Salah satu yang bisa dijadikan contoh adalah Korean Pop (K-Pop). Ternyata K-Pop sudah dirancang 15 Tahun lalu oleh pemerintah Korea Selatan. Ini dilakukan untuk mengimbangi budaya Jepang dan China.
Hal itu diungkapkan oleh Anggota Komisi VI DPR RI Emil Abeng terkait marketing untuk meningkatkan daya saing era perdagangan bebas. Paparan ini mengulangi pernyataannya yang disampaikan dalam
The Indonesia Marketing Day Forum yang digelar beberapa waktu lalu.
"Daya saing kita di era ACFTA, AFTA dan perjanjian-perjanjian perdagangan bebas sungguh mengerikan. Bangsa kita masuk ke dalam suatu perjanjian yang kita belum siap. Sebelum berbicara lebih jauh soal daya saing dan marketing, ada beberapa hal yang harus diperkuat yaitu kebijakan pemerintah tentang produk-produk unggulan. Apa produk unggulan kita? Baru bicara daya saing" tegas Emil Abeng dalam keterangannya kepada redaksi, petang ini (Jumat, 21/12).
Yang kedua, lanjut Emil Abeng, infrastruktur kita untuk efisiensi pelaku bisnis sangat lemah. Jika kedua hal tersebut sudah dibenahi pemerintah, kita bisa mengatakan marketing dan daya saing.
Anggota Komisi VI DPR ini memberikan contoh bagaimana K-Pop menjadi kontributor ketiga penyumbang devisa ke negaranya. Ini namanya K-Pop bukan hanya jadi baru-baru ini. Emil mengungkapkan rahasia yang disampaikan mantan Menteri Pariwisata Korea saat bertemu dirinya dua bulan yang lalu. Menurut Emil, sang mantan Menteri Pariwisata Korea mengatakan bahwa Wabah K-Pop didesain sejak 15 tahun yang lalu. Saat itu, kata Emil, sang mantan menteri masih saat itu menjabat Menteri Pariwisata Korea.
"Itu perempuan-perempuan cantik dan laki-laki ganteng Korea, dididik nyanyi yang benar, pemerintah siapkan infrastrukturnya, dijamin sekolah dan penghidupannya. Padahal penyanyi,
boys band dan
girls band itu anak-anak desa di Korea," ungkapnya.
Kaitannya dengan daya saing, lanjut Emil, kita mempunyai
competitive advantage, sumber daya alam,
a very unique consumer market. "Seharusnya kita mampu menjadi pemain utama di era perdagangan bebas ini. Kenyataannya, dari 240 juta penduduk, mencari 11 pemain bola saja tidak bisa," papar Emil Abeng lagi.
[arp]
BERITA TERKAIT: