.Pemerintah mestinya menÂdoÂrong usaha pemberantasan puÂngutan liar (pungli), bukan maÂlah membuat pesimis usaha terÂsebut. Sebab, hingga kini porsi beban pungli bagi setiap usaha atau inÂvesÂtasi sangat besar.
Pungli bahÂkan masih menjadi beban terÂsenÂdiri untuk sistem logistik dan transportasi barang nasioÂnal. Hal itu telah memicu tinggi biaÂya loÂgistik yang harus diÂtanggung duÂnia usaha.
Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia BiÂdang Logistik Natsir ManÂsyur menjelaskan, pungli terÂbesar daÂtang dari para birokrat seperti perÂizinan atau regulasi di pusat atau daerah. Tindakan itu sangat memÂberatÂkan bahkan tidak teruÂkur.
“Pungli, ada yang bisa diuÂkur, regulasi yang dijalankan oleh birokrasi yang bisa ngaco. Dari Surabaya ke Jakarta bisa dihiÂtung berapa pos, yang nggak bisa diÂhitung regulasi-regulasi yang ngaco,†jelas Natsir, kemarin.
Sebelumnya, Menteri PerekoÂnoÂmian Hatta Rajasa pun menÂdesak agar lembaga penegak huÂkum bisa menekan dan membeÂrantas praktik tersebut. Pada rapat koordinasi Rabu (26/12), Hatta menjelaskan masalah pungli juga dibahas oleh Kadin dalam rakor.
“Pungli tadi diangkat kawan-kawan dari Kadin. Ada ongkos yang fix dan ongkos yang tidak keÂlihatan. Ini yang memÂberatkan, ini harus diberantas. Dan ini (raÂnah) penegakan huÂkum,†ujar Hatta.
Namun, Hatta juga tidak yakin bila tahun 2013, masalah pungli di Indonesia daÂpat sepenuhnya diberantas. “KaÂlau saya mengaÂtakan itu langsung hilang, itu sih terlalu optimis. Ya nggak mungÂkin lah,†jelasnya.
Direktur Eksekutif Budi SanÂtoso Foundation (BSF) Adi EkoÂpriyono mengatakan, baÂnyaknya biaya tidak resmi yang dikeÂluarÂkan oleh investor di Jawa Tengah (Jateng) terutama untuk biaya uruÂsan perÂizinan, pengamanan di lingkuÂngan usaha, biaya inspeksi dan surat-surat administratif di keÂcamatan.
“Biaya tidak resmi atau pungli masih menjadi faktor yang perlu menÂdapatkan perhatian khÂusus bagi pengembangan inÂvesÂtasi di JaÂteng,†tutur Adi.
Hasil Survei Investasi 2012 juÂga mendapati permasalahan inÂfrastruktur masih tetap menjadi kendala utama masuknya inÂvesÂtasi ke Jateng. [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: