Pemerintah sudah gregetÂan dengan sikap produsen luar neÂgeri yang enggan membuka laÂhan produksi di Indonesia. PaÂdahal, pasar penjualan terbeÂsar mereka ada di Indonesia. Seperti yang diÂlaÂkukan RIM asal Kanada.
“Kita patut priÂhatin dengan BB ini. Padahal, annual sales tahun 2011, 10 perÂsen dari total penjualÂan BB diÂsumÂbang oleh konsumen di InÂdonesia,†cetus Gita kepada pers di Jakarta, kemarin.
Untuk itu, pemilik Ancora Group ini mengaku, pihaknya akan mengeluarkan kebijakan. Arah kebijakan tersebut, semua proÂdusen barang yang memÂpuÂnyai pasar terbesar di InÂdoÂneÂsia diminta untuk membuka pabrik di dalam negeri. “Policy ini kami arahkan pada industri elekÂtroÂnika, termasuk BB,†cetusnya.
Ditanya kemungÂkinÂan kebijaÂkan ini akan berÂsingÂgungan deÂngan Kementerian Komunikasi dan InÂformatika (KeÂmenÂkominÂfo), yang juga pernah mengkritik RIM, Gita memÂbanÂtah. Menurut dia, Kemenkominfo hanya memÂpersoalkan masalah keÂamanan data dan kapasitas server.
“Memang sekarang siapa yang bisa menjamin keamanan data di BB tersebut,†ujarnya.
Karena itu, pihaknya berjanji akan bersikap keras dalam soal BB tersebut. Dan yang paling memÂÂÂbuat dia kecewa, karena hingga kini RIM sama sekali tiÂdak pernah mencatumkan kode waktu di InÂdonesia. Misalnya, Jakarta.
“Kalau teman-teman pers memÂÂÂbuka BB, lihat time-nya acuÂÂÂanÂÂÂnya selalu Bangkok dan KuaÂla Lumpur, padahal pasar terÂbesar BB ada di Indonesia. Karena itu, ketika bertemu MenÂteri PerÂdaÂgaÂngan Kanada di HoÂnolulu, BB saÂya sengaja saya umpetin dan maÂlah saya keluarin i-PhoÂne,†kata Gita yang juga menÂjabat Kepala Badan KoordiÂnasi Penanaman Modal (BKPM) ini.
Dia menjelaskan, kebijakan KeÂmendag tersebut tetap akan meÂngacu pada Peraturan Menteri KeÂuangan (PMK) No.130 taÂhun 2011 yang mengatur tenÂtang pemÂberian dan pembebasan faÂsilitas bagi pajak penghasilan baÂdan.
“Kami tidak akan meneÂtapÂkan tarif tambahan bagi BB kaÂrena hal itu tidak sesuai dengan program ASEAN Connectivity yang seÂÂmaÂngatnya menghilangkan berÂÂbagai hambatan usaha,’’ tandasÂnya.
Sebelumnya, Regional ManaÂging Director RIM Gregory Wade meÂnyatakan, investasi RIM untuk Indonesia tidak harus dalam benÂtuk pabrik seperti di Malaysia.
“UnÂtuk di Indonesia banyak moÂdel investasi yang telah kami siapÂkan, seperti menggandeng deÂveloper untuk membangun platÂform BlackBerry, learning center dan lainnya,†kilah Wade.
Menurut dia, pengembangan aplikasi ini juga bisa berefek ke baÂnyak hal seperti pembukaan lapangan kerja, kreativitas dan inovasi. “Jangan lupa, kami juga telah membangun semacam learning center bekerja sama deÂngan ITB (Institut Teknologi BanÂdung),†cetus Wade.
Badan Regulator TelekoÂmuÂnikasi Indonesia (BRTI) menolak mentah-mentah klaim sepihak produsen BB tersebut. TerÂlebih soal pembangunan NetÂwork AggreÂgaÂtor yang nyatanya cuma dibangun router, itu pun diÂtemÂpatkan di SiÂngaÂpura. BRTI meÂnilai, RIM tidak menghargai peÂmerintah Indonesia dan reguÂlator sama sekali.
Menurut anggota komite BRTI Heru Sutadi, pemerintah sejatiÂnya sudah menyampaikan rasa kekecewaannya itu. “Kita sudah tahu lama mereka (mau) bangun (network aggregator) di SingaÂpura,†pungkasnya. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: