.Developer atau pengembang dan perbankan sudah resah dengan kinerja Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Djan Faridz. Program perumahan dinilai jalan di tempat. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) diminta segera menyikapi mandeknya program perumahan.
Tuntutan itu dikatakan Ketua Umum Asosiasi Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Eddy Ganefo dalam disÂkusi bertajuk MenÂdorong PerÂcepatan Penyaluran Kredit PeÂmilikan Rumah FaÂsiÂliÂtas LikuiÂditas Pembiayaan PeÂruÂmahan (KPR-FLPP) di Bogor.
“Presiden SBY harus segera memberikan statement meÂnyiÂkapi masalah perumahan yang dinilai masih jalan di tempat,†kata Eddy yang mengaku tidak puas deÂngan kinerja Menpera.
Apersi mencontohkan, rumah murah seharga Rp 45 juta per unit yang dicanangkan Menpera di deÂpan Presiden SBY, tidak jaÂlan. Program rumah susun sewa (ruÂsunawa) juga mandek.
“Yang ada malah rumah seÂharÂga Rp 85-95 juta yang ditawarÂkan ke masyarakat berpenghaÂsilan renÂdah (MBR) di Bumi PaÂrung PanÂjang, Bogor. Ditambah, tidak terÂcapainya target KPR FLPP tahun ini. Artinya, MenÂpera gagal mereaÂlisasikan progÂram rumah murah untuk rakyat kecil,†sentil Eddy.
Begitu juga dengan MemoÂranÂdum of Understanding (MoU) Menpera dengan sejumlah PeÂmerintah Daerah (Pemda), lanjut Eddy, tidak ada yang jalan.
“SeÂmua MoU yang diteken haÂnya pepesan kosong, demi pencitraan semata,†kritiknya.
“Pengembang sudah membeÂrikan masukan ke pemerintah. NaÂmun sayangnya, Pak Djan nggak pernah mendengarkan, malah jalan sendiri tanpa ada reaÂlisasi. AkiÂbatnya, program peÂruÂmahan jadi galau begini,†curhat Eddy.
Meski begitu, Apersi tetap berÂkomitmen untuk memenuhi keÂbutuhan rumah bagi rakyat keÂcil dengan bea murah maupun koÂmersil.
“Sumber pembiayaan akan kiÂta cari agar rakyat bisa membeli rumah. Tahun depan, kami tarÂgetkan sebanyak 100 ribu unit rumah, termasuk huniÂan koÂmerÂsial. Angka itu naik seÂkitar 25 persen jika dibandingÂkan peÂriode sebelumnya,†ujarnya.
Dia juga bilang, Apersi menÂduÂkung adaÂnya wacana reshuffle kaÂbinet. “Kabinet harus diisi oleh orang-orang yang memiliki inÂtegÂritas, memahami bidangnya dan bisa berkoordinasi baik deÂngan para mitranya,†saran Eddy.
Ketua Umum Dewan PimÂpiÂnan Pusat Real Estate Indonesia (DPP REI) Setyo Maharso seÂpenÂdapat dengan Apersi. Dia menyindir MenÂpera jangan hanya berÂpikir proÂyek saja. Tapi bagaiÂmana menÂÂÂÂjaÂlankan regulasi peÂruÂmaÂhan deÂngan baik dan tepat sasaran.
“Gebrakan Menpera dengan menteri dulu berbeda jauh. Dulu, pengembang, perbankan dan peÂmerintah kompak saling menÂduÂkung dan berkoordinasi dalam memenuhi kebutuhan rumah baÂgi rakyat. Sekarang, pemeÂrintah jaÂlan sendiri,†kritik Setyo.
REI mengingatkan pemerinÂtah untuk lebih fokus menjaÂlankan program perumahan dan berÂkoordinasi dengan pengemÂbang dan perÂbanÂkan.
“Jika data Badan Pusat StaÂtisÂtik (BPS) tentang angka backlog huÂÂnian sebanyak 13,6 juta itu beÂnar, maka republik ini dalam keÂadaan siaga dua. Presiden SBY harus segera menyikapi masalah itu dengan cepat,†imbau Setyo.
Direktur Utama Bank Bank TaÂbungan Negara (BTN) Iqbal LaÂtanro mengusulkan, staf khuÂsus di Kemenpera sebaiknya diisi kalangan pengembang, yang meÂmiliki ilmu tentang peruÂmaÂhan. Dengan begitu, program peÂruÂmahan bisa berjalan baik.
“Saat ini, pemerintah sedang mengaÂlaÂmi disorientasi di biÂdang peruÂmaÂhan. Kami ragu tarÂget 350 ribu unit rumah yang diÂtargetkan tahun depan bisa diÂrealisasikan,†ujar Iqbal pesimis.
Deputi BiÂdang Pembiayaan Kemenpera Sri HarÂtoyo menyaÂtakan menghormati semua kriÂtik maupun masukan soal kiÂnerÂjaÂnya. Ia berharap, kerja sama deÂÂngan pengembang dan perÂbanÂkan bisa lebih ditingkatkan ke depan.
“Makanya, kita dorong peÂngemÂbang menjadi suplai rumah karena ketersediaan unit rumah menÂjadi kendala minimnya peÂnyeÂrapan FLPP,†katanya.
Sri mengakui, ada beberapa program Kemenpera yang masih mandek. Salah satuÂnya, program kredit pemilikan rumah yang disalurkan FLLP belum mengaÂlami kemajuan yang signifikan.
â€Tahun ini, realisasi target peÂnyaÂluran jauh dari harapan. Dari tarÂget 132.500 unit rumah tapak, baru terealisasi sekitar 44 persen atau sebanyak 59.107 unit. SeÂdangÂkan untuk rumah susun dari target 500 hanya terealisasi 5 unit atau 1 persen. Ini dikareÂnakan baÂnyak faktor terkait hal itu,†beber Sri. [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: