Holding Pangan Jangan Cuma Fokus Pada Beras

Sabtu, 07 April 2012, 08:03 WIB
Holding Pangan Jangan Cuma Fokus Pada Beras
ilustrasi/ist
RMOL.Anggota Komisi IV DPR Ma’mur Hasanuddin berharap, holding perusahaan pangan yang sedang diusahakan pemerintah menjadi perusahaan pelat merah dapat memperkuat kelembagaan di tingkat petani. “Dulu ada is­tilah Badan Usaha Milik Petani (BUMP), namun itu hanya seba­tas istilah yang belum sempat di­realisasikan,” ujar Ma’mur.

Penguatan kelembagaan ting­kat petani yang dimaksud adalah di­berikannya ruang kepada petani un­tuk membuat badan atau kor­po­rasi yang sahamnya tetap di­miliki petani, namun perusahaan tersebut tetap di bawah holding perusahaan pangan tersebut.

Kementerian BUMN telah me­ngajukan pendirian PT Pangan Nusantara sebagai perusahaan hol­ding pangan untuk menye­le­saikan persoalan pangan nasional yang hingga kini masih ber­po­le­mik akibat kebijakan impor pa­ngan yang tinggi dari tahun ke ta­hun. Padahal, kemampuan tanah Indonesia sangat berpotensi un­tuk memproduksi pangan sendiri.

Ada persoalan mendasar yang dilihat Ma’mur ketika mencer­ma­ti cikal bakal BUMN pangan ini. Disiapkan tiga BUMN. Yakni PT Pupuk Sriwijaya, PT Pertani dan PT Sang Hyang Seri. Namun, dia tidak melihat ada badan lain yang bergerak memenuhi sektor pa­ngan seperti yang berhubungan dengan perikanan maupun ke­lautan serta perusahaan garam.

Artinya, semangat pengelolaan pa­ngan yang hendak dikerjakan se­cara profesional itu hanya se­batas pengelolaan pangan yang ber­asal dari tanaman saja.

“Sa­ngat di­sayangkan kalau hol­ding BUMN pangan ini hanya ter­fokus pa­da tanaman, atau bah­kan le­bih pa­rah holding hanya konsen pada upaya pengelolaan beras,” ujarnya.

Menurut Ma’mur, pem­­ben­tukan BUMN pangan ini ma­sih jauh dari harapan apabila di­kait­kan de­ngan kampanye yang saat ini di­sua­ra­kan bahwa alasan BUMN ini ter­bentuk karena hen­dak men­ce­tak lahan pertanian ba­ru. “Ini semua menunjukkan bah­­wa fokusnya ha­nya beras,” ujarnya.

Namun demikian, Ma’mur ber­harap hingga 2014 target pen­ceta­kan sawah baru seluas 1 juta hektar di luar Pulau Jawa dapat terealisasi. Ini menunjukkan bah­­wa pemerintah ingin mem­buk­tikan hendak mengelola pa­ngan secara nasional.

Menteri Pertanian (Mentan) Suswono mengungkapkan, saat ini pola konsumsi pangan mas­yarakat Indonesia belum berim­bang dan beragam, bahkan juga belum bergizi seimbang.

Hal itu terlihat dari pola pangan yang terlalu banyak mengkon­sumsi beras. Sementara kon­sumsi karbohidrat dari sum­ber pangan umbi-umbian relatif kecil bah­kan cenderung turun. Sedangkan kon­sumsi terigu meningkat terus.

Konsumsi langsung pangan sumber karbohidrat dari padi-padian, yakni beras, jagung dan terigu sebesar 316 gram per ka­pita per hari.

Konsumsi umbi-umbian seper­ti singkong, ubi jalar, kentang mau­pun sagu, menurut data Survei Sosial Ekonomi Nasional 2011 sebesar 40 gram per kapita per hari.

Padahal, menurut Pola Pa­ngan Harapan (PPH) yang me­rupakan ukuran konsumsi pa­ngan ideal da­ri sisi ke­be­ra­gaman dan ke­se­im­­bangan gizi, konsumsi kar­bo­hid­rat idel un­tuk padi-padian sebesar 275 gram per kapita per hari dan um­bi-umbian menca­pai 100 gram per kapita per hari. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA