Menko Kesra Jamin Duit BLT Nggak Lari Kemana-mana

Harga Bensin Batal Naik, Dana Kompensasi Buat Subsidi

Jumat, 06 April 2012, 08:03 WIB
Menko Kesra Jamin Duit BLT Nggak Lari Kemana-mana
ilustrasi, blsm
RMOL.Dana Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) atau yang lebih ngetop dengan Bantuan langsung Tunai (BLT), akan dibekukan karena harga BBM batal naik.

Menurut Menko Kesra Agung Laksono, seluruh kom­pen­sasi BBM tidak relevan lagi dilaksa­nakan lantaran kenaikan harga BBM subsidi tidak jadi. Namun, karena anggaran itu sudah ma­suk dalam APBN, maka dana tersebut akan direalokasikan un­tuk subsi­di BBM.

“Kom­pen­sasi itu akan direalo­ka­sikan untuk menutupi kebu­tuhan-kebutuhan dalam upaya pen­subsidian,” kata Agung di kan­tornya, Rabu (4/4).

Namun, Agung menjamin alo­kasi dana BLSM tersebut akan dibekukan hingga kemungkinan harga BBM dinaikkan. “Semen­tara program BLSM akan dibe­kukan dan dana tersebut tidak akan lari ke mana-mana sampai harga BBM jadi naik,” tegasnya.

Seperti diketahui, BLSM yang dianggarkan sebesar Rp 17,08 tri­liun akan diperuntuk­kan bagi 18,5 juta rumah tangga sasaran. Satu bantuan bernilai Rp 150 ribu per bu­lan, per ke­lu­arga yang diba­yar per tiga bu­lan melalui kantor pos.

Menurut Agung, akibat dari tidak adanya kenaikan harga BBM, setiap bulan pemerintah harus me­ngalokasikan anggaran tamba­han subsidi Rp 5 triilun untuk me­lakukan subsidi BBM. Namun, dari paket kompensasi yang tidak dilak­sanakan, yakni BLSM dan sub­sidi untuk angkutan kota/desa dan penambahan jumlah beras miskin (raskin), ada satu yang dite­ruskan yaitu, program bazar atau pasar murah.

“Keberadaan pasar murah di­pan­dang turut mendorong dan mem­bantu menekan kenaikan har­ga yang sudah telanjur naik. Ini sekaligus menekan pedagang un­tuk menurunkan harga ba­rang,” terangnya. 

Agung me­ngatakan, jika tidak ada kenaikan har­ga BBM, maka pemerintah bi­sa mengaju­kan kembali ran­ca­ngan APBN untuk menutupi ke­butuhan tam­bahan subsidi selama sem­bilan bulan.

Pengamat eko­­nomi Ahmad Erani Yustika setu­ju dengan hal tersebut. Menurut dia, hal ter­penting yang mesti dila­kukan pemerintah saat ini adalah men­jalankan apa yang telah dise­pa­kati di DPR.

Menurut Erani, pe­merintah bi­sa mengalihkan da­na BLSM ke sektor lain selain ke pensubsidian BBM. Namun, selama yang sub­sidi itu sudah dija­lankan, penga­lihan bisa dilakukan bila ada ke­lebihan dari ang­garan tersebut.

“Misalnya dari hasil peng­he­ma­tan belanja barang atau dari ke­pegawaian. Yang tidak bi­sa di­otak-atik adalah subsidi yang te­lah di­sepakati di DPR. Ka­lau me­ng­ubah itu, pemerintah ha­rus min­ta perse­tujuan DPR,” ujarnya.

Di samping itu, sudah seha­rus­nya pemerintah melakukan pem­benahan dalam politik fiskal yang lebih berpihak kepada ma­sya­ra­kat. Bukan untuk kepenti­ngan bi­ro­krasi, pembayaran utang dan fasilitasi korupsi. “APBN yang sehat ditunjukkan oleh kri­teria-kriteria tersebut,” cetusnya.

Erani berpendapat, politik fis­kal pemerintah saat ini makin men­jauh dari upaya untuk pem­bangunan dan kesejahteraan ma­syarakat karena lebih meng­ako­modasi belanja pemerintah yang makin meningkat setiap tahun.

Padahal, anggaran subsidi yang dianggarkan dalam APBN porsi­nya makin menurun dan ini me­nunjukkan subsidi memang ingin dihilangkan secara sistematis oleh pemerintah. Artinya, politik fiskal selama ini hanya untuk menyantuni birokrasi, bukan ke­sejahteraan masyarakat. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA