.Pemerintah tampaknya mulai pusing dengan kenaikan harga daging yang makin liar dan tidak bisa dikendalikan. Kementerian Perdagangan (Kemendag) meminta masyarakat memaklumi dan menerima kenaikan harga tersebut.
Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Bayu Krisnamurthi mengatakan, sejauh ini pasokan daging di wilayah Jabodetabek yang sempat mengalami keÂlangkaan terpantau aman.
Dia berharap, masyarakat meÂmaklumi jika harga daging sapi mengalami lonjakan di akhir taÂhun ini. Sebab, diproyeksikan perÂmintaan akan sangat tinggi. Tapi yang terpenting adalah tidak terjadi kelangkaan.
“Terkait pasokan daging, harÂganya memang bergerak naik, tapi dari komitmen teman-teman (Kementerian) Pertanian dan peÂrusahaan penggemukan sapi, jumlahnya akan mencukupi,†ujar Bayu di Jakarta, kemarin.
Kendati begitu, dia mengaku belum bisa memberi gambaran kiÂsaran harga daging sapi di akhir tahun. Menurut data Badan PuÂsat Statistik (BPS), harga daÂging sapi sampai akhir NovemÂber rata-rata Rp 87.800 per kilogram (kg).
Dari informasi yang diterima KeÂmendag, Kementerian PertaÂnian (Kementan) bulan lalu sudah mengirim tambahan sapi hingga 5.000 ekor untuk priÂoriÂtas DKI JaÂkarta jelang Natal dan Tahun Baru.
Jadi, kata Bayu, tidak perlu lagi ada tambahan pasokan daging untuk wilayah Jakarta kaÂrena seÂlain belum terlihat ada poÂtensi kelangkaan, secara teknis keÂdaÂtangannya juga akan terÂlamÂbat.
“Kalau mau datangkan daÂging, misalnya dari Lampung harus diÂkirim ke pelabuhan dan untuk ke pasar perlu waktu seÂkitar 3 samÂpai 4 hari dan itu suÂdah Natal, terlambat,†tandasnya.
Ketua Asosiasi Pedagang DaÂging Indonesia (APDI) Asnawi mengatakan, krisis harga daging sapi belum usai. Dia mempreÂdikÂsi, menjelang akhir tahun, harÂga daging sapi berpotensi melonjak menjadi Rp 100.000-Rp 110.000 per kg.
Penyebabnya, menurut AsnaÂwi, kaÂrena permintaan naik saat Natal dan Tahun Baru 2013. NaÂmun, di sisi lain pasokan daging sapi maÂsih minim. Padahal, harÂga daging sapi sudah cukup tingÂgi dan tak kunjung turun dalam sebulan terÂakhir.
“Pemerintah berjanji meÂnamÂbah pasokan sapi dari Nusa TengÂgara Barat. Tapi sampai sekarang belum berdampak meÂnurunkan harga,†kata Asnawi.
Berdasarkan data APDI, harga daging sapi di Jabodetabek saat ini Rp 90.000-Rp 95.000 per kg. Harga ini telah berÂtahan dalam sebulan terakhir. Saat ini, pedaÂgang membeli daging dari pengÂgemukan sapi impor berkisar Rp 68.000 hingga Rp 70.000 per kg. Harga daging sapi lokal sekitar Rp 70.000 - Rp 72.000 per kg.
Untuk diketahui, kebutuhan sapi potong di Jabodetabek menÂcapai 2.500 ekor setiap hari. MenÂdÂekati hari besar keagaÂmaan, keÂbutuhan itu meÂlonÂjak hingÂga 3.000 ekor per hari.
Tingginya harga ini mengÂakiÂbatkan banyak pedagang terÂpaksa menghentikan usaha. AsÂnawi mencatat, dari 12.000 peÂdaÂgang daging anggota APDI di JaboÂdetabek yang saat ini maÂsih berÂÂtahan berjualan sekiÂtar 60-70 persen.
Anggota Komisi IV DPR Ma’mur Hasanuddin mengaÂtaÂkan, kenaikan harga daging yang diakibatkan kelangkaan dan peÂnyelewengan menunjukkan ada sebagian pihak yang tidak senang dengan rencana pemeÂrintah meÂngendalikan impor sapi. Bahkan, salah satunya dengan memainkan isu bakso dengan daging babi.
“Pemerintah harus fokus meÂnekan importasi daging sapi. Tidak boleh terpengaruh pada isu-isu yang mengalihkan target swasembada sapi. Masa transisi selalu menghadirkan adaptasi, seperti kelangkaan. Namun jika dipersiapkan dengan baik oleh pemerintah dan seluruh stakeÂholder, maka produksi sapi nasioÂnal akan meningkat,†katanya.
Berdasarkan data Asosiasi PeÂdagang Mie dan Bakso (ApÂmiso) Indonesia, jumlah pedagang bakÂso saat ini mencapai 50 ribu orang. Kebutuhan daging untuk pemÂbuatan bakso khusus di JaÂkarÂta saja mencapai 12 ton per hari. Jika per tahun mencapai 4.130 ton. Namun jika kuota tidak terpenuhi, pedagang banyak menggunakan sapi lokal dengan bantuan dari Kementerian PerinÂdustrian.
Dia menduga, sejak peÂmeÂrintah berusaha menekan angka importasi sapi di 2012, bermunÂculan isu-isu kelangkaan dan peÂnyelewengan produk olahÂan daÂging sapi. [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: