“Struktur APBNP 2012 disuÂsun sangat tidak pro poor (pro masyarakat miskin), peÂnurunan anggaran subsidi beÂnih dan pupuk menunjukkan pemerintah tidak pernah serius meÂngurusi pertanian dan paÂngan,†kata anggota Komisi IV DPR Rofi’ Munawar.
Ketidakseriusan pemerintah dalam melakukan diversifikasi energi menyebabkan subsidi enerÂgi membengkak dan berÂdamÂpak langsung kepada miÂnimÂnya anggaran sektor perÂtaÂnian. Bahan bakar minyak (BBM) selalu menjadi alasan selama ini, akibat pemerintah tidak serius mengatur sektor energi dan fiskal.
“Anggaran infrastruktur dan pertanian sangat minim diÂalokasikan oleh pemerintah. PaÂdahal dua sektor tersebut yang menopang keberhasilan penÂcapaian swasembada paÂngan dan target 10 juta ton beras di 2014.†tegas Rofi’.’
Menurutnya, anggaran inÂfrastruktur dalam APBNP haÂnya dialokasikan Rp 168 triÂliun, atau naik Rp 16,9 triliun dari alokasi APBN senilai Rp 152 triliun. Lalu anggaran banÂtuan sosial senilai Rp 55 triÂliun atau naik Rp 4,6 triliun dibanÂding alokasi APBN senilai Rp 47 triliun, sementara subsidi untuk petani justru turun.
Subsidi pupuk senilai Rp 17 triliun pada APBN dikoreksi turun menjadi Rp 14 triliun pada APBNP. Subsidi benih Rp 279 miliar pada APBN dikoÂreksi turun menjadi Rp 129 miliar pada APBNP. PenuÂrunan dilakukan pemerintah karena perubahan volume peÂnyaluran pupuk bersubsidi, hal ini berkaitan dengan renÂdahnya realisasi tahun lalu.
Ketua Fraksi Partai KebangÂkitan Bangsa (PKB) Marwan Jafar menegaskan, pembaÂnguÂnan infrastruktur dan pemÂberdayaan desa harus berjalan berÂsamaan demi terciptanya kesejahteraan perekonomian masyarakat.
Menurutnya, infrastruktur masih menjadi persoalan serius di negeri ini, terutama di tingkat perdesaan.
“Tidak sedikit infrastruktur desa yang saat ini kondisinya tidak terurus, bahkan masih banyak desa yang belum meÂmiliki infrastruktur, misalnya miniÂmnya proses pemÂbaÂngunan jalan, akses penyeÂdiaan listrik, jembatan desa, irigasi desa, sarana air bersih, saluran air minum, pasar desa, sanitasi, dan titian perahu,†jelasnya.
Buruknya kondisi infraÂstruktur desa tersebut masih diperparah lagi dengan tidak adanya pemberdayaan masyaÂrakat desa sehingga peningÂkatan kesejahteraan masyaraÂkat berjalan lambat.
“Kalau melihat faktanya, mindset dan program pemeÂrintah perlu ditata dan ditinjau lagi sebab ada faktor-faktor yang mempengaruhi gagalnya proyek infrastruktur desa dan pemberdayaan desa,†paÂparnya. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: