Pemerintah kelihatannya gagal lagi menyakinkan Komisi VII DPR untuk menaikkan tarif dasar listrik (TDL) tahun depan.
Saat rapat Komisi Energi deÂngan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero WaÂcik, Senin malam (10/9), DPR masih belum menerima alaÂsan pemerintah untuk meÂnaikkan TDL tahun depan. Rapat itu diÂmulai pukul 19.30 WIB sampai 12.00 WIB dipimpin Ketua KoÂmisi VII Sutan Bhatoegana.
Dalam pantauan Rakyat MerÂdeka, hampir semua anggota koÂmisi hadir. Sedangkan dari peÂmerintah, selain Wacik, hadir Wakil Menteri ESDM Rudi Rubiandini, Dirjen KetenagaÂlistriÂkan Jarman, DirÂjen Migas EviÂÂta H. Legowo dan DiÂrut PeÂruÂsahaan Listrik NeÂgara (PLN) Nur Pamudji dan jaÂjaranÂnya.
Sebelum memasuki ruang raÂpat, Wacik tampak sumringah dan percaya diri (pede) bisa meÂÂnyaÂkinkan dan mendapatkan perÂsetujuan DPR untuk menaikÂkan TDL tahun depan. Apalagi, Senin siangnya (10/9) Wacik suÂdah meÂlakukan perteÂmuan deÂngan jaÂjaran Komisi VII di ResÂtoran JeÂpang, Hotel Sultan.
Namun, rapat tersebut malah menjadi ajang kritik terhadap kiÂnerja PLN. Mayoritas anggota dewan belum menerima alasan pemerintah menaikkan TDL taÂhun depan. Mereka menilai, memÂbengÂÂkaknya anggaran subÂsidi lisÂtrik disebabkan kesalaÂhan PLN.
Anggota Komisi VII DPR Fahri HamÂzah mengatakan, terus meÂlonÂjaknya subsidi listrik meÂrupakan murni kesalahan peÂmeÂrintah. Pasalnya, saat IndoÂnesia sedang booming batubara dan gas, pemerintah tidak meÂmanÂfaÂatkan untuk energy mix PLN.
“Jangan sampai ini kesalahan pemerintah justru masyarakat yang dibebankan dengan kenaiÂkan TDL tahun depan. Kami akan menolaknya,†tegas Fahri.
Politisi PKS ini juga menilai, keÂinginan pemerintah menaikÂkan TDL tahun depan akan sulit tereaÂlisasi. Apalagi dari sisi poÂlitik juga akan berat.
Anggota Komisi VII DPR Bambang Wuryanto mengatakan, bagaiÂmana DPR mau menyetujui TDL jika PLN masih tertutup terÂhadap keuangannya. Apalagi sampai saat ini PLN beÂlum meÂnindaklanjuti temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) soal pemborosan anggaran dalam pengÂgunaan bahan bakar minyak (BBM) untuk pembangkitnya.
“Hasil Panja Hulu PLN saja belum ditindaklanjuti. PLN juga sangat boros, beban utangnya mencapai Rp 170 triliun,†tegas anggota Fraksi PDIP ini.
Anggota Fraksi Partai Golkar Bobby Rizaldy meminta PLN meÂlengkapi dan memperjelas data segmen, tarif mana saja, misalÂnya tarif layanan dan tarif public serÂvice obligation (PSO) sehingga kebutuhan subsidi bisa tepat.
“Kita ingin perhitungan subsiÂdi yang tepat,†ucap Bambang.
Selain itu, dia juga memÂpertaÂnyakan permintaan margin 7 persen PLN. Alasannya, keunÂtuÂngan PLN 2011 mencapai Rp 7 triliun dipotong dividen 48 perÂsen atau sekitar Rp 3,5 triliun. SeÂdangkan tahun ini Menteri BUMN Dahlan Iskan meminta agar bagian dividen hanya 30 perÂsen. “Berarti masih ada caÂdaÂngan lebih. Kenapa masih minÂta marÂgin tinggi,†tanyanya.
Menanggapi serangan bertubi-tubi tersebut, Dirut PLN Nur PaÂmuÂdji hanya terdiam. Nmun, Nur berjanji akan melengkapi data yang diminta DPR. Rapat akan diÂlanjutkan Senin (17/9).
Menteri ESDM Jero Wacik saÂngat berharap DPR bisa meÂnyetujui kenaikan TDL tahun depan. “Tahun lalu saat kita usulÂkan kenaikan TDL ditolak, alaÂsannya pemerintah ingin juga meÂnaikkan harga BBM. Tapi, harga BBM batal naik, TDL juÂga ngga naik,†kata Wacik kesal.
Karena itu, menteri asal Partai Demokrat ini mengusulkan kÂenaikan TDL 15 persen tahun deÂpan. Kenaikan itu akan dilakuÂkan setiap tiga bulan sekali.
Menurutnya, jika kenaikan itu disetujui DPR, maka kebutuhan subsidi (listrik) tahun berjalan Rp 78,63 triliun. Apabila tidak ada kenaikan, kebutuhan subsidinya mencapai Rp 93,52 triliun atau terdapat penghematan Rp 14,89 triliun terhadap subsidi tahun berjalan. “Dengan kenaikan 15 persen, maka tarif tenaga listrik akan mengalami kenaikan dari Rp 729 menjadi Rp 814 per kWh,†cetus Wacik. [Harian Rakyat Merdeka]
BERIKUTNYA >
BERITA TERKAIT: