Persentase dana kelolaan reksa dana terhadap produk domestik bruto (PDB) juga masih sangat rendah. Tahun 2011, persentaÂseÂnya hanya 2,2 persen dari total PDB Indonesia senilai Rp 7.427 triliun. Sementara tahun 2010, di Malaysia persentasenya sudah sekitar 49 persen, Thailand 20 persen ataupun Filipina yang suÂdah 19,5 persen.
Ketua Asosiasi Pengelola RekÂsadana Indonesia (APRDI) AbiÂprayadi Riyanto menuturkan, renÂdahnya penetrasi reksadana meÂnunjukkan masyarakat IndoÂnesia dianggap belum bisa meÂmiÂkirkan masa depan dan berÂpikir jangka panjang.
“PaÂdaÂhal sebaÂgai instruÂmen invesÂtasi, reksaÂdana meÂnaÂwarÂkan banyak keÂungguÂlan. MiÂsalÂnya, jenis reksaÂdana saat ini sangat vaÂriatif, seÂperti reksadana saham, campuÂran, pendapatan tetap, paÂsar uang maupun reksaÂdana terÂproÂteksi,†ucapnya di sela acara pemÂÂbukaan Pekan Reksa Dana NaÂsional di Jakarta, kemaÂrin.
Sementara itu, analis saham Riset saham Standard Chartered (StanÂdchart) menurunkan, prosÂpek pasar saham Indonesia ke deÂpan dari netral menjadi underÂwight. Investor diÂsaÂrankan untuk memindahkan portÂofolio dari burÂsa Indonesia ke bursa negara lain.
“Kami memproyeksi trend ini akan berlanjut ke depan. Investor bisa mengalihkan investasi saÂhamnya ke negara tetangga seÂperti FiliÂpiÂna,†kata analis Standchart Clive McDonnell dan Benjamin Wong, kemarin.
Standchart juga merevisi target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam 12 bulan ke depan menjadi 4.400 dari sebelumnya 4.500. Mereka menilai, turunnya prospek pasar saham InÂdonesia akibat turunnya kinerja emiten di BurÂsa Efek Indonesia (BEI). [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: