Ternyata tidak semua BUMN mau menjual saham perdana di pasar modal. Bursa Efek Indonesia (BEI) memandang, masih minimnya jumlah perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang mencatatkan sahamnya di papan bursa, meÂnunÂjukkan masih lemahnya peran Pemerintah dalam mendukung pertumbuhan pasar modal di tanah air.
Lemahnya willingness atau keinginan dari Pemerintah untuk meng-IPO-kan BUMN dinilai sebagai biang keladi terjadiÂnya hal tersebut. Padahal, dari BUMN sendiri sudah menyatakan kesediaannya kepada bursa untuk segera IPO.
“Kalau kita bicara dengan BUMN-BUMN, mereka sudah meÂlaÂÂÂkukan pengajuan ke Pemerintah. Karena yang namanya milik negara, ya tentu harus lewat negara kan. Nah, proses terÂsebut kemudian macet di PemeÂrintah. Jadi bisa dikatakan, pemerintah tidak mau IPO-kan BUMN,†ujar Direktur Utama BEI Ito Warsito di Gedung BEI Jakarta, Kamis (13/9).
Pertimbangannya, lanjut Ito, bisa jadi banyak faktor. PasalÂnya, untuk dapat dilakukan IPO, aktivitas perusahaan menjadi harus sangat transparan terutama dari segi permodalan dan sirkulasi keuangan.
Ito berpendapat, perlu adanya dukungan mutlak dari PemeÂrintah untuk mendukung pertumÂbuhan pasar modal Indonesia. “Kalau memang menganggap indeks saham sebagai indiÂkasi pereÂkonomian kita, maka perbanyaklah IPO BUMN. Apa mÂereka (perusahaan BUMN), takut transparan?†tukas Ito.
Pengamat pasar modal David Ferdinandus mengatakan, salah satu poin positif dari IPO perusahaan BUMN adalah turut mengiÂkutsertakan masyarakat dalam pengelolaan perusahaan. MeÂnurutÂnya, melalui kepemilikan saham langsung oleh masyaÂrakat konÂtrol publik perusahaan akan lebih transparan.
“PeruÂsahaan BUMN yang IPO juga lebih mudah diÂkontrol pengeÂlolaanÂnya. Sebab, perusahaan publik diwajibkan menguÂmumkan laporan secara berkala kepada publik,†kata David.
Menteri BUMN Dahlan Iskan menilai, pentingnya laporan keÂuangan yang dimiliki perusahaan-perusahaan BUMN dipaÂparkan ke publik.
“Akan sangat bagus karena penilaiannya pun akan sangat terbuka,†ungkap Dahlan.
Tahun ini pemerintah berencana akan melakÂsanakan IPO lima perusahaan BUMN, yakni PT Semen Baturaja, PT Waskita Karya, PT Pertamina Drilling Services, PT GMF AeroAsia dan PT PLN Batam. Namun, rencana itu diganjal DPR. [Harian Rakyat Merdeka]
BERIKUTNYA >
BERITA TERKAIT: