Awas, Harga Daging Bisa Tembus 100 Ribu Per Kg

Pengusaha Merengek Minta Keran Impor Dibuka Lagi

Kamis, 02 Agustus 2012, 08:28 WIB
Awas, Harga Daging Bisa Tembus 100 Ribu Per Kg
ilustrasi, daging
rmol news logo Kalangan pengusaha merengek ke pemerintah agar membuka keran daging impor. Alasannya, agar harga komoditi tersebut tidak makin melonjak.

Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta Sarman Simanjorang meng­a­ta­kan, kuota impor daging sapi yang ditetapkan pemerintah pada 2012 masih belum men­cukupi karena kebutuhan terus me­ning­kat. Hal itu, menurutnya, me­nye­babkan pasokan daging sapi yang kurang serta harga di pa­saran terus naik terutama men­jelang Lebaran ini.

“Kondisi di lapangan saat ini harga daging sapi sudah men­capai 93 ribu per kg. Kalau peme­rintah tidak segera menambah kuota, maka dikhawatirkan harga akan terus naik hingga me­nem­bus 100 ribu per kg. Masalah itu harus segera disikapi, jangan sam­pai terjadi gejolak di ma­sya­rakat maupun kalangan pelaku usa­ha,” tegas Sarman kepada Rak­yat Mer­deka di Jakarta, kemarin.

 Ketua Komite Daging Sapi Jakarta ini menjelaskan, penu­runan kuota dari 100 ribu ton pa­da 2011 menjadi sekitar 34 ribu ton pada 2012 berdampak pada kurangnya pasokan daging sapi. Asumsi pemerintah mengatakan, saat ini ada 20 ribu ton daging sapi lokal. Namun kenyataannya, daging lokal belum dapat me­cu­kupi kebutuhan dalam negeri, sehingga masih terjadi kenaikan harga dan kelangkaan daging di kalangan pelaku usaha.

Pemerintah, menurut Sarman, harus segera menyikapi karena industri pengolahan mem­bu­tuhkan bahan baku daging se­perti sosis, bakso, kornet dan se­je­nisnya. Selain itu, pelaku usaha di bidang horeka (hotel, restoran, kafe dan katering) juga mem­bu­tuhkan bahan baku da­ging dalam menjalankan usahanya, ikut me­rasakan dampak keter­batasan pa­sokan daging.

“Horeka di Jakarta kan jum­lahnya ribuan. Mereka pasti sa­ngat mem­butuhkan pasokan, khu­sus­nya da­ging sapi. Termasuk pengusaha hotel yang khawatir tak mendapat pa­sokan daging men­jelang hari raya karena karena ter­batas kuotanya,” jelasnya.

Dia mengaku pro terh­a­dap da­ging lokal serta meng­inginkan terwujudnya keman­di­rian pa­ngan. Namun, pada kenyata­an­nya daging lokal belum mampu me­me­nuhi kebutuhan pasar.

“Peme­rintah melalui Kemen­terian Per­ta­nian  me­nyatakan saat ini tersedia 20 ribu ton da­ging lokal. Kalau memang ada, ke­napa kelangkaan serta ke­naikan harga sekarang ini ter­jadi?” tanyanya.

 Sarman juga mengungkapkan, 8.300 ton daging untuk Juli sam­pai Desember tidak masuk akal. Sebab, kuota tahun ini haya 34 ri­bu dibandingkan 100 ribu ton tahun lalu. Kuota dipotong  66 persen dengan asumsi daging lokal mampu penuhi pasar, na­mun kenyataannya tidak.

“Mulai Maret lalu kami sudah sam­paikan kepada pemerintah. Mulai bulan ini saat Ramad­han dan menjelang Lebaran per­min­taan meningkat, sementara keter­sedian semakin langka,” ujarnya.

Ketua Asosiasi Distributor Daging Indonesia (ADDI) Su­harjito mengatakan, harga da­ging pada periode puasa dan Lebaran tahun ini merupakan harga ter­tinggi sela­ma beberapa tahun ter­akhir akibat pemerintah memang­kas drastis kuota impor daging sapi. Me­nurutnya, kalau­pun har­ga turun pada pekan per­tama Ra­madhan, hal itu lebih di­sebabkan oleh permintaan yang melemah karena harga yang ter­lampau ting­gi menjelang puasa.

Pihaknya, kata Suharjito, mera­gukan pernyataan pemerintah yang menyebutkan stok daging sapi lokal cukup, bahkan surplus 41.123 ton pada periode Lebaran ini. Menurutnya, harga daging sapi tak akan melambung se­tinggi sekarang jika pasokan memadai.

“Kalau harga naik seperti ini, harusnya Ke­menterian Perdaga­ngan bisa me­nyampaikan ke Ke­menterian Pertanian bahwa sapi lokal belum siap dan harus me­nempuh cara lain,” tandasnya.

Sementara di daerah, harga da­ging sapi terus merambat dan di­prediksi bisa melejit ke ki­saran Rp 80 ribu per kg. Padahal di hari biasa, harga daging hanya Rp 60 ribu-65 ribu per kg. “Kalo bulan puasa memang naik,” kata Wahyu, pedagang daging sapi di pasar tradisional Banjarnegara, Jateng.

Sebelumnya, Dirjen Peter­nakan dan Kesehatan Hewan Kementan Syukur Iwantoro mengatakan, ke­butuhan daging sapi di dalam negeri masih surplus 20 ribu ton. Daging ter­sebut berasal dari sapi lokal dan sapi bakalan eks impor. “Untuk konsumsi masyarakat dan horeka  masih surplus,” ujarnya.

Usai meninjau Pasar Mayestik, Jakarta kemarin, Menteri Perda­gangan Gita Wirjawan berjanji akan terus memantau bahan ke­butuhan, ter­masuk daging.

“Pantauan harga di Pasar Ma­yestik cukup stabil. Misalnya beras, harganya cukup terjangkau di kisaran Rp. 8.000-9.000/kg, tergantung jenisnya. Lalu, gula pasir dan minyak goreng curah masing-masing seharga Rp. 13.000/kg dan 12.000/kg,” jelas Gita, kemarin. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA