Asosiasi Pertekstilan IndoÂnesia (API) memprediksi kiÂnerja ekspor industri tekstil tahun depan akan terjun bebas karena terbebani kenaikan tarif dasar listrik (TDL) dan keÂnaikan upah minimum proÂvinsi (UMP).
Ketua Umum API Ade SuÂdrajat mengatakan, kinerja eksÂpor Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) trennya terus meÂnurun. Untuk tahun ini, nilai ekÂspor TPT diproyekÂsikan 12,58 miÂliar dolar AS atau anjlok 5 perÂsen dibanÂding realisasi taÂhun lalu 13,25 miliar dolar AS.
Padahal, sejak awal API meÂnargetkan ekspor TPT tahun ini tumbuh 5 persen diÂbanding taÂhun lalu. Tetapi piÂhaknya haÂrus merevisi target karena kondisi pasar ekspor yang belum pulih sehingga mengÂgerus pemasarÂan proÂduk.
“Tahun ini kondisi ekonomi global sangat mengÂgerus peÂmasaran produk eksÂpor. AlhaÂsil nilainya turun,†ujar Ade.
Berdasarkan data API, reaÂlisasi nilai ekspor anjlok 6,1 persen dari 6,76 miliar doÂlar AS menjadi 6,38 miliar dolar AS. Penurunan terbesar terjadi di pasar Eropa 9,6 persen, sedÂangkan di pasar Amerika SeÂrikat (AS) turun tipis 0,8 persen.
Ade menambahkan, penuÂruÂnan ekspor tahun depan akan lebih besar lagi. PasalÂnya, seÂlain kondisi pasar beÂlum pulih betul, industri juga akan dibeÂbani dengan keÂnaiÂkan TDL 15 persen dan keÂnaikan UMP 6-11 persen tahun depan.
Menurutnya, listrik memiliÂki kontribusi yang sangat beÂsar dalam struktur biaya proÂduksi. Bagi industri serat, lisÂtrik memegang peranan 25 persen dari biaya produksi. Sedangkan peran listrik untuk industri pemintalan 18,5 perÂsen dari biaya produksi dan tenun 14,4 persen.
“Hanya garmen yang biaya listrik untuk produksinya renÂdah 1,3 persen. Kenaikan 15 persen akan berdampak pada naiknya harga jual 10 perÂsen,†jelas Ade.
Kondisi itu ditambah deÂngan terus menurunnya pasar produksi dalam negeri. MeÂnurutnya, peningkatan penÂjualan tekstil di pasar doÂmesÂtik hanya sekitar 10 persen per tahun.
Pada 2010. API mencatat pangÂsa industri dalam negeri di pasar domestik sudah menÂcapai 50 persen, sedangÂkan paÂda 2011 angka tersebut anÂjlok menjadi 42 persen.
“Kami prediksi tahun ini tidak akan beranjak dari 40 persen,†katanya.
Kondisi tersebut juga berÂdampak pada semakin terpuÂruknya daya saing Indonesia. Menurutnya, berdasarkan World Economic Forum (WEF), peringkat daya saing InÂdoÂnesia 2012 turun diÂbanding 2011.
Menurut laporan WEF, peÂringkat daya saing IndoÂneÂsia berada di ranking 50 atau leÂbih rendah dibanding 2011 paÂda urutan 46. “Karena itu kaÂmi menolak kenaiÂkan TDL tahun depan,†ujarnya. [Harian Rakyat Merdeka]
BERIKUTNYA >