Dinilai tidak memberikan dampak positif bagi peningkatan mutu pendidikan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhammad Nuh mau menghapus subsidi untuk sekolah berlabel Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI)
Penghapusan subsidi akan diÂlakukan secara bertahap dan penghentian ini sekaligus untuk merangsang Pemerintah Daerah (Pemda) supaya lebih ikut memÂperhatikan pendanaan di sekolah tersebut.
Direktur Jenderal Pendidikan Dasar (Dirjen Dikdas) KemenÂteÂrian Pendidikan dan KebuÂdaÂyaÂan (Kemendikbud) Suyanto meÂngaÂtakan, subsidi terus meÂnyuÂsut daÂri tahun ke tahun. PaÂsalnya, subÂsidinya kecil dan tiÂdak membeÂrikan dampak apa-apa.
â€Kami mau menghapusnya. Subsidi tersebut sebenarnya cuÂma reward karena telah berÂstatus RSBI,†katanya, kemarin.
Sejak digulirkan tahun 2006, subsidi RSBI yang diberikan sebesar Rp 400-Rp 500 juta per tahun untuk setiap sekolah. AngÂka ini terus turun. Bahkan, subsidi tahun ini menciut dan cuma Rp 250 juta untuk tiap sekolah.
“Kalaupun dipotong hingga distop, saya rasa tidak akan berÂpengaruh. Nilainya memang saÂngat kecil, sehingga unit cost yang dibebankan kepada siswa juga tidak begitu berpengaruh,†ujar Suyanto.
Menurut dia, penghentian subÂsidi dimaksudkan untuk meÂÂrangÂsang Pemda supaya lebih memÂperhatikan pendanaan RSBI. BerÂdasarkan pengamatan KeÂmenÂdikbud di setiap sekolah, uang yang dikelola RSBI nilainya saÂngat besar. Nilai itu pun jauh leÂbih tinggi diÂbandingkan subÂsidi Kemendikbud karena meÂmang kebanyakan dari para pendaftar dari keluarga mampu.
Pandangan bahwa RSBI adaÂlah sekolah mahal, katanya, hanya opini saja. Selama ini, peÂminat RSBI tiap tahun terus memÂbluÂdak. “Biaya sekolahnya masih bisa dijangkau masyarakat. KaÂlauÂpun ada yang kecewa tidak diteÂrima bukan dari segi biaÂyaÂnya, taÂpi tidak meÂmenuhi syaÂrat secara akademis,†kilahnya.
Menyinggung soal gugatan terhadap RSBI di Mahkamah Konstitusi (MK), Suyanto meÂngatakan, sidangnya belum maÂsuk tahap putusan. “Kalaupun nanti keinginan pihak yang meÂnolak RSBI benar dikabulkan, kami (Kemendikbud) sudah siap. NanÂti, namanya saja tinggal diÂubah bukan RSBI lagi,†selorohnya.
Namun, Suyanto optiÂmistis piÂhak MK tidak akan mencabut keberadaan RSBI. Negara pasti rugi jika tidak ada RSBI. “Kalau benar dihapus, sekolah-sekolah swasta bisa saja seenaknya mengÂklaim bertaraf internaÂsioÂnal dan akan menÂjamur hingga ke peÂlosok daerah,†katanya.
Tarif pendidikan di sekolah swasta seperti itu, kaÂta Suyanto, justru semakin tidak bisa diÂkenÂdalikan pemerintah.
Anggota Panitia Kerja (Panja) RSBI Dedi Gumelar mendukung pemerintah menghapus subsidi untuk RSBI. Ia menilai, siswa luÂlusan RSBI yang benar-benar meÂmenuhi standar RSBI belum terÂcapai. “Selama ini, sekolah berÂstatus RSBI sudah memungut uang pangkal kepada orang tua siswa. Jika dijumlah, totalnya bisa mencapai miliaran rupiah. Dana subsidi pemerintah sebeÂnarnya tak sebanding,†katanya.
Dedi juga mengaku, saat ini Panja sedang melakukan revisi terkait penetapan sistem RSBI tersebut. “Seharusnya ada tanah kosong, dibangun sekolah baru. Ada kepala sekolah baru, ada guÂru baru dan siswanya. Nah, masÂyarakat tidak perlu memÂbiayai, cukup negara yang melaÂkukanÂnya,†jelas politisi yang akrab disapa Miing ini.
Miing menyatakan, Panja RSBI akan segera memutuskan nasib konsepnya dan berkoÂorÂdinasi dengan Kemendikbud unÂtuk mengevaluasinya hingga akÂhir tahun ini. “Anggaran RSBI sebenarnya masih ditandai binÂtang (dalam pembahasan). Saya lupa angka pastinya. Yang jelas, itu domain Kemendikbud. DPR hanya mengawasi dan terus meÂlakukan evaluasi,†jelas Miing.
Pengamat Pendidikan DarÂmaÂningtyas menilai, selama ini RSBI diberi kebebasan memuÂngut biaya dari murid tanpa baÂtasan dari pemerintah sehingga SBI atau RSBI jadi amat mahal.
“Pada sekolah negeri lain, kuÂcuran dana terbatas. Bagi seÂkolah swasta, gelontoran dana adalah mustahil. Inilah ketÂiÂdakÂadilan anÂÂtara RSBI atau SBI dan sekoÂlah lain,†kritiknya. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: