Mendag Gita Ambisi Gaet Transaksi TEI Rp 18 Triliun

Kadin: Perbaikan Daya Saing & Infrastruktur Kunci Kuasai Pasar Lokal

Kamis, 18 Oktober 2012, 08:19 WIB
Mendag Gita Ambisi Gaet Transaksi TEI Rp 18 Triliun
Gita Wirjawan
Kecil Besar
RMOL.Ratusan pebisnis dalam negeri ikut dalam pameran Trade Expo Indonesia (TEI) 2012. Dengan target transaksi se­besar Rp 18 triliun, pameran ini diha­rapkan mampu membangkitkan peluang industri domestik di mata internasional.

Pameran ini dimulai pada 17-21 Oktober di Jakarta Inter­na­tional Expo, Kemayoran. Se­ba­nyak 1.300 peserta yang meliputi UKM, koperasi, serta BUMN dan 5.300 buyers (pem­beli) dari 100 negara terlibat da­lam acara ini.

Adapun produk ung­­gulan yang dipamerkan se­perti otomotif, kom­ponen oto­mo­tif, cacau, kopi, minyak, tekstil, alas kaki dan lain­nya. Ada juga kon­struk­si dan te­naga kerja terlatih.

Menteri Perdagangan (Mendag) Gita Wirjawan dalam sambutannya menuturkan, TEI merupakan pa­meran berskala internasional guna memamerkan keanekara­ga­man pro­duk-produk asli In­do­nesia. Se­lain itu, Indonesia terus me­ning­­kat­kan citra di mata inter­nasional, seba­gai negara yang kaya akan sum­ber daya alam dan inovasi.

Bekas bos Ancora Group ini menargetkan, ajang TEI akan me­raih pendapatan sebesar 2 miliar dolar AS atau sekitar Rp 18 triliun (dengan kurs Rp 9.000 per dolar AS). Dalam ajang yang sama ta­hun lalu memang melam­paui tar­get transaksi, sekitar 464 juta dolar AS atau 3,9 triliun.  Target semula yang ha­nya 380 juta dolar AS.

“Ini target am­bisius, kami ya­kin akan tercapai. Tetapi akan lebih mudah jika dibantu dengan akses bank yang mudah dan asu­ransi,” ucap Gita yakin usai membuka TEI, kemarin.

Mengapa Gita sangat ambi­si­us? Gita menjawab, hal itu dika­renakan membludaknya calon pembeli dari negara lain mem­buat target ini dilihat wajar dan realistis. Awal mulanya hanya ada 1.500 calon pembeli. Se­iring ja­lannya waktu dan pro­mosi, jum­lahnya naik drastis menjadi 5.300 calon pembeli.

“Saya berupaya untuk men­capai target yang ambisius untuk saya sendiri dan teman-teman per­dagangan. Ini bukan khaya­lan, karena antusias­me pembeli sang­at dahsyat, ada sekitar 5.300 calon pembeli. Kita akan beri pe­la­yanan dan kemudahan untuk calon pembeli kita,” janjinya.

Sekedar informasi, berbagai ne­gara mengirimkan calon pem­beli untuk hadir dalam TEI. Di antara­nya, Nigeria sebanyak 380 dele­gasi buyers, Irak 80 delegasi, Si­ngapura  60 delegasi, Afrika Se­­latan 150 delegasi dan sisanya dari negara di Asia, Afrika mau­pun Amerika Latin dan lain-lain. Se­hingga total tercapai 5.300 pem­beli dari 100 negara.

Di tempat yang sama, Pre­si­den Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyatakan, ajang TEI dijadikan sebagai sarana untuk promosi. “Se­lain itu, untuk me­ning­katkan daya saing, diperlu­kan kolaborasi an­tara peme­rin­tah deng­an dunia usaha untuk lebih jeli menangkap peluang yang ada,” kata Presiden.

Ketua Asosiasi Pengusaha In­donesia (Apindo) Sofjan Wanandi menuturkan, TEI tidak hanya di­ikuti oleh perusaha­an besar saja, tetapi juga meli­bat­kan UKM se­hingga mereka bisa bekerja sama dengan negara peserta. Namun, kata Sofjan, masih ada keku­rangan dalam TEI kali ini.

“Promosinya masih kurang. Se­harusnya promosinya diper­kuat supaya lebih banyak lagi UKM-UKM yang terlibat,” pungkasnya.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bi­dang Perdaga­ngan, Logistik dan Distribusi Natsir Mansyur menga­takan, pemerin­tah memang harus fokus kepada eko­nomi domestik. Apalagi, dalam usa­ha menerbit­kan kebija­kan kemen­terian ter­kait harus mem­perhatikan ke­penti­ngan pasar domestik.

“Kami menga­pre­siasi apa yang dilakukan pemerintah hingga saat ini untuk menjaga pasar domes­tik. Tetapi kami yakin masih ba­nyak yang bisa dilakukan pe­merintah,” ujarnya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Menurut Natsir, salah satu cara untuk menjaga pasar domestik da­ri serbuan produk impor adalah dengan meningkatkan daya saing nasional. Diakui, besarnya high cost economy (ekonomi berbiaya tinggi) telah menghancurkan da-ya saing produk dalam negeri.

“Kita perlu meningkatkan daya saing nasional untuk meredam serbuan produk impor. Jangan sampai  pasar domestik dikuasai produk impor,” katanya.

 Natsir menyayangkan kondisi di Tanah Air belum mendukung peningkatan daya saing nasional. Ia mencontohkan, kondisi infra­struktur di Indonesia yang masih buruk menyebabkan biaya logis­tik dan biaya produksi juga tinggi sehingga kalah bersaing dengan produk impor.

“In­fra­struktur meru­pakan sarana pen­dukung yang sangat vital bagi ke­majuan ekonomi, terutama untuk menja­min kelancaran arus barang dan mengurangi biaya transaksi atau ekonomi biaya tinggi,” jelas Natsir. [Harian Rakyat Merdeka]

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.