Janji Bulog Serap Beras Lokal Cuma Omdo Tuh

Jelang Kenaikan Harga BBM, Pasokan Raskin Mesti Ditambah

Rabu, 21 Maret 2012, 10:15 WIB
Janji Bulog Serap Beras Lokal Cuma Omdo Tuh
ilustrasi

RMOL. Janji Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) untuk menyerap beras lokal dinilai hanya omong kosong alias omdo. Hingga pertengahan Maret ini, beras lokal yang terserap baru 5,7 persen dari target.

Saat ini, Perum Bulog baru menyerap beras petani sebanyak 225.000 ton hingga Maret 2012. Dilihat dari target  pengadaan 4,5 juta ton hingga akhir tahun ini, jumlah itu baru 5,7 persen dari  total target.

Dirut Perum Bulog Sutarto Ali­moeso mengatakan, penga­daan ter­sebut masih on the track, bah­kan lebih tinggi dibanding 2010 dan 2011. Pasalnya, rata-rata pe­nga­daan beras tahun ini 20.000 ton per hari. Sedangkan selama dua ta­hun sebelumnya, pi­haknya hanya mampu mela­ku­kan peng­adaan kurang dari 20.000 ton per hari.

“Puncak pengadaan  adalah 2-3 minggu lagi. Diharapkan nanti pengadaan naik menjadi 40-50  ribu ton. Kalau itu tercapai, pro­duksi bagus dan harga stabil ren­dah,” ujar Sutarto usai rapat den­gar pen­dapat dengan Komisi IV DPR di Jakarta,  Senin malam (19/3).

Sutarto merinci, penyerapan ter­besar berasal dari Jawa Te­ngah 193 ribu ton, disusul Jawa Timur 83 ribu ton, Sulawesi  Selatan 21 ribu ton,   Jawa Barat  21 ribu ton, serta NTB dan  Aceh  6.000 ton. Selain itu, Yogyakarta 3.300 ton, Sumatera Selatan 2.700 ton,  Kalimantan Tengah 1.900 ton, dan Lampung 1.700 ton.

Sebelumnya, Menteri Perta­nian Suswono mengeluhkan ren­dahnya penyerapan Bulog. Petani juga ke­sulitan memasok ke gu­dang Bu­log. Parahnya lagi, di tengah pa­nen raya, harga pem­be­lian ga­bah atau beras yang di­terima petani di bawah harga pem­belian pemerin­tah (HPP).

“Harga beras saat ini di bawah HPP, jadi tak ada alasan lagi buat Bulog untuk tidak membeli seba­nyak-banyak­nya beras se­bagai ca­dangan pa­ngan,” kata Suswono.

Hal itu diketahuinya dari pe­nga­­ku­an petani di Babat, Jawa Ti­mur (Jatim) bahwa harga pem­belian gabah kering panen (GKP) hanya Rp 3.150 per kg atau di bawah Harga Pembelian Pokok baru Rp 3.300 per kg serta di ba­wah tingkat peng­gi­lingan Rp 3.350 per kg.

Menurut Suswono, hal itu sa­ngat disayangkan ka­rena di te­ngah panen raya, petani malah tidak mem­peroleh harga yang su­dah di­tetapkan. Dia mengaku, harga ga­bah yang lebih rendah dari HPP juga ditemukan di bebe­rapa dae­rah lain­nya. Sebagai BUMN pe­nyangga pangan, se­harusnya Bu­log tetap menyerap seluruhnya.

Fenomena tersebut, kata Men­tan, me­nunjukkan satuan petugas (satgas) Bulog tidak turun ke la­pangan untuk langsung membeli beras petani. Pihaknya  berharap, Bulog bisa lebih cepat menyerap.

“Kalau lewat Maret  dikhawa­tirkan Bulog tidak bisa memenuhi targetnya menyerap beras  peta­ni,” ujar Suswono cemas.

Tambah Raskin

Beredar kabar pemerintah akan menempuh opsi lain guna me­ngantisipasi dampak kenaikan harga BBM, yaitu dengan mela­ku­kan penambahan jumlah pe­nyaluran beras untuk rakyat mis­kin (raskin) kepada hampir 18,5 juta rumah tangga sasaran (RTS).

Jika program ini jadi dilakukan pemerintah, maka Bulog ha­rus mengalokasikan seluruh angga­ran pengalihan BBM untuk menyerap beras petani lokal. “Ras­kin yang diberikan harus menggu­nakan beras lokal selu­ruhnya, Bulog tidak boleh impor untuk me­menuhi ras­kin,” timpal Anggota Komisi IV DPR Rofi Munawar.

Dia menekankan, hal itu harus dilakukan karena berbagai ma­cam insentif telah banyak diberi­kan kepada Bulog seperti HPP yang telah dinaikkan dan penga­lihan subsidi BBM pun sudah dianggarkan untuk raskin.

Pemerintah berencana menya­luran raskin pada 2012, awalnya jumlahnya sama dengan tahun lalu, yakni 3,41 juta ton. Beras ras­kin sebanyak itu diperuntuk­kan bagi 17,49 juta RTS. Namun karena harga BBM naik, kini raskin ditam­bah untuk 18,5 juta RTS selama 14 bulan dari bia­sanya 12 atau 13 bulan saja de­ngan volume 15 kg per bulan per RTS dengan harga tebus Rp 1.600 per kilogram (kg).

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa Indonesia telah mengimpor beras pada Januari 2012 dari Vietnam mencapai 154,527 juta dolar AS atau setara 266,3 ribu ton. Kemudian dari Thailand per Januari 2012 se­besar 35,198 juta dolar AS atau setara 59 ribu ton.

Terakhir dari beras India sebe­sar 9,197 juta dolar AS atau setara 19,37 ribu ton. Di antaranya di te­ngah panen raya musim rendeng ini, ren­cananya akan datang 14.500 ton beras asal India. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA