiliki RoÂbert Tantular ini. Antara lain, Bank Mandiri, BRI hingga inÂvestor Singapura Yawadwipa.
Kepala Eksekutif LPS Mirza Adityaswara mengatakan, masa peÂnawaran divestasi Bank MuÂtiara akan dibuka kembali tahun depan. Sedangkan Ketua Tim PenÂjualan Bank Mutiara Mirza Mochtar mengaÂtakan, proses peÂnjualan Mutiara akan diÂbuÂka lagi pada Januari 2013.
Pada perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) keÂmarin, saham CMNP ditutup pada level Rp 1.730 atau meleÂmah 6 persen. Sementara, saham BCIC sudah tidak aktif diperdaÂgangan sejak LPS mengambil alih Bank Century. [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: