Pemerintah terkesan sangat berhati-hati dengan Malaysia yang diduga melanggar aturan dagang minyak sawit mentah (CPO).
Negeri jiran itu dianggap meÂngÂangkangi kesepakatan terÂhaÂdap penjualan minyak sawit menÂtah (crude palm oil/CPO). PeÂlangÂgaran tersebut dilakukan deÂngan mengurangi pasokan diÂtengah anjloknya harga CPO. Malaysia juga disangka melakuÂkan pemangkasan bea keluar CPO sehingga memicu peningÂkaÂtan pasokan di pasar global. AkiÂbatnya, harga CPO turun.
Namun, pemerintah Indonesia belum menentukan sikap atas peÂlanggaran tersebut. Padahal, perÂlakuan Malaysia jelas merugiÂkan kepentingan Indonesia. Saat ini, pemerintah baru mengkaji seÂjauh mana dampak penurunan bea keluar (BK) CPO Malaysia.
“Harusnya kan kita yang meÂnentukan harga, kalau IndoneÂsia-Malaysia bisa kerja sama baik seÂbetulnya kita tidak akan dirugiÂkan. Kita tentu ini wilayah perdaÂgangan yang lagi kaji apaÂkah peÂnuÂrunan bea keluar MaÂlaysia akan berdampak pada eksÂpor kita. Ini dikaji,†ujar Menteri PerÂtanian Suswono di Kantor KeÂmenko Perekonomian, JakarÂta, kemarin.
Suswono mengatakan, sebeÂtulÂÂnya Indonesia sudah menyeÂpakati dengan Malaysia bahwa IndoneÂsia yang akan mengatur suplai. Dia melanjutkan, CPO tiÂdak daÂpat tersaingi dengan proÂduk lain, sebut saja seperti rapÂsheed dan sunflower. Dia memasÂtikan, CPO jauh lebih efisiensi.
“Pasti mereka akan lebih terÂtarik membeli CPO dari pada keÂdua itu ataupun sumber lain. Jadi sejauh ini, ini kan problemÂnya yang terjadi kelesuan pasar kaÂrena daya beli di beberapa neÂgara yang krisis, di Eropa khuÂsusnya seÂhingga terjadi penuruÂnan konÂsumsi,†ujar politisi PKS ini.
Indonesia, lanjut dia, akan meÂrespons kebijakan yang diterapÂkan Malaysia ini. “Belum dibaÂhas. Tapi bahwa kita akan meresÂpons, iya. Karena bagaimanapun juga Indonesia dan Malaysia kan menguasai produksi hampir 90 persen,†tutur Mentan.
Sebelumnya, Menteri PerdaÂgaÂngan Gita Wirjawan menuturÂkan, masalah CPO tersebut sebeÂnarÂnya hanya soal penawaran dan perÂÂÂmintaan. Karena pasokan CPO yang melimpah, maka harÂgaÂnya akan turun. Kalau harga turun, akan ada alasan pendorong untuk penyikapan mengenai pajak ekspor.
“Kalau harganya terus turun kita akan punya alasan kuat. Kita akan review sebentar lagi,†kata Gita.
Dia menjelaskan, saat ini PeÂmerintah masih mengkaji kerja sama deÂngan Malaysia. Hal terÂsebut dihaÂrapkan bisa mengatasi penurunan harga CPO. Dengan berbagai keÂbijakan antara InÂdoÂnesia dan MaÂlaysia, keduanya berupaya meÂnaikÂkan harga CPO. Karena keÂbutuÂhan global 90 perÂsen terÂganÂtung oleh Indonesia dan MalayÂsia.
Menurut Gita, jika daÂlam beÂberapa waktu ke depan kondiÂsinya masih sama dan harga CPO turun drastis. Makanya, akan diÂlakukan perubahan kebiÂjakan pajak ekspor.
“Nanti itu ada trigÂger-triggernya (pemicunya), mungkin kita akan sikapi dengan mengubah juga bea keluar CPO,†tuturnya.
Seperti diketahui, Malaysia yang sudah mengeluarkan keÂbiÂjaÂkan menurunkan BK yang berÂlaku 1 Januari tahun depan. Bea Keluar CPO Malaysia seÂbesar 4,5-8,5 persen dari sebeÂlumÂnya 23 persen. Kebijakan ini sebagai respons atas menurunÂnya harga CPO dunia.
Sekjen GabuÂngan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko SupriÂyono mengatakan, kebijakan peÂmerintah Malaysia menurunkan BK CPO merupaÂkan upaya MalayÂsia yang ingin melindungi industri dalam neÂgerinya, teruÂtama ketika sedang mengalami penurunan.
Menurut Joko, pasar CPO dunia akan kompetitif. Dengan adanya kenaikan bea keluar CPO MalayÂsia, maka, akan terlihat apaÂkah Indonesia bisa bersaing dengan Malaysia di pasar inÂternasional. PaÂsalnya, bea keluar CPO IndoÂneÂsia jauh lebih besar dari Malaysia.
“Saat ini merupakan waktu yang tepat bagi pemerintah IndoÂnesia untuk mengevaluasi bea keluar CPO. Kalau bicara damÂpakÂnya, ya liat nanti saja, apakah akan turunkan daya saing CPO kita atau tidak. Dalam berbisnis, kedua negara tidak perlu meÂneÂtapkan kebijakan yang sama kaÂrena masing-masing mempuÂnyai pasar sendiri. Yang perlu sama adalah ketika melawan tekanan dari barat yakni serangan NGO yang terkadang mengada-ada,†tukasnya. [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: