Tukar Uang Receh Di Jalan Berisiko Dapat Uang Palsu

Sabtu, 18 Agustus 2012, 10:37 WIB
Tukar Uang Receh Di Jalan Berisiko Dapat Uang Palsu
ilustrasi

rmol news logo Guna meminimalisir pere­da­ran uang palsu, Bank Indo­ne­sia (BI) mengimbau ma­sya­rakat untuk datang langsung ke BI atau kantor-kantor bank ter­dekat jika ingin menu­kar­kan uang dengan uang receh baru untuk kebutuhan Lebaran.

Sebab, menukarkan uang ke tempat jasa penukaran uang baru di jalanan, selain jumlah­nya berkurang juga berisiko mendapat uang palsu.

“Sebaiknya langsung saja datang ke BI atau kantor-kan­tor bank terdekat. Kami akan me­layani dengan baik. De­ngan menukarkan ke bank, ting­kat risikonya lebih rendah dari kemungkinan mendapat uang palsu,” ujar Kepala Biro Hu­mas BI Difi A Johansyah kepada Rakyat Merdeka.

Namun begitu, BI tidak bisa melarang penukaran uang di jalanan seperti yang terjadi selama ini. Menurut Difi, tidak ada ketentuan apapun yang melarang praktik penukaran uang dengan meminta jasa seperti itu. Pihaknya hanya bisa mengimbau kepada ma­syarakat untuk mewaspadai kemungkinan adanya praktik penyebaran uang kertas palsu dengan modus menyisipkan di antara uang baru yang ditukar di jalanan.

“Khusus untuk wilayah Jakarta, bank sentral telah melakukan kerja sama dengan 13 bank untuk menyediakan outlet-outlet penukaran uang tunai di beberapa tempat,” jelasnya.

Difi tak menampik peluang beredarnya uang palsu di masyarakat cukup besar. Hal ini disebabkan banyaknya transaksi pecahan uang besar yang masih menggunakan uang kartal (tunai).

“Untuk pecahan besar, hin­dari transaksi dengan uang kar­tal, karena pertimbangan risi­konya membuka peluang ma­suk­nya uang palsu dan sebaik­nya itu dihindari,” pinta Difi.

Sebagai gantinya, BI selalu gencar mensosialisasikan peng­gunaan e-money atau tran­saksi non tunai sebagai alat pembayaran masyarakat.

Meski begitu, untuk tran­saksi-transaksi kecil seperti di pasar-pasar atau pembayaran transportasi angkutan umum, pihaknya masih kesulitan untuk merealisasikan peng­gunaan e-money.

Untuk diketahui, BI mem­proyeksikan kebutuhan uang (outflow) periode Ramadhan dan Idul Fitri 2012 sebesar Rp 89,4 triliun atau meningkat Rp 9,1 triliun dibanding realisasi out­flow periode Ramadhan dan Idul Fitri tahun sebelumnya.

Adapun rinciannya terdiri dari Uang Pecahan Besar/UPB (pecahan Rp 100.000, Rp 50.000, dan Rp 20.000) dipro­yek­sikan sebesar Rp 81,1 tri­liun dan Uang Pecahan Kecil/UPK (pecahan Rp 10.000, Rp 5.000, Rp 2.000, dan Rp 1.000 serta uang logam seluruh pecahan) diproyek­sikan sebe­sar Rp 8,3 triliun. [HARIAN RAKYAT MERDEKA]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA