Menurut Ketua Umum KaÂmar Dagang dan Industri (KaÂdin) Indonesia Suryo Bambang SuÂlisto, penanganan maupun reguÂlasi TKI masih memerlukan perÂbaikan mendasar. Karena itu KaÂdin Indonesia merasa perlu memberikan dukungan dan soÂlusi agar sektor ketenagaÂkerjaan daÂpat ditata dengan baik serta efektif.
“Kadin menyadari, TKI bukan sebagai objek saja dan semestiÂnya dikelola dengan baik. Saya prihatin kondisi TKI kita di luar negeri banyak yang memÂpriÂhaÂtinkan,†ujar SBS, sapaan Suryo Bambang Sulisto saat pertemuan dengan sejumlah pimpinan PeruÂsahaan Jasa TeÂnaga Kerja IndoÂnesia (PJTKI), terkait PenangaÂnan Kekisruhan Penempatan TKI ke Luar Negeri, di Jakarta, kemarin.
Untuk itu, SBS berjanji, Kadin akan mencari solusi terbaik mengÂingat fungsinya sebagai mitra pemeÂrintah dalam menÂdorong invesÂtasi ekonomi yang kondusif.
“Saya berharap KemenakerÂtrans (Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi) mendengar masukan kami, dapat menata keÂlola dengan baik serta memberiÂkan arahan ke asosiasi terkait keÂtenagakerjaan. Masalah keteÂnaÂgaÂkerjaan ditata baik, karena mereka adaÂlah sebagai pahlawan devisa,†jelas SBS.
Pada kesempatan itu, PerusaÂhaan Pelaksana Penempatan TeÂnaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) mengungkapkan tenÂtang permasalahan yang mereka hadapi mengenai pengelolaan TKI.
Mereka mengeluh rumitnya kebijakan yang dikeluarkan oleh Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI) selaku operator dan KemenaÂkerÂtrans selaku regulator.
“Kami saat ini memiliki duaÂlisme antara BNP2TKI dan KeÂmeÂnakertrans. Karena sering memÂbuat peraturan yang bertenÂtangan yang membuat kita biÂngung serta Kemlu (Kementerian Luar Negeri) dan KemenakerÂtrans, sering berebut masalah TKI. Tapi tidak pernah selesai,†ujar anggota IMMA (Indonesia Middle East Manpower AssociaÂtion) Taufik M Badris.
Menurutnya, masalah moratoÂrium (pemberhentian sementara pengiriman) TKI juga menjadi keluhan para pengusaha pengirim dan penempatan TKI ke negara-negara Timur Tengah. Selain itu, Taufik juga menyebut pengusaha PPTKIS sering disudutkan terkait masalah yang menimpa para TKI.
“Hanya 0,000 sekian persen TKI yang bermasalah padahal lebih banyak TKI yang berhasil. Kami (pengusaha PJTKI) sebagai pengusaha penerbit pahlawan devisa (TKI) jarang disebut oleh pemerintah. Malah kami malah sering diberitakan negatif di meÂdia,†sesalnya.
Padahal, tambah Taufik, TKI yang ditempatkan di luar negeri diklaim telah diasuransikan deÂngan premi sebesar Rp 400 ribu per bulan.
“Sehingga jika terjadi sesuatu kepada TKI akan ada yang meÂnanggung pembiayaannya. Ini untuk meminimalisir dampak dari pemberitaan-pemberitaan miring terhadap PJTKI,†imbuhnya.
Menanggapi masukan dan keluhan dari para pengusaha PPTKIS, yang juga berada di baÂwah naungan Kadin Indonesia, SBS mengatakan, akan serius menresponsnya.
“Kadin Indonesia ingin memÂbantu IMMA. Kita perlu tangani masalah yang menimpa PJTKI (asuransi dan sebagainya). Kadin Indonesia memiliki tanggungÂjawab untuk menyelesaikan maÂsalah yang dihadapi oleh penguÂsaha PJTKI. Ini demi kepenÂtiÂngan neÂgara,†katanya. [Harian Rakyat Merdeka]
BERIKUTNYA >
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: