Teka-teki di balik mundurnya Direktur BUMN sedikit terkuak. Menteri BUMN Dahlan Iskan mengatakan, mundurnya seÂjumÂlah direksi perusahaan milik neÂgara dengan alasan gaji rendah sangat manusiawi dan wajar.
“Saya juga ketika menjabat Dirut PLN inginÂnya tidak lama-lama hanya 3,5 tahun, tidak mau lama-lama hingga 5 tahun. KareÂna saya harus memÂperbaiki ekoÂnomi keluarga saya,†kata Dahlan di Jakarta, kemarin.
Hal itu diungkapkan Dahlan menanggapi mundurnya Dirut PT INTI (Persero) Irfan Setiaputra dengan alasan pribadi, yaitu kaÂrena financial plan (rencana keÂuangan) alias gaji yang tidak seÂsuai dengan kapasitasnya. Irfan yang sudah mengabdi selama 3,5 tahun di INTI, mengaku akan menjadi CEO pada sebuah peruÂsahaan tambang swasta.
Menurut Dahlan, memang ada orang yang merasa mampu menÂÂÂdaÂpatkan gaji pada perusaÂhaan swasta yang jauh lebih besar diÂbanding bekerja sebagai Dirut BUMN seperti INTI, itu sangat wajar dan manusiawi. Gaji poÂkok Dirut INTI sekitar Rp 50 juta per bulan dinilai Dahlan sudah cukup besar.
“Seorang profesional seperti Irfan secara pribadi layak untuk mendapat gaji berkisar Rp 75 juta-Rp 100 juta. Tapi tentu saya tidak bisa menahan Irfan untuk tetap di INTI dengan menjanjikan keÂnaikan gaji,†ujarnya.
Dahlan menjelaskan, peÂnenÂtuan gaÂji direksi BUMN tentu diÂsesuaikan dengan usaha atau bisÂnis dari masing-masing peruÂsaÂhaan. “Perusahaan tidak bisa diÂpaksa untuk membayar gaji seÂorang direksi di atas ketentuan itu. Karena konsekuensinya kalau gaji seorang dirut dinaikkan, gaji direksi yang lain termasuk koÂmisaris dan para kepala divisi juÂga harus naik,†ujarnya.
Untuk itu, tambah Dahlan, soal layak atau tidaknya penggajian direksi di suatu BUMN akan diÂserahkan kepada publik sebagai kajian untuk menjadi masukan kepada Kementerian BUMN.
Sebelumnya, Irfan meneÂgasÂkan, pengunduran diri tersebut bukan karena adanya tekanan piÂhak-pihak tertentu, melainkan karena alasan pribadi. “Saya meÂngundurkan diri bukan karena ada konflik dengan internal INTI maupun dengan Menteri BUMN, tapi lebih kepada alasan pribadi. Saya memiliki rencana jangka panjang dan butuh untuk meÂraÂpikan financial plan,†jelasnya.
Peraih penghargaan IBM STAR of the STARS Award, IBM ProÂfessional Achievement Award itu pernah curhat jika saat hari pertaÂma kerja di BUMN, dia meÂrasa wah dengan fasilitas ruÂangan yang didapatnya walaupun peruÂsahaan dalam keadaan rugi. MiÂsalnya menÂdapatkan lift khuÂsus, ruangÂan besar plus tempat tidur dan toilet , tas yang dibawakan satpam dan pintu yang dibukakan staf.
“Itu membuat kita tidak pengen seÂlamanya di BUMN. Ketika keÂkuasaan berÂlimÂpah apapun diatur orang, kadang-kaÂdang memang nikmat,†ujarnya. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: