BI Janjikan Insentif Buat Perbankan Syariah

Perkuat Peningkatan Produk & Layanan di Masyarakat

Kamis, 22 Maret 2012, 08:20 WIB
BI Janjikan Insentif Buat Perbankan Syariah
Bank Indonesia (BI)
RMOL.Bank Indonesia (BI) menjanjikan akan memberikan insentif kepada perbankan syariah mulai dari perpajakan maupun aturan penetrasi pasar.

Dengan insentif tersebut, pasar syariah diyakini akan lebih tum­buh dibandingkan bank kon­vesional.

Deputi Gubernur BI Halim Alamsyah mengatakan, pem­berian insentif  akan segera di­lakukan untuk mendorong pasar syariah menjadi lebih besar. Se­bab, industri perbankan syariah masih terbilang baru.

“Saya kira pemberian insentif akan menjadi motifasi bank sya­riah untuk terus maju dan ber­saing di pasar bersama bank kon­vesional lain,’ kata Halim saat membuka Munas Ke-V dan Se­minar Nasional Asbisindo ber­tajuk ‘Pengembangan Produk Perbankan Syariah Sesuai ke­butuhan Masyarakat Indonesia’ di Jakarta, kemarin.

Berdasarkan catatan BI, se­lama lima tahun terakhir total aset perbankan syariah diklaim men­capai 40,5 persen atau se­be­sar Rp 177 triliun.

“Pertumbuhan itu mencakup bank syariah, Unit Usaha Syariah (UUS), maupun BPR syariah. Angka tersebut dua kali lebih ce­pat daripada pertumbuhan bank konvensional,” ungkap Halim.

Untuk itu, ia mengaku optimis dalam waktu 10-15 tahun ke de­pan, industri perbankan akan tum­buh hingga 20 persen dan perbankan syariah baru 4 persen dari pangsa pasar saat ini.

“Kalau percepatan ekonomi bisa kita pertahankan untuk tum­buh seperti sekarang ini, tentu saja waktu yang dibutuhkan akan lebih cepat lagi,” ujarnya.

Halim mengatakan, industri syariah Indonesia saat ini masuk di posisi empat dunia atau di ba­wah Iran, Malaysia dan Arab Saudi. Posisi Indonesia jauh le­bih baik dibanding Bahrain dan Uni Emirat Arab.

Namun, ia menyadari bahwa tantangan industri syariah ke de­pan sangat berat. Yaitu pertama, bagaimana memenuhi kebutu­han kuantitas maupun mening­katkan kualitas sumber daya manusia yang islami.

Kedua, perlunya meningkat­kan inovasi produk dan layanan yang kompetitif yang memang ber­ba­sis pada kebutuhan mas­ya­rakat. Ketiga, keber­lang­su­ngan prog­ram sosialisasi dan edukasi ke­pada masyarakat.

“Apalagi siklus kebutuhan pro­duk yang ditawarkan kadang terlalu pendek. Kalau tidak ada inovasi dari pihak perbankan, mi­nat masyarakat terhadap sek­tor perbankan syariah akan se­makin minim,” ungkap Halim.

Halim berharap, industri per­bankan syariah mampu me­ngem­­bangkan dan mening­kat­kan pro­duk serta layanannya di masya­rakat dengan selalu ber­inovasi sesuai aturan yang ada.

Ketua umum Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) A Riawan Amin menyambut baik dorong Bank Sentral ter­hadap per­tum­buhan bank sya­riah ke depan.

“Tanpa ada dukungan dan kerja sama, industri syariah sulit untuk tumbuh,” kata Riawan.

Riawan juga berharap, kebe­radaan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bisa menjadi satu bagian dalam menjaga stabilitas per­tumbuhan syariah Indonesia dari dampak krisis global.

“Kami berharap OJK bisa men­jadi ba­gian dari industri syariah ke de­pan,” tandasnya. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA