Ngeri, 24 Provinsi Rawan Banget Terkena Rabies...

Penanggulangan Penyakit Akut Minim

Minggu, 14 Oktober 2012, 09:19 WIB
Ngeri, 24 Provinsi Rawan Banget Terkena Rabies...
ilustrasi, Rabies
Kecil Besar

rmol news logo Kementerian Kesehatan (Kemenkes) rupanya belum mampu menekan angka penyakit rabies di Indonesia.

Dari 33 provinsi, hanya sembilan provinsi yang dinyatakan sebagai daerah bebas rabies. Ngeri...!!

Rabies adalah penyakit me­nular akut yang menyerang su­sunan saraf pusat, disebabkan oleh virus  yang menyerang ma­nusia dan hewan. Rabies ditu­larkan kepada manusia melalui gigitan atau jilatan pada luka terbuka oleh hewan yang men­de­rita rabies. Penyakit ini ber­sifat fatal, bah­kan bisa berujung ke­matian.

Ber­dasarkan data Kemenkes tahun  2012, kasus rabies me­nye­­bar di 24 provinsi di Indo­nesia. Di an­taranya, provinsi Su­lawesi Utara, Sumatera Utara, Bali, Ma­luku, Gorontalo, Sula­wesi Te­ngah, Maluku Utara, Bengkulu, Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Lam­pung yang me­rupakan dae­rah paling banyak ditemukan ka­sus rabies pada manusia.

Direktur Jenderal (Dirjen) Pe­ngendalian Penyakit dan Penye­hatan Lingkungan (P2PL) Ke­men­terian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama men­ye­but­kan, hanya sembilan dari 33 provinsi di Indonesia yang di­nyatakan daerah bebas rabies.

“Kesembilan provinsi yang be­bas rabies itu yakni Bangka Be­li­tung, Kepulauan Riau, DKI Ja­karta, Jawa Tengah, DI Yogya­karta, Ja­wa Timur, Nusa Teng­gara Barat, Pa­pua dan Papua Ba­rat,” papar Tjandra Yoga Adi­tama pada peri­ngat­an Hari Rabies Se-dunia (HRS), di Mau­mere, Nusa Teng­gara Ti­mur (NTT), Se­lasa (9/10).

Di Indonesia, rabies pada he­wan sudah ditemukan sejak tahun 1884. Kasus rabies pada manusia pertama kali ditemukan pada 1894 di Jawa Barat. Jadi, se­sung­guhnya penyakit ini sudah ada di Indonesia sejak lama.

Kemenkes mengklaim, telah melakukan pen­ce­gahan dan  pe­ngendalian rabies secara terin­tegrasi oleh dua sektor yang ber­tanggung jawab. Yaitu, sektor pe­ternakan untuk pena­nganan ke­pada hewan penular dan pe­nga­­wasan lalulintasnya. Serta sektor kesehatan untuk pe­na­nga­nan ka­sus gigitan pada ma­nusia dan penderita rabies (Lyssa).

Selain itu, lanjut Yoga, Peratur­an Presiden (Perpres) Nomor 30 tentang Pengendalian Zoonosis yang multisektor dengan meli­batkan 17 Kementerian dan Lem­baga lainnya, diklaim mam­pu mengendalikan tingkat pe­nyakit rabies secara maksi­mal sehingga  Indonesia bisa bebas rabies pada tahun 2020 nanti.

Pemerintah juga telah mela­ku­kan upaya untuk pengendalian rabies, yaitu dengan membuat bu­ku pedoman pengendalian rabies, advokasi sosialisasi lintas sektor/lintas program terkait di tingkat daerah, pembentukan/pengaktif­an tim koordinasi Ra­bies di setiap daerah.

“Pelatihan dan sosialisasi ke­pada petugas kesehatan pun di­tingkatkan mulai dinas kese­hatan, rumah sakit pemerintah/swasta, puskesmas, sampai pem­bentukan Rabies Center untuk mendata dan menyelidiki sebab dan akibat ra­bies. Serta mela­kukan komunika­si, edukasi dan infor­masi kepada berbagai la­pisan masyarakat,” jelas Yoga.

Koordinator Asian Rabies Expert Bureau (AREB) Betty Dodet menuturkan, rabies meru­pakan salah satu penyakit ber­bahaya yang berakibat kematian. Data dari AREB menyebutkan, setiap hari terjadi kematian 100 anak akibat rabies. Sekitar 60-70 persen kor­ban­nya, adalah anak-anak berusia 5-15 tahun.

“Rabies salah satu penyakit zo­onosis, yakni penyakit yang ditu­larkan dari hewan ke ma­nusia. Pe­nyebabnya, virus yang meng­in­feksi sistem saraf,” ujar Betty.

Menurut Betty, pemerintah mesti lebih proaktif menekan pe­nyakit rabies. Pasalnya, virus ra­bies terdapat pada air liur hewan yang terinfeksi dan menular me­lalui gigitan, goresan atau jilatan pada kulit yang terluka. Semua hewan mamalia dapat tertular ra­bies dan berpotensi menularkan ke ma­nusia. Sebagian besar ka­sus rabies pada manusia terjadi akibat gigitan anjing.

Betty menjelaskan, penyakit rabies di Indonesia tersebar di 24 dari 33 provinsi. Bali dan NNTT merupakan da­erah dengan kasus rabies tertinggi di Indonesia. Ku­rangnya penga­wasan terhadap anjing yang ma­suk terutama dari Flores, memicu terjadinya kasus rabies di Bali sejak tahun 2008.

“Awalnya hanya terjadi di se­buah dusun kecil, tapi dengan ce­pat menyebar ke seluruh pulau. Sejak terpapar rabies, angka ke­matian akibat penyakit tersebut mencapai 140 jiwa. Namun, se­gera menurun karena adanya prog­ram vaksinasi massal anjing dan meningkatnya kesadaran masyarakat,” papar Betty.  [Harian Rakyat Merdeka]

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA