Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan renegosiasi dan pembelian
PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) dengan Jepang selesai November 2013, meski Negeri Matahari Terbit itu ngotot minta jatah 30 persen dalam pengelolaannya.
“Kita akan bayar Inalum NoÂvemÂber 2013 sesuai perjanjian deÂngan Jepang,†kata Sekjen KeÂmenperin Anshari Bukhari keÂpada Rakyat Merdeka, kemarin.
Namun, dia mengaku hingga kini belum mencapai kata sepakat berapa harga yang harus dibayar pemerintah untuk mengambil Inalum dari Jepang.
Padahal, menurut Anshari, peÂmerintah sudah melakukan audit terhadap aset Inalum meÂlalui tim independen untuk meÂngetahui berapa duit yang harus dikuÂcurÂkan dalam pengamÂbilalihan itu.
Tapi sayangnya, hingga kini peÂrusahaan Jepang itu belum mau meÂnerimanya dan masih berpaÂtoÂkan pada laporan keuangan meÂreÂka selama ini. “Ini yang harus diÂseÂlesaikan tim negosiasi,†ujarnya.
Anshari mengakui, Pemerintah Jepang masih berminat memÂperpanjang pengelolaan Inalum. Tapi, pemerintah tetap komit unÂtuk mengambilalih. Menurut dia, pengambilalihan Inalum untuk memperkuat inÂdustri dalam neÂgeri, terutama meÂngurangi impor alumina. Apalagi cadangan boukÂÂsitnya tinggi.
Terkait terjadinya perÂbedaan mengenai siapa nanti yang akan mengelola Inalum, AnÂshari meÂnyerahkan sepenuhÂnya kepada pemerintah apakah meÂlalui Pusat Investasi PemeÂrintah (PIP) atau melalui Badan Usaha Milik NeÂgara (BUMN).
Ia mengaku DPR kurang setuju jika Inalum dibeli melalui PIP. AlaÂsannya, karena tidak sesuai dengan tujuan didirikannya PIP.
“Kami ditugaskan pemerintah untuk melakukan negosiasi agar Inalum bisa kembali ke tangan Indonesia,†jelasnya.
Untuk diketahui, kontrak JeÂpang dalam pengelolaan Inalum haÂbis. Kepemilikan Inalum saat ini terÂbagi antara pemerintah InÂdonesia 41,12 persen dengan konÂÂsorsium swasta-Pemerintah JeÂpang yang tergabung dalam NipÂpon Asahan Alumunium 58,88 persen.
Ketua Otorita Asahan Effendi Sirait mengatakan, pasca berÂakÂhirnya kerja sama antara InaÂlum dengan Nippon Asahan AluÂmiÂnium (NAA) pada 2013, Jepang masih berambisi membeli 30 persen saham perusahaan yang berbasis di Sumatera Utara itu.
“Jepang masih berambisi bisa menjadi bagian dari peÂmegang saham Inalum lagi,†ujar Effendi.
Effendi menambahkan, sebaÂgai pemegang saham mayoritas, otomatis yang menjadi keinginÂan Jepang harus diikuti. Jepang meÂminta agar kerja sama yang diÂmulai sejak 1975 tetap dilanÂjutÂkan. “Tapi pemerintah tegasÂkan tidak dilanjutkan kerja saÂmaÂnya,†tandasnya.
Menko Perekonomian Hatta RaÂjasa menegaskan, pemerintah belum dapat menerima permoÂhoÂnan keikutsertaan pemerintah daeÂrah dalam pengelolaan InaÂlum. Namun, Hatta tetap memÂbeÂrikan harapan, dengan meÂmungÂkinkan Pemerintah Daerah di SuÂmatera Utara mendapatkan porsi cukup besar setelah Inalum seÂpenuhnya dikuasai pemerintah.
“Kita bukan tidak memahami permintaan daerah. Tapi sekarang yang terpenting bagaimana di 2013 Inalum sepenuhnya milik kita. Saya pikir kita tidak perlu gontok-gontokan soal itu. Kita sendiri tidak perlu ribut karena masih ada pihak luar yang harus kita hadapi,†tegasnya.
Sebelumnya, Badan Anggaran DPR menyetujui tambahan angÂgaran pembelian Inalum dalam Anggaran Pendapatan dan BeÂlanja Negara (APBN) 2013. AngÂgaran untuk membeli Inalum diÂperkirakan Rp 7 triliun.
“Jumlah anggaran yang dialoÂkasikan di APBN 2013 Rp 5 triÂliun, tahun ini Rp 2 triliun. Jadi total Rp 7 triliun yang diperÂsiapÂkan,†kata Menteri Keuangan Agus Martowardojo.
Menurut Agus, dana Rp 2 triÂliun untuk pengambilalihan InaÂlum tersebut telah disetujui KoÂmisi XI DPR. Selain itu, untuk pengambilalihan Inalum di tahun depan, Agus tidak akan mengÂguÂnakan Pusat Investasi PemeÂrintah (PIP), tapi akan langsung melalui pemerintah sendiri. [Harian Rakyat Merdeka]