PT Bank Tabungan Negara (BTN) Persero akan menerbitÂkan saham kembali (right issue) seÂbanyak Rp 1,51 miliar dengan target aksi korporasi sebesar Rp 2,45 triliun. Dalam Rapat Kerja Komisi XI DPR dan Kementerian Keuangan, akhirnya disetujui right issue BTN.
Anggota KoÂmisi XI DPR AchÂsanul QosaÂsih menuÂturÂkan, daÂlam proses right issue BTN, PeÂmerinÂtah masih menÂjadi pemeÂgang saÂham mayoÂritas dan peÂmeÂgang kendali utama BTN.
“Kita harus bantu bank-bank dan BUMN dalam permodalan, kaÂrena APBN tidak mengalokaÂsikan tambahan modal kepada mereka,†cetusnya keÂpada Rakyat Merdeka di Jakarta, kemarin
Menurutnya, BTN memang memÂbutuhkan tambahan modal, guna merealisasikan program ruÂmah untuk rakyat. Saat ini, CAR BTN hanya 14 persen, sangat risÂkan untuk ekspansi KPR. SeÂhingga jika right issue ini diseÂtujui, maka akan ada fresh money Rp 2 triliun untuk memperbaiki CAR (rasio permodalan) menÂjadi sekitar 18 persen.
Politii Partai Demokrat meÂnambahkan, bantuan dana dari APBN sangat diperluÂkan. SeÂbab, BUMN adalah alat negara untuk memÂbantu peningÂÂkatan kesejahteraan rakyat.
“Agar saham pemerintah tidak semakin terdelusi oleh perÂkemÂbangan perusahaan yang diÂmanÂfaatkan oleh kapitalis deÂngan cara penguasaan saham leÂwat pasar modal. Semakin besar voÂlume usaha, semakin besar pula kebutuhan modalnya. Itu ruÂmus baku dalam dunia korÂporasi,†terang Achsanul.
Menurutnya, bank yang dimiÂliki serta dikelola neÂgara, semesÂtinya dari segi fasiliÂtas dan pelaÂyanannya lebih baik daripada bank yang bukan milik negara. Namun kinerja BTN belum meÂnunjukkan performa terÂsebut.
“Secara kaÂsat mata BTN terÂlihat belum ceÂmerÂlang. Akhir-akhir ini terliÂhat kuÂrang memÂbenahi citÂranya seÂbagai bank negara. DeÂngan right issue ini BTN harusnya leÂbih baik dan lebih maju “ kritikÂnya.
Ketua Komisi XI DPR Emir Moeis menjelaskan, keputusan right issue ini justru seÂbagai awal yang berat bagi BTN untuk beÂkerja lebih baik dari sebelumÂnya.
“Kami akan cek secara berkala terkait kinerja BTN ke depan. Kalau kiÂnerjanya jusÂtru leÂbih buÂruk, maka BTN harus berÂtangÂgung jawab,†ujar Emis.
Namun, kata Emir, walaupun kali ini BTN mendapatkan perÂseÂtujuan dari DPR, di preÂdikÂsi ke depannya akan sulit bagi Komisi XI DPR untuk mengaÂbulkan renÂcana right issue BTN untuk yang kedua kalinya.
“Karena, memang sebenarnya BTN mesti dikuasai sebesar-beÂsarÂnya oleh negara untuk keÂpenÂtingan maÂsyarakat,†kata politisi PDIP itu. [Harian Rakyat Merdeka]
BERIKUTNYA >
BERITA TERKAIT: