.Kementerian Pertanian (Kementan) dan Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) saling lempar tanggung jawab. Keduanya tidak mau disalahkan soal kebijakan impor beras. Wakil Menteri Pertanian (WaÂmentan) Rusman Heriawan meÂngatakan, impor beras dilakukan karena manajeman stok Bulog tidak jalan.
“Impor yang dilakukan bukan karena produksi beras nasional merosot. Justru sebaliknya, tahun ini produksi beras nasional mengÂalami kenaikan 4,9 persen jika dibanding tahun sebelumnya,†katanya di Jakarta, kemarin.
Rusman mengaku produksi samÂpai akhir tahun diperkirakan 38 juta ton beras, sedangkan keÂbuÂÂtuhan hanya 33 juta ton. Jadi maÂsih ada surplus sekitar 5 juta ton.
Namun yang jadi masalah, meÂnurut dia, ada waktu-waktu di mana tidak panen sehingga stok pada bulan tertentu mengalami penurunan. Rusman mengatakan, mestinya Bulog sudah mengÂanÂtisipasi bergesernya musim taÂnam yang berdampak pada peruÂbahan waktu panen.
Dia menekankan, perlunya langÂkah cerdas dalam manajemen stok, sehingga stok beras yang ada di Bulog setiap saat ada dan mampu memenuhi kebutuhan terÂutama dalam penyaluran rasÂkin. Karena itu, Kementan bisa meÂmahami opsi yang diajukan BuÂlog berupa impor beras sekitar 700 ribu ton.
Dirut Perum Bulog Sutarto AliÂmoeso menegaskan, impor beras merupakan kebijakan dari pemeÂrintah pusat untuk menjaga cadaÂngan beras. Bahkan, pihakÂnya siap menghadapi audit keÂbiÂjakan impor beras 2012 oleh BaÂdan PeÂmeriksa Keuangan (BPK).
Menurut dia, Bulog meÂnyamÂbut baik langkah BPK yang akan melakukan audit kebijakan imÂpor beras dan diharapkan hasilÂnya biÂsa memberikan masukan dan perÂbaikan bagi pemerintah dan BuÂlog dalam melakukan impor beÂras tahun depan ataupun swaÂsembada pangan.
“Kebijakan impor beras adalah kebijakan pemerintah. Keputusan BPK mengaudit kebijakan impor beÂras adalah keinginan BPK meÂlihat seberapa jauh kebijakan itu berjalan, jadi kami sambut baik,†kata Sutarto.
Untuk diketahui, BPK akan meÂlakukan inistiatif mengaudit kebijakan impor beras di tahun 2012. Audit dilakukan karena keÂbijakan impor bers dinilai tak seÂjalan dengan rencana pemeÂrinÂtah untuk swasembada pangan.
Sutarto menambahkan, pihakÂnya tahun ini hanya melakukan impor beras 700 ribu ton dari jaÂtah 1 juta ton. Impor beras terÂsebut berasal dari Vietnam seÂbesar 600.000 ton dan India 100.000 ton. Dari total impor, jumÂlah yang suÂdah terealisasi 300.000 ton. Beras impor itu untuk menjamin keterÂsediaan beras awal tahun 2013.
Untuk serapan beras petani, samÂpai November 2012 sudah menÂcapai 3,58 juta ton atau hamÂpir dua kali lipat dibanding seÂrapan tahun 2010 dan 2011. AngÂka tersebut hanya kalah dibanÂding serapan beras tahun 2009 yang mencapai 3,6 juta ton.
Anggota Komisi IV DPR NaÂbiel Al Musawa mengatakan, dari awal pemerintah memang tidak pernah berpihak kepada para peÂtani. Di saat produksi padi meÂningkat, pemerintah di bawah koÂordinasi Menko Perekonomian meÂlalui Kementerian PerdaÂgaÂngan dan Bulog malah berÂkoÂlaÂborasi meÂlakukan impor beras di akhir tahun ini sebanyak 700 ribu ton.
“Angka itu 72 persen dari izin impor yang diberikan KeÂmenÂteÂrian Perdagangan sebanyak 1 juta ton,†ujar Nabiel.
Tidak berhenti sampai di situ, menurut Nabiel, langkah pemeÂrinÂÂtah melalui Menteri Keuangan memangkas anggaran pertanian pada Anggaran Pendapatan dan BeÂlanja Negara Perubahan (APBN-P) 2012 serta menolak AsuÂransi Petani dan Bank Pertanian.
Belum lagi anggaran untuk perÂtanian yang tidak lebih dari 4 persen atau Rp 53,9 triliun dari total belanja APBN 2012 sebesar Rp 1.435 triliun. “Terlihat jelas pemerintah saÂngat tidak berpihak pada sektor pertanian. Mereka juga habis-habisan memasukkan berbagai impor pangan dan horÂtikultura,†tegasnya.
Menurut dia, masyarakat sebeÂnarnya tidak memerlukan impor beras. Sebab menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), stok beras nasional sampai saat ini masih aman, dengan perkiraan produksi padi meningkat 4,87 persen menjadi 68,96 juta ton gabah keÂring giling (GKG).
Jika impor itu tetap dilakukan, kata Nabiel, ada kecurigaan perÂmainan mafia yang mengunÂtungkan pihak terÂtenÂtu yang meÂrugikan maÂsyaÂrakat. [Harian Rakyat Merdeka]