Bahan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menegur keras PT Pertamina (Persero). Sebab, 170 truk tangki yang mengangkut BBM subsidi tidak sampai ke pom bensin. Nah lho...
Direktur BBM BPH Migas Djoko Siswanto mengatakan, temuan 170 truk BBM ini terjadi di Kalimantan Barat (Kalbar) dalam dua minggu terakhir.
“Temuan kami dari survei Dinas Perindustrian Kalbar, ada 170 truk BBM yang keluar dari depo BBM Pertamina tidak sampai terkirim ke SPBU,†kata Djoko di Jakarta, kemarin.
Karena itu, pihaknya langsung mengeluarkan surat teguran keÂpada BUMN minyak tersebut. Selain Pertamina, BPH Migas juga memberikan sanksi kepada pom bensin yang memesan BBM tersebut dengan pembeÂkuan opeÂrasi selama 6 bulan.
Menurut Djoko, tidak samÂpaiÂnya truk-truk BBM itu ke pom benÂsin adalah bentuk peÂlangÂÂgaÂran berat karena merugikan maÂsÂyaÂrakat dan pemerintah. ApaÂlagi KalÂbar merupakan salah datu daerah yang rawan terjadi peÂnyeÂÂÂlunÂdupan BBM subsidi untuk diÂjual ke perkebunan dan perÂtambangan.
“Penyaluran BBM bersubsidi juga merupakan tanggung jawab Pertamina, karena Pertamina haÂrus cek juga BBM subsidi yang akan dikirim tersebut kepada siapa,†cetusnya.
Djoko mengatakan, tingginya tingkat penyelundupan BBM diÂsebabkan tingginya disparitas harga. Kondisi ini yang membuat banyak orang menyelundupkan BBM subsidi. Bahkan, hasil uji di lapangan terhadap truk BBM melalui alat pelacak diketahui, dari 100 truk yang dipasangi alat hanya 90 truk yang terpantau, Sisanya tidak terlacak setelah keluar dari depo Pertamina.
Berdasarkan data BPH Migas, kaÂsus penyalahgunaan BBM subÂsidi dari Januari-Desember 2011 terjadi sekitar 305 kasus dengan jumlah barang bukti seÂbanyak 1.100.718,06 liter. JumÂlah ini meÂningkat tinggi pada Januari-Juli 2012 sebanyak 396 kasus dengan jumlah barang bukti BBM 1.037.923 liter.
Menanggapi temuan itu, peÂmerintah mengaku tidak diam. Dirjen Migas Kementerian EnerÂgi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Evita H Legowo menyaÂtakan, pemerintah akan memperÂketat pengawasan distribusi BBM subsidi untuk menekan maraknya penyelundupan.
Salah satu caranya dengan mengÂgunakan alat pelacak. TekÂnologi pelacak ini bakal segera dipasang untuk memperketat disÂtribusi dan tepat sasaran. “PemeÂrintah bakal menyiapkan teknÂologi dalam pengawasan distriÂbusi BBM bersubsidi, “ katanya.
Hal senada disampaikan MenÂteri ESDM Jero Wacik. Untuk mencegah terjadinya penyeÂlunÂdupan, truk-truk pengangkut BBM di Kalimantan sebagian sudah dipasang alat pelacak agar tak ada penyelewengan.
“Jangan sampai truk (tangki BBM) keluar dari depo, terus ke mana dia jalannya,†ucap Wacik.
Wacik juga mengaku telah berusaha menekan penggunaan BBM bersubsidi. Antara lain dengan mewajibkan kendaraan dinas pemerintah pusat, peÂmeÂrintah daerah, BUMN, BUMD di Jabodetabek dan Jawa-Bali serta perusahaan perkebunan dan pertambangan menggunakan BBM non subsidi.
Saat dikonfirmasi mengenai informasi tersebut, Vice PresiÂdent Corporate Communications PerÂtaÂmina Ali Mundakir mengaÂku maÂsih mengecek hasil temuan BPH MiÂgas yang menyebutkan 170 mobil tangki Pertamina tiÂdak sampai SPBU. “Kami saat ini masih mengecek temuan itu ke sana,†ujarnya kepada Rakyat Merdeka, kemarin. [Harian Rakyat Merdeka]
BERIKUTNYA >
BERITA TERKAIT: