Berdasarkan pantauan RakÂyat Merdeka, kelangkaan atau terlambatnya BBM subsidi masih terjadi di pom bensin yang ada di kawasan Ciputat, Lebak Bulus dan Depok. Petugas pom meÂngaku itu disebabkan keteÂrÂlamÂbatan pengiriman dari Pertamina.
Vice President Corporate ComÂmunication Pertamina Ali MunÂdakir mengaku pihaknya sudah tidak melakukan pembatasan kuoÂta lagi. Karena itu, seharusnya sudah tidak ada lagi kelangkaan premium di pom bensin.
“Sudah tidak dibatasi lagi peÂnyalurannya. Pemerintah juga suÂdah setujui tambahan 1,2 juta kiloliter,†katanya kepada Rakyat Merdeka, usai diskusi Proyeksi Industri Petrokimia 2013, Jumat (14/12).
Namun, ia mengakui, untuk meÂngembalikan ke kondisi norÂmal dari pembatasan kuota BBM subsidi yang lalu memerlukan wakÂtu. Tapi, bisa saja kelangkaan itu karena ada kendala dalam peÂngiriman.
Keterlambatan pengiriman itu tergantung kondisi tempat pom bensin. Pihaknya bisa melihat kaÂpan pom bensin pesan dan jam beÂrapa pasokan dikirim. “Kalau ada permintaan, biasanya peruÂsaÂhaan langsung kirim,†jelas Ali.
Untuk Jakarta, kata dia, biaÂsaÂnya jika ada permintaan pengiÂriman BBM subsidi pagi hari, sorenya langsung dikirim. MeÂnuÂrutnya, jika hanya satu atau dua pom bensin yang mengalami kelangkaan BBM subsidi itu hal yang wajar.
“Itu normal saja, jika terlambat karena kondisi jalan dan itu bukan karena kekurangan stok,†ujarnya.
Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Eri PurÂnoÂmoÂhaÂdi mengatakan, kelangkaan pasokÂan BBM subsidi di bebeÂraÂpa pom bensin disebabkan terÂjaÂdiÂnya paÂnic buying oleh masÂyarakat.
“Akibat pembatasan kuota keÂmarin masyarakat jadi panik, seÂhingga mereka meningkatkan pemÂbelian BBM. Apalagi berita habisnya kuota BBM juga memÂbuat panik,†katanya kepada RakÂyat Merdeka.
Menurut dia, hal itu bisa dilihat adanya lonjakan permintaan BBM subsidi. Alhasil, banyak pom bensin yang stoknya cepat habis. Eri juga mengaku pengiÂriman dari PerÂtamina sering meÂngalami keterÂlambatan.
Ditambah armada perusahaan minyak pelat merah itu terbatas. Kondisi ini tentu harus diperÂhaÂtikan Pertamina karena seÂbentar lagi memasuki musim libur Natal dan Tahun Baru.
Keterlambatan pengiriman itu, menurut Eri, sangat merugikan pengusaha pom bensin karena haÂrus libur jualan dan berdampak pada penerimaan keuntungan. Sedangkan Pertamina tidak memÂÂberikan kompensasi.
“Padahal kita harus bayar di muka buat pengiriman BBM subÂÂsidi. Kurang sedikit saja tiÂdak dikirim,†curhat Eri.
Pengurus Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengatakan, keÂlangkaan bensin di SPBU sangat merugikan dan menyulitkan masyarakat.
“Harusnya dengan sudah diÂtambahnya kuota BBM subsidi tidak ada lagi kelangkaan. DPR harus pertanyakan itu,†katanya.
Tulus mengatakan, kelangkaÂan dan keterlambatan ini sama saja dengan menaikkan harga benÂsin secara terselubung karena maÂsyaÂrakat dipaksa untuk memÂbeli benÂsin non subsidi.
Kepala Badan Kebijakan FisÂkal Kementerian Keuangan BamÂbang Brojonegoro meminta KeÂmenÂteÂrian Energi Sumber Daya MiÂneral (ESDM) melakukan pemÂbatasan BBM bersubsidi secara serius taÂhun depan. Hal ini guna menekan anggaran untuk subsidi BBM yang terus meningkat.
Dia mengatakan, selain keÂbiÂjakan fiskal, diperlukan juga keÂbijakan energi guna menekan angÂgaran subsidi BBM agar tidak bobol atau melebihi jatahnya yang mencapai Rp 200 triliun.
Bambang menegaskan, KeÂmenterian ESDM bisa melaÂkuÂkan dua kebijakan energi. PertaÂma, diversifikasi energi dari BBM ke gas. Kedua, perlunya pemÂbatasan penggunaan BBM subÂsidi secara serius sehingga masÂyarakat benar-benar patuh terÂhadap aturan tersebut. [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: