.PT Pertamina (Persero) mengklaim ada pihak yang tidak suka dengan rencana perusahaan pelat merah itu membangun kilang minyak baru.
“Tidak semua pihak happy (senang) dengan pembangunan proyek ini,†ujar Vice President Corporate Communication PertaÂmina Ali Mundakir, Jumat (21/12).
Padahal, menurut dia, memÂbaÂngun kilang baru sangat penÂting untuk memenuhi kebuÂtuhan miÂnyak dalam negeri yang selaÂma ini kekurangan dan masih diÂpeÂnuhi oleh impor. Selain itu, kiÂlang juga dimaksudkan untuk meÂmeÂnuhi kebutuhan bahan baÂku inÂdustri petrokimia.
“Kilang yang ada saat ini sudah tua dan desainnya untuk minyak campur alias gado-gado sehingga hasilnya tidak makÂsimal. MesÂtinya kilang itu fokus pada bahan jenis tertentu agar hasilnya makÂsimal,†terang Ali.
Dikatakan, yang perlu diperÂhaÂtiÂkan dalam pembangunan kiÂlang adalah jaÂminan pasokan minyak. “PaÂsoÂkannya harus konÂsisten. Kilang itu tidak seperti inÂdustri baju, yang bisa mengambil bahan baÂkunya dari mana saja. Kalau kiÂlang miÂnyaknya gado-gado, haÂsilnya tiÂdak akan makÂsimal,†jelas Ali.
Apalagi, lanjutnya, indeks komÂpleksitas kilang Indonesia rata-rata masih di bawah 5. Padahal, kilang di Singapura inÂdeks komÂpleksitasnya 7.
Ali menerangkan, kendala lain dalam pembangunan kilang adaÂlah marginnya yang sangat kecil. Karena itu, tujuan utama PerÂtaÂmina membangun kilang untuk menjamin ketahanan energi.
“Saat ini, kita masih impor 300 sampai 400 ribu barel per hari unÂtuk memenuhi kebutuhan domesÂtik. Karena itu, jika kilang di neÂgara-negara langganan kita beli sedang batuk atau bermasalah, akan langsung berpengaruh terÂhadap Indonesia,†terangnya.
Menurutnya, negara-negara lain sangat serius mendukung pemÂbangunan kilang, salah satuÂnya dengan memberikan insentif. ConÂÂtohnya Arab Saudi yang memÂÂberikan insentif dalam benÂtuk diskon crude-nya. Bahkan di Malaysia saja jika ada perusÂahaan luar negeri yang mau bisnis atau jualan BBM di negaranya, dihaÂruskan membangun kilang.
“Tapi Indonesia yang terkenal sebagai bangsa ramah dengan investor ramah, siapapun bisa jualan BBM tanpa harus bangun kilang. Seharusnya mereka diÂwaÂjibkan bangun kilang, sehingga ketika mereka keluar kilangnya jadi milik kita,†ucapnya.
Ali mengatakan, seharusnya pemerintah lebih mengutamakan kepentiÂngan nasional karena keÂtahanan BBM kita hanya 20 hari dan sepenuhnya menggunakan uang Pertamina hampir Rp 26 triliun. Sedangkan Korea Selatan dan JeÂpang cadangan BBM naÂsionalnya mencapai 90 hari.
Anggaran yang dibutuhkan untuk membangun kilang dengan kapasitas 100 ribu barel sebesar 2-4 miliar dolar AS. Sedangkan untuk kapasitas 200 ribu barel membutuhkan 8 miliar dolar AS.
Karena itu, Pertamina terus meÂngupayakan pembangunan kiÂlang baru bekerja sama dengan Saudi Aramco dan Kuwait PeÂtroÂleum International (KPI) dengan kapasitas rata-rata 300 ribu barel per hari. Dengan adaÂnya kilang baru, perseroan meÂnargetkan meÂnguasai pasar peÂtrokimia naÂsioÂnal hingga 80 persen pada 2025 dan 30 persen pada 2017.
Dirjen Basis Industri ManuÂfaktur Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Panggah Susanto mengatakan, saat ini impor di sektor migas dan petrokimia saÂngat besar, yaitu mencapai 32 miliar dolar AS. Ditambah keÂmampuan produksi minyak daÂlam negeri sudah menurun.
Dia berharap, dengan dibaÂngunÂÂnya tiga kilang minyak baru berkapasitas masing-masing 300 ribu barel per hari yang terinÂtegÂrasi dengan industri petrokimia, akan mengurangi impor BBM dan menjadikan Indonesia net eksportir untuk produk-produk petrokimia.
“Saat ini integrasi dan sinergi antara kilang minyak dan industri petrokimia masih belum berjalan dengan baik,†kata Panggah. [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: