Pameran ini dimulai pada 17-21 Oktober di Jakarta InterÂnaÂtional Expo, Kemayoran. SeÂbaÂnyak 1.300 peserta yang meliputi UKM, koperasi, serta BUMN dan 5.300 buyers (pemÂbeli) dari 100 negara terlibat daÂlam acara ini.
Adapun produk ungÂÂgulan yang dipamerkan seÂperti otomotif, komÂponen otoÂmoÂtif, cacau, kopi, minyak, tekstil, alas kaki dan lainÂnya. Ada juga konÂstrukÂsi dan teÂnaga kerja terlatih.
Menteri Perdagangan (Mendag) Gita Wirjawan dalam sambutannya menuturkan, TEI merupakan paÂmeran berskala internasional guna memamerkan keanekaraÂgaÂman proÂduk-produk asli InÂdoÂnesia. SeÂlain itu, Indonesia terus meÂningÂÂkatÂkan citra di mata interÂnasional, sebaÂgai negara yang kaya akan sumÂber daya alam dan inovasi.
Bekas bos Ancora Group ini menargetkan, ajang TEI akan meÂraih pendapatan sebesar 2 miliar dolar AS atau sekitar Rp 18 triliun (dengan kurs Rp 9.000 per dolar AS). Dalam ajang yang sama taÂhun lalu memang melamÂpaui tarÂget transaksi, sekitar 464 juta dolar AS atau 3,9 triliun. Target semula yang haÂnya 380 juta dolar AS.
“Ini target amÂbisius, kami yaÂkin akan tercapai. Tetapi akan lebih mudah jika dibantu dengan akses bank yang mudah dan asuÂransi,†ucap Gita yakin usai membuka TEI, kemarin.
Mengapa Gita sangat ambiÂsiÂus? Gita menjawab, hal itu dikaÂrenakan membludaknya calon pembeli dari negara lain memÂbuat target ini dilihat wajar dan realistis. Awal mulanya hanya ada 1.500 calon pembeli. SeÂiring jaÂlannya waktu dan proÂmosi, jumÂlahnya naik drastis menjadi 5.300 calon pembeli.
“Saya berupaya untuk menÂcapai target yang ambisius untuk saya sendiri dan teman-teman perÂdagangan. Ini bukan khayaÂlan, karena antusiasÂme pembeli sangÂat dahsyat, ada sekitar 5.300 calon pembeli. Kita akan beri peÂlaÂyanan dan kemudahan untuk calon pembeli kita,†janjinya.
Sekedar informasi, berbagai neÂgara mengirimkan calon pemÂbeli untuk hadir dalam TEI. Di antaraÂnya, Nigeria sebanyak 380 deleÂgasi buyers, Irak 80 delegasi, SiÂngapura 60 delegasi, Afrika SeÂÂlatan 150 delegasi dan sisanya dari negara di Asia, Afrika mauÂpun Amerika Latin dan lain-lain. SeÂhingga total tercapai 5.300 pemÂbeli dari 100 negara.
Di tempat yang sama, PreÂsiÂden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyatakan, ajang TEI dijadikan sebagai sarana untuk promosi. “SeÂlain itu, untuk meÂningÂkatkan daya saing, diperluÂkan kolaborasi anÂtara pemeÂrinÂtah dengÂan dunia usaha untuk lebih jeli menangkap peluang yang ada,†kata Presiden.
Ketua Asosiasi Pengusaha InÂdonesia (Apindo) Sofjan Wanandi menuturkan, TEI tidak hanya diÂikuti oleh perusahaÂan besar saja, tetapi juga meliÂbatÂkan UKM seÂhingga mereka bisa bekerja sama dengan negara peserta. Namun, kata Sofjan, masih ada kekuÂrangan dalam TEI kali ini.
“Promosinya masih kurang. SeÂharusnya promosinya diperÂkuat supaya lebih banyak lagi UKM-UKM yang terlibat,†pungkasnya.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia BiÂdang PerdagaÂngan, Logistik dan Distribusi Natsir Mansyur mengaÂtakan, pemerinÂtah memang harus fokus kepada ekoÂnomi domestik. Apalagi, dalam usaÂha menerbitÂkan kebijaÂkan kemenÂterian terÂkait harus memÂperhatikan keÂpentiÂngan pasar domestik.
“Kami mengaÂpreÂsiasi apa yang dilakukan pemerintah hingga saat ini untuk menjaga pasar domesÂtik. Tetapi kami yakin masih baÂnyak yang bisa dilakukan peÂmerintah,†ujarnya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Menurut Natsir, salah satu cara untuk menjaga pasar domestik daÂri serbuan produk impor adalah dengan meningkatkan daya saing nasional. Diakui, besarnya high cost economy (ekonomi berbiaya tinggi) telah menghancurkan da-ya saing produk dalam negeri.
“Kita perlu meningkatkan daya saing nasional untuk meredam serbuan produk impor. Jangan sampai pasar domestik dikuasai produk impor,†katanya.
Natsir menyayangkan kondisi di Tanah Air belum mendukung peningkatan daya saing nasional. Ia mencontohkan, kondisi infraÂstruktur di Indonesia yang masih buruk menyebabkan biaya logisÂtik dan biaya produksi juga tinggi sehingga kalah bersaing dengan produk impor.
“InÂfraÂstruktur meruÂpakan sarana penÂdukung yang sangat vital bagi keÂmajuan ekonomi, terutama untuk menjaÂmin kelancaran arus barang dan mengurangi biaya transaksi atau ekonomi biaya tinggi,†jelas Natsir. [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: