Bahaya, Jika SPBU Asing Ikut Pasok BBM Subsidi

Keterlibatan Shell Indonesia Mengundang Kecurigaan

Senin, 01 Oktober 2012, 08:18 WIB
Bahaya, Jika SPBU Asing Ikut Pasok BBM Subsidi
ilustrasi, shell
Kecil Besar
rmol news logo Pemerintah diminta mewaspadai adanya upaya pemilik SPBU asing untuk merebut jatah kuota BBM subsidi.

Pengamat energi dari Indo­ne­sian Resourses Studies Marwan Ba­tubara meminta, pemerintah membatalkan proses tender BBM ber­subsidi yang kini tengah di­lakukan Badan Pengatur Hilir Mi­nyak dan Gas Bumi (BPH Mi­gas). “Untuk urusan BBM sub­sidi, tidak layak diserahkan ke swas­ta apa­la­gi asing. Serahkan sa­ja ke BUMN yakni Pertamina yang 100 persen sahamnya di­mi­liki ne­gara,” cetus­nya di Jakarta, ke­marin.

Menurut dia, selama ini, pelak­sa­naan tender yang sudah ber­ja­lan 3-4 tahun cenderung di­pak­sa­kan. “Jadi, kenapa tidak se­ka­lian ditiadakan saja,” kata­nya. Ia meminta, pemerintah tidak ber­main-main dengan urusan BBM subsidi yang terkait dengan ke­bu­tuhan utama rakyat.

Hal senada dikemukakan pe­nga­mat energi dari ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro. Me­nurut dia, pemerintah terlalu long­gar memberikan kesempatan pe­rusahaan asing men­distri­bu­si­kan BBM subsidi. “Jika Per­ta­mina masuk di negara lain seperti Ma­laysia diwajibkan mem­ba­ngun kilang, semestinya mereka juga perlu diwajibkan di sini,” katanya.

Kalau asing atau swasta ikut me­nyalurkan, lanjutnya, maka juga harus membangun in­fra­struk­­­turnya. “Jangan seperti se­ka­rang, infrastrukturnya sebagian ma­sih menumpang ke in­frastruk­tur milik Pertamina,” ujar­nya. Apalagi, lanjutnya, kalau sudah berbicara keistimewaan. “Baru bi­cara fairness saja sudah perlu di­pertanyakan. Pemerintah harus lebih fair. Mengapa BUMN sen­diri malah cenderung dianak­tiri­kan,” katanya.

Ia meminta, pemerintah meng­ham­bat masuknya perusahaan asing mendistribusikan BBM sub­sidi dengan ketentuan tender yang lebih ketat. Selain diwajib­kan mem­bangun kilang dan in­fra­struk­tur pendukungnya, me­nu­rut Komaidi, pemerintah juga tidak memberikan kuota BBM sub­sidi di wilayah Jawa kepada pe­rusa­haan non-Pertamina. “Bu­ka saja alokasi di daerah Indo­ne­sia bagian timur yang memang bia­ya pendis­tribusiannya mahal,” ka­tanya.

Sedangkan Ketua Umum Him­punan Wiraswasta Nasional Mi­nyak dan Gas (Hiswana Migas), Eri Purnomohadi juga mengata­kan, pemerintah harus membe­ri­kan keberpihakkan kepada Per­tamina sebagai BUMN.

“Dalam persoalan tender BBM ini, tidak ada keberpihakkan itu. Ha­rusnya ada nasionalisme ter­hadap Pertamina seperti di negara lain,” ujarnya.

Ia juga mengatakan, selama ini, Per­tamina sebagai BUMN bisa di­perintahkan pemerintah untuk men­­jamin dan mengamankan pen­distribusian BBM di seluruh pelo­sok negeri. “Bagaimana de­ngan pe­laku asing, apakah juga bi­sa dipe­rin­tahkan hal yang sa­ma,” cetus­nya.

Lalu, lanjutnya, Pertamina se­bagai BUMN, juga men­distri­busikan BBM subsidi dahulu, baru kemudian meminta pem­ba­yaran­­nya.

Saat ini, BPH Migas tengah me­­nyelenggarakan tender penye­diaan dan pendistribusian BBM bersubsidi untuk 2013. Tercatat se­­banyak empat perusahaan yang ber­minat yakni PT Pertamina (Persero), PT Shell Indonesia, PT Aneka Kimia Raya (AKR) Cor­porindo Tbk (AKR), dan PT Sur­ya Parna Niaga (SPN).

Berdasarkan informasi yang di­peroleh, alokasi volume tender yang akan diberikan ke pe­rusa­haan non-Pertamina mencapai 2,4 persen dari alokasi BBM sub­sidi ta­hun 2013 sebanyak 46 juta kilo­liter atau sekitar 1,1 juta kiloliter.

Informasi yang diterima Rak­yat Merdeka, ada salah satu ok­num pejabat di lingkungan per­minyakan yang mengajak salah satu peserta tender untuk meman­tau pasokan BBM subsidi di Jawa Timur. Berbagai in­for­masi digali dalam survei tersebut. Salah satu­nya soal om­zet penya­luran BBM subsidi. [Harian Rakyat Merdeka]

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA