Tingginya penambahan lahan bagi investasi properti dan inÂdusÂtri menjadi salah satu penÂdorong naiknya harga saham emiten-emiten sektor ini. Dari 39 kinerja emiten selama semester satu 2012, PT Lippo Karawaci Tbk membukukan pendapatan terÂtinggi. Pendapatan emiten deÂngan kode saham LPKR itu temÂbus Rp 2,4 triliun, tumbuh 27,7 persen dibanding semester I tahun silam.
Pada periode yang sama, Lippo Karawaci mencatatÂkan pertumÂbuÂhan laba bersih 46,9 persen menÂÂjadi Rp 437,4 miliar. “KiÂnerja keÂuangÂÂan kami pada semesÂter I-2012 sangat baik, didukung penÂjualan peÂruÂmahan, pendapaÂtan bisnis keseÂhatan dan peningÂkatan proÂdukÂtivitas,†ujar PresiÂden DiÂrekÂtur Lippo KaraÂwaci Ketut Budi Wijaya.
BerÂdaÂsarÂkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pendaÂpatan Lippo KaraÂwaci mengungguli penÂÂdaÂpatan para pengembang papan atas lainnya, seperti PT Agung PodoÂmoro Land Tbk (APLN) yang mencatat pendapaÂtan Rp 2,316 triliun, PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) Rp 1,603 triliun, PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) Rp 1,514 triliun, PT CiÂputra Development Tbk (CTRA) Rp 1,318 triliun, dan Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) Rp 1,115 triliun.
Total pendapatan ke-39 emiten properti selama semester I-2012 mencapai Rp 20,18 triliun, tumÂbuh 37,3 persen dibanding peÂriode sama tahun lalu, dengan total pertumbuhan laba bersih 59,4 persen menjadi Rp 4,67 triliun. Emiten properti yang meÂlantai di BEI berjumlah 44 emiÂten. Dari jumlah itu, baru 39 emiten yang sudah menyampaiÂkan laporan keuangan.
Analis Properti PT GMT Asset Management Arya Cipta SuganÂdria mengatakan, Indonesia meÂrupakan satu dari lima negara dengan pertumbuhan lahan untuk perumahan dan kawasan tertinggi di dunia. Pertumbuhan lahan proÂperti tertinggi di provinsi DKI Jakarta, Kalimantan Timur dan Bali. “Daerah yang paling proÂspektif untuk mengembangkan lahan properti seperti DKI Jakarta dan Bali tumbuh 14-15 persen,†kata Arya.
Analis dari Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengÂungkapkan, lonjakan pendapatan dan laba bersih emiten properti dipicu kenaikan harga properti, seÂperti rumah dan apartemen, serta keÂnaikan tarif sewa mal. KeÂnaikan harga itu juga diikuti perÂmintaan terhadap produk proper ti yang masih cukup tingÂgi.
“Karena itu, ramalan tentang bubble properti, terutama di JaÂboÂdetabek, tidak benar. PerminÂtaan properti, khuÂsusnya di JaÂbodeÂtaÂbek justru teÂrus meningÂkat,†ujar dia. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: