Cuma Bulog Yang Mampu Kalahin 2 Importir Kedelai

Agar Tata Niaga Sehat, Dominasi Cargill Cs Wajib Dipangkas

Rabu, 01 Agustus 2012, 08:29 WIB
Cuma Bulog Yang Mampu Kalahin 2 Importir Kedelai
ilustrasi, Kedelai
rmol news logo Tudingan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) soal dugaan kartel bisnis kedelai tidak bisa dianggap enteng. Hanya Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) yang diperkirakan mampu mengimbangi peran dua im­portir kakap kedelai, yakni PT Gerbang Cahaya Utama dan PT Cargill Indonesia.

Rencana pemerintah akan meng­izinkan perajin tempe dan tahu untuk mengimpor langsung kedelai dari produsen di luar ne­geri guna menekan kartel, tidak akan berjalan maksimal.

“Untuk bisa impor langsung kedelai mem­­butuhkan biaya yang besar, apalagi ada mini­mum car­go,” kata Dirjen Industri Kecil dan Menengah Kemente­rian Per­industrian Euis Saedah di Jakarta, kemarin.

Euis mengatakan, minimum cargo impor kedelai mencapai 80.000 ton. Aturan ini yang mem­buat perajin tahu dan tempe tidak sanggup melakukan impor lang­sung karena membutuhkan biaya yang besar. Tidak heran, jika im­por kedelai hanya dikuasai oleh beberapa perusahaan besar saja.

Meski demikian, Kemenperin juga ingin agar kartel impor (do­minasi pasar oleh beberapa im­por­tir) kedelai dihapus karena mem­buat harga kedelai menjadi tinggi. Semua pihak harus turut ber­parti­sipasi membantu kegi­atan impor langsung oleh perajin tempe agar harga kedelai bisa murah.

Sebelumnya, KPPU men­si­nya­­lir, melambungnya harga ke­delai akibat langkanya komodi­tas itu, karena praktik kartel da­lam impor ke­delai. Dua pemain besar yang terlibat kartel ke­delai adalah PT Cargill Indo–nesia dan PT Ger­bang Cahaya Utama yang di­si­nya­lir mengua­sai pasar im­por kedelai di In­donesia se­kitar 74 persen.

Ekonom Indef Enny Sri Hartati menu­tur­kan, se­baiknya kebutuh­an ba­han pokok untuk kebutuhan ma­sya­rakat, meka­nisme impor­ta­si­nya diatur. Tidak boleh sem­ba­rangan, baik dalam bentuk kuo­ta atau dari pihak yang ber­hak untuk melaku­kan impor. Du­lu, impor barang komoditas ha­nya Bulog yang diperbolehkan dan tidak diserah­kan kepada me­ka­nisme pasar.

Menurut Enny, dengan meng­ikuti mekanisme pasar, maka orientasinye hanya ke­untungan.  Tidak memperhatikan kebutuhan masyarakat. Tapi kalau dipegang oleh negara, maka negara harus memperhatikan kepentingan an­tara produsen dan konsumen.

“Dalam beberapa tahun ter­akhir, negara tidak melakukan kon­­trol yang baik terhadap im­por­­tasi. Nah, ini yang menjadi per­soalannya, peme­rintah harus turun tangan mengurusi produk strategis kebu­tuhan masyara­kat,” tegasnya kepada Rakyat Mer­deka di Jakarta, kemarin.

Dikatakan, importir bisa men­dominasi karena mekanisme pe­nunjukan bisnis kedelai tidak ter­buka, sehingga hanya ada be­be­rapa importir saja yang boleh me­lakukan importasi. Padahal, kalau dibuka secara luas, per­sai­ngan pa­sar bisa sempurna.

“Ada beberapa importir besar yang ken­dalikan harga, sehingga pa­sar­nya menjadi oligopoli. Ka­lau jumlah importirnya banyak, pasti pasar akan balan­cing (se­im­bang),” cetusnya.

Enny menyatakan, persoalan yang terjadi selama ini karena tata niaga yang kurang baik. Maka terjadi permainan kartel, sehing­ga pasar tidak sempurna. Ia men­contohkan, naiknya harga ke­bu­tu­han pokok bukan hanya dari supply dan de­mand, melainkan harga yang ditentukan oleh pe­ngen­dali harga.

“Kartel ini mem­punyai ke­kuat­­an, jadi para pro­dusen dan petani hanya bisa me­nerima har­ga yang mereka (kartel) tentu­kan. Tidak bisa me­netukan harga sendiri,” ujar Enny.

Dihubungi terpisah, anggota Komisi VI DPR Sukur Nababan menegaskan, masalah utama  ca­rut marutnya bahan pokok se­perti kedelai, dikarenakan pe­me­rintah tidak punya buffer stock. Apabila negara tidak punya buffer stock dan tidak me­lakukan impor lang­sung, tentu saja swas­ta akan mencari keun­tungan se­be­sar-besarnya.

“Peng­usaha bisa main­kan har­ga, konsumen dan produsen men­jadi tidak ter­lindungi. Tapi, kita juga tidak boleh menya­lah­kan pa­ra peng­usaha. Intinya pe­me­rin­tah harus ikut terjun dalam mela­kukan im­portasi,” kata Sukur ke­pada Rakyat Merdeka, kemarin.

Perum Bulog me­nyatakan siap menjadi sta­bili­sa­tor harga kede­lai. Namun, di­per­lu­kan infra­struktur gudang pe­nyim­pa­nan tambahan apabila peme­rintah benar-benar mere­alisasikan ke­inginannya ter­sebut. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA