Selain itu, program rumah muÂrah Swadaya dan Pegawai Negeri Sipil (PNS) dianggap beÂlum bisa dijadikan solusi untuk menekan angka backlog. Data BaÂdan Pusat Statistik (BPS) 2012 menyeÂbutÂkan, angka backlog peÂruÂmaÂhan sebanyak 13,6 juta.
AngÂka ini bertambah 800 ribu unit per taÂhun dan akan terus berÂÂtamÂbah apabila Kementerian PeÂrumahan Rakyat (Kemenpera) tiÂdak segera meneÂmukan solusi.
Ketua Housing Urban DeÂveÂlopment Institute (HUDI) Zulfi Syarif Koto mengatakan, piÂhakÂnya belum melihat adanya penuÂrunan angka backlog rumah. Ia melihat, angka backlog malah terus bertambah.
“Masalah lahan, birokrasi, keÂnaikan harga rumah bersubsidi, menambah jumlah backlog seÂmakin tinggi dan tidak terÂcaÂpaiÂnya target pemerintah dalam peÂmenuhan hak MBR dalam memÂperoleh rumah yang layak seÂbaÂgaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945,†kata Zulfi saat dihubungi Rakyat Merdeka di Jakarta, Rabu (6/6)
Menurut dia, Menpera mesti meningkatkan kemampuan daya beli MBR melalui penambahan subsidi supaÂya bunga kredit, uang muka ruÂmah menjadi renÂdah dan memÂpermudah birokrasi.
“Diharapkan dengan sisa wakÂtu yang tinggal dua tahun lagi, Menteri Djan mampu memÂbaÂngun sinergi dengan Pemerintah Daerah (PemÂda), pengembang, perbankan bahÂkan dengan proÂdusen barang bangunan untuk menggenjot backlog, khususnya untuk MBR melalui penambaÂhan subsidi,†tegas Zulfi Zulfi.
Dia juga mengkritik kinerja Menpera yang dinilai tidak subÂstantif dalam mendoÂrong progÂram perumahan. MisalÂnya, meneÂken Memorandum of UnÂderÂstanÂding (MoU) sana-sini tanÂpa ada realisasi yang jelas, renÂdahnya penyaluran FLPP serta tiÂdak terÂbangunnya koordinasi yang baik antar stakeholder lainnya.
Pakar hukum properti Erwin Kallo meminta Menpera bisa leÂbih terarah dalam mendorong program perumahan. MenuÂrutÂnya, masalah perumahan sebaikÂnya diserahkan kepada Pemda.
“Bila itu diserahkan pada PemÂda, masalah backlog bisa cepat terÂatasi karena Pemda dinilai lebih paham dan mengerti kebutuhan wilayahnya sendiri mulai dari ranÂcangan tata kota, saluran air, listrik dan lainnya,†ujar Erwin.
Menurut Wakil Ketua Komisi V DPR bidang Perumahan MuÂhidin M Said, backlog rumah adaÂlah masalah berat yang harus ditanggung pemerintah. Dia menyarankan Menpera bisa memÂÂberikan subsidi rumah yang lebih besar supaya daya beli MBR bisa meningkat serta mamÂpu mengÂatasi masalah lahan deÂngan cepat dengan memperkuat koÂorÂdinasi dengan Pemda.
“Intervensi pemerintah sangat diperlukan baik masalah lahan, subsidi kredit dan uang muka muÂrah, supaya daya beli rakyat terÂhadap rumah bisa meningÂkat,†tegas Muhidin.
Politisi Golkar ini belum meÂlihat adanya penurunan backlog yang dilakukan Menpera selama ini. “Memang Menpera gencar melakukan roadshow ke seÂjumÂlah daerah dalam rangka progÂram perumahan. Tetapi belum satu pun yang sudah terealisasi. Nah waktu dua tahun ini dihaÂrapkan Djan bisa menemukan solusi teÂpat untuk menekan angÂka backlog,†cetusnya.
Anggota Komisi V DPR Yudi Widiana Adia meminta pemeÂrinÂtah tidak menaikkan harga ruÂmah bersubsidi, tetapi menamÂbah subÂsidi dan mempermudah proÂses subsidi rumah bagi MBR meÂlalui FLPP. Namun dalam pelakÂsanaÂannya, FLPP tidak meÂnunÂjukkan hasil yang mengÂgemÂbirakan daÂlam mengurangi backlog peruÂmahan.
â€Faktanya setiap tahun jumlah backlog bertambah lebih besar ketimbang realisasi pengadaan pembangunan perumahan. ArÂtinya, penyerapan subsidi tidak berjalan efektif,†katanya.
Deputi Bidang Pembiayaan Kemenpera Sri Hartoyo mengataÂkan, pihaknya akan berusaha meÂngenÂdalikan harga rumah untuk para PNS, buÂruh serta mengÂopÂtimalkan penyaÂluran FLPP.
“Kami tengah melaÂkukan soÂsiaÂÂlisasi kepada pihak bank penyalur terkait Peraturan MenÂteri PeÂruÂmahan Rakyat (PerÂmenpera) yang meÂngatur FLPP agar maÂsyarakat yang ingin beli rumah deÂngan harga terjangkau dan suku bunga rendah bisa meÂningkat,†jelas Sri Hartoyo. [Harian Rakyat Merdeka]
< SEBELUMNYA
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: