Agus mengatakan, jika harga BBM masih dijual dengan harga seÂkarang, maka keseimbang angÂgaran pada 2014 akan sulit terÂcapai. Apalagi, anggaran subsidi BBM pada 2013 dan 2014 akan meningkat tajam.
Bekas Dirut Bank Mandiri itu memprediksi anggaran subsidi tahun depan bisa tembus Rp 319,7 triliun atau 19 persen dari belanja negara dalam Anggaran PenÂdaÂpatan dan Belanja Negara (APBN). Sedangkan pada 2014 subsidi energi sekitar Rp 347,2 triliun.
“Total subsidi energi ditambah non subsidi pada tahun 2013 bisa Rp 360,5 triliun,†kata Agus di Jakarta, kemarin.
Agus Marto ini juga memÂpreÂdiksi harga InÂdonesia Crude PriÂce (ICP) 2013 akan berada paÂda kisaran 100-120 dolar AS per barel deÂngan volume BBM berÂsubsidi seÂkitar 45 juta kiloliter. MeÂnurutÂnya, jumlah tersebut memÂbengÂkak diÂbanding volume BBM bersubsidi tahun ini sebesar 40 juta kiloliter.
“ICP itu bisa sekitar 115 dolar AS per barel. Pada 2001 harganya maÂsih 28 dolar AS per barel, 2008 maÂsih di bawah 100 dolar AS per baÂrel. Sedangkan, 2011 rata-raÂtaÂnya 111 dolar AS per barel,†jelasnya.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero WaÂcik mengatakan, kenaikan harga BBM subsidi sangat tergantung dengan kondisi harga minyak duÂnia. Menurut dia, jika harga minyak dunia melonjak tajam di atas paÂtokan ICP, maka peluang naik ada.
Namun untuk tahun ini, kata Wacik, syarat-syarat untuk meÂnaikÂkan harga BBM yang diatur dalam APBNP belum terpenuhi, sehingga pemerintah belum bisa menaikkan harganya.
Dalam pasal 7 Ayat 6A UnÂdang-Undang APBNP 2012 meÂnyeÂbutkan pemerintah bisa meÂnyesuaikan harga jika minyak di atas rata-rata ICP 15 persen daÂlam enam bulan terakhir.
“Kita bisa menaikkan harga kalau terjadi konflik di negara TiÂmur Tengah yang akan berÂdamÂpak paÂda naiknya harga miÂnyak duÂnia. Tapi kami tidak mengÂhaÂrapÂkan itu,†katanya.
Karena itu, pihaknya saat ini akan fokus pada pengendalian konÂÂsumsi BBM alias pemÂbaÂtaÂsan. Namun, untuk pembatasan ini tidak bisa diterapkan langsung seÂrentak tapi harus bertahap.
Resmikan SPBU Pertamax
Kemarin, Pertamina meresÂmiÂkan pom bensin yang hanya menÂjual BBM non subsidi di SPBU COCO (Company Owned, ComÂpany Operated) milik Pertamina di Kawasan Pondok Indah, JaÂkarta Selatan.
Direktur Marketing dan TraÂding Pertamina Hanung Budya Yuktyanta mengatakan, pemÂbangunan pom bensin khusus pertamax itu untuk mengenÂdalikan konsumsi BBM subsidi.
“Kami terapkan di daerah elite terlebih dulu karena di daerah elite daya belinya tinggi dan memiliki kesadaran tinggi untuk tidak membeli BBM bersubsidi,†katanya. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: