Yang menjadi masalah saat ini adalah masyarakat masih mengÂanggap bahwa program KB itu adalah kewajiban istri atau waÂnita. Padahal, wanita juga meÂmiÂliki hak reproduksi dan keÂseÂtaÂraÂan gender yang sama dengan pria.
Data BKKBN menunjukkan, lebih dari 60 persen pasangan usia subur sudah mengikuti program KB, tapi hanya 1,5 persen pria yang ikut ber-KB.
Kendala kontrasepsi pada pria salah satunya adalah faktor keÂtersediaan pilihan yang terbatas, baru ada kondom dan vasektomi.
Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) Sugiri Syarief mengeÂmukakan, alat kontrasepsi yang tersedia untuk pria saat ini adalah konÂdom dan vasektomi (KB steril pria). Untuk pil KB pria, kaÂtanya, masih dalam tahap peÂngujian klinis fase kedua.
Selain kendala tersebut, lanÂjutÂnya, pria takut ikut KB karena puÂnya anggapan yang salah. “Takut tidak bisa ‘berdiri’ atau kalau paÂkai kondom katanya tidak enak,†kata Sugiri di Jakarta.
Terkait minimnya jumlah pria yang ikut vasektomi, Ketua Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia Prof Dr Biran Affandi, SpOG menjelaskan bahwa vaÂsektomi atau sterilisasi pada pria adalah salah satu metode konÂtrasepsi yang aman dan tidak ada efek sampingnya.
“Metode ini sangat ampuh, efisien, dan tidak berbahaya. Tak berpengaruh terhadap kemamÂpuan maupun kepuasan seksual suami-isteri,†kata Biran yang juga perwakilan Asia Pasific Council of ConÂtraception.
Biran juga menyampaikan cara KB permanen untuk pria ini dapat dilakukan bagi pria yang sudah tidak ingin punya anak lagi, yaitu memotong saluran sperma yang menghubungkan buah zakar dengan kantong sperma, seÂhingga tidak dijumpai lagi bibit dalam ejakulat seorang pria.
“Tapi bukan dikebiri lho, keÂbaÂnyakan pria menganggap vaÂsekÂtomi adalah dikebiri,†ujar Biran.
Menurut dia, operasinya aman dan mudah, hanya meÂmerlukan beberapa menit dibius lokal di klinik atau praktek dokter, maÂlahan lebih mudah dari tubekÂtomi. “Tapi, vasektomi baru efekÂtif setelah ejakulasi 20 kali atau tiga bulan pasca operasi. Sebelum itu masih menggunakan konÂdom,†tambah Biran.
Dijelaskannya, spermatozoa pria yang sudah divasektomi masih terus diproÂduksi buah zakar, namun karena tertahan tidak bisa dialirkan memasuki prostat, tumpukan spermatozoa akan diserap kemÂbali oleh tubuh.
“Itu bukan masalah pada keÂsehatan seks pria dan tidak memÂpengaruhi kesehatan tubuh,†tanÂdasnya.
BKKBN menemukan bahwa angka keÂsadaran menggunakan alat kontrasepsi di masyarakat miskin masih rendah.
Padahal, jumlah penduduk yang terus membludak akan menjadi ancaman serius jika tidak diimbangi ketersediaan pangan dan lapangan kerja.
“Masyarakat di daerah-daerah terpencil masih lebih sulit menÂjangkau pusat pelayanan KB. Apalagi, tenaga penyuluh BKKBN saat ini hanya ada 20.000 orang yang harus meÂlayani 77.000 desa di seluruh Indonesia. Idealnya, satu desa dilayani satu petugas.
“BKKBN mengalami kekuÂrangan 57.000 tenaga penyuluh,†ujar Deputi Bidang KB dan Kesehatan ReÂproduksi BKKBN dr Julianto Witjaksono.
Ia menjelaskan, beberapa kenÂdala yang menyebabkan renÂdahÂnya kesadaran maÂsyaÂrakat misÂkin ini adalah masih tingginya perÂsepsi bahwa anak merupakan sumber investasi di masa depan.
Menurut dia, maÂsyarakat miskin belum menyadari pentingnya KB dan masih enggan menjangkau tempat pelayanan KB.
Dikatakannya, kenyataan ini ini diperburuk lagi atas teÂmuan bahwa 40-60 persen peserta KB suntik tidak meÂlanjutkan pengÂguÂnaan kontraÂsepsi karena terÂkenÂdala biaya dan jarak perjalanan.
Untuk mempermudah pelaÂyanan KB, masyarakat di daerah peÂdaÂlaman dianjurkan mengÂgunakan konÂÂtrasepsi jangka panjang. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: