“Dengan waktu tersisa, target tingkat kemiskinan tahun ini yang sebesar 10,5-11,5 persen harus diÂcapai. Ini memang tugas berat dan kita harus bekerja ekstra unÂtuk mencapai target tersebut,†ungkap Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan PembaÂnguÂnan Nasional (PPN/Bappenas) Armida Alisjahbana di Gedung Bappenas, Jakarta, kemarin.
Menurutnya, meski untuk menÂcapai target tersebut meruÂpaÂkan tugas berat, pemerintah akan beÂrusaha merealisasikan program-program pengentasan kemiskinÂan yang sudah ada. Sinergisitas progÂram antar pusat dan daerah tetap dikedepankan untuk meÂneÂkan angka kemiskinan.
Untuk itu, pihaknya akan mengÂutamakan program jangka penÂdek dengan memberikan perÂlinÂdungan sosial seperti jaminan keÂsehatan masyarakat (jamkesmas) beras untuk masyarakat miskin (raskin) dan beasiswa pendidikan.
Selain itu, pemerintah juga akan menjaga stabilitas harga baÂhan pokok guna mencegah meÂningkatnya beban hidup maÂsyaÂrakat. Pemerintah optimis tingÂkat inflasi masih bisa terjaga di teÂngah kondisi perekonomian yang sampai saat ini terjaga baik.
“Sampai dengan data terakhir relatif terjaga. Sebentar lagi puaÂsa dan Lebaran, harus dipastikan tetap stabil,†kata Armida.
Pemerintah berjanji fokus paÂda upaya-upaya pengentasan kemisÂkinan pada wilayah InÂdonesia tiÂmur. Kemudian ke JaÂwa karena jumlah penduduk misÂkin terbesar di Jawa tetap.
Menurut Armida, pertumbuhÂan ekonomi tidak langsung berÂimÂplikasi pada perlambatan peÂngenÂtasan kemiskinan, tetaÂpi penÂcipÂtaan kesempatan kerja.
Anggota Komisi IX DPR PoemÂpida Hidayatulloh menyaÂyangÂkan lambannya penurunan angka kemiskinan. Ia menilai, lamÂbanÂnya pengentasan kemiskiÂnan lanÂtaran pemerintah kuÂrang serius menjalankan program yang ada.
Sebab itu, dia mendesak peÂmerintah membubarkan Tim NaÂsional Percepatan PeÂnangÂguÂlangan Kemiskinan (TNP2K). Pasalnya, pembentukan TNP2K tidak sesuai mandat Undang-UnÂdang No.13 Tahun 2011 tentang Penanganan Fakir Miskin.
“Undang-Undang soal PeÂnaÂnganan Fakir Miskin ini telah meÂngamanatkan kepada menteri unÂtuk menetapkan kriteria miskin sebagai dasar untuk melakÂsaÂnaÂkan penanganan fakir miskin di InÂdonesia. Praktiknya, menteri diminta berkoordinasi dengan TNP2K guna mendapatkan perÂsetujuan mengenai target bantuÂan sosial untuk para fakir misÂkin tersebut,†jelas Poempida.
Selain itu, Politisi Partai GolÂkar ini mengatakan, data-data yang dimiliki TNP2K tidak terÂseÂdia untuk publik dan tidak transÂparan. Ini yang menjadi perÂsoalan kegagalan implementasi jamkesmas selama ini.
Menurut Poempida, komisinya dalam hal ini berkepentingan unÂtuk mendapatkan data tersebut sehubungan dengan perbaikan sistem jamkesmas dan persiapan implementasi Badan PenyeÂlengÂgara Jaminan Sosial (BPJS).
“Untuk mengantisipasi keranÂcuan data yang akan dipakai implementasi BPJS ke depan, perlu ada verifikasi data yang akurat dan mempunyai legiÂtiÂmasi,†tandasnya.
Pengamat Ekonomi dari InsÂtitute for Development of EcoÂnomics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati menyatakan, penuÂrunan persentase penduduk misÂkin yang masih rendah dibanding pertumbuhan ekonomi menunÂjukkan program pengentasan keÂmiskinan belum tepat sasaran.
“Persentase penurunan penduÂduk miskin 0,53 persen itu masih sangat kecil dibanding pertumÂbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 6,5 persen,†kata Enny.
Persentase penduduk miskin seharusnya turun 0,8 persen tiap ekonomi tumbuh 1 persen untuk mencapai pembangunan ekoÂnomi yang optimal. “Artinya, seÂÂhaÂrusnya persentase turun samÂpai 5,2 persen. Apalagi angÂgaran pemerintah unÂtuk kemisÂkinan naik terus. Itu berÂarti progÂram keÂmiskinan peÂmeÂrintah tiÂdak tepat sasaran,†kritiknya.
Selain itu, Enny mengatakan, data kemiskinan Badan Pusat Statistik (BPS) diragukan karena menggunakan komponen survei yang tidak realistis.
Dia menjelaskan, garis keÂmisÂkinan Rp 267.408 untuk daerah perkotaan dan Rp 229.226 untuk daerah pedesaan tidak sesuai deÂngan biaya hidup masyarakat sehari-hari. “Padahal anggaran yang digelontorkan setiap taÂhunÂnya meningkat cukup tajam,†sentil Enny. [Harian Rakyat Merdeka]
< SEBELUMNYA
BERIKUTNYA >
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: