ICW: Seleksi Dewan Komisioner OJK Sarat Kepentingan Politik

Senin, 19 Maret 2012, 08:15 WIB
ICW: Seleksi Dewan Komisioner OJK Sarat Kepentingan Politik
ilustrasi/ist
RMOL.Nama-nama yang berhasil menembus tahap akhir pemilihan calon Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (DK OJK) dinilai sarat permainan politik. Panitia seleksi (pansel) dicurigai sebenarnya sudah mengantongi nama anggota DK OJK.

tudingan itu dilontarkan In­donesia Corruption Watch (ICW). Mereka menilai, jaringan Bank Mandiri mendominasi proses seleksi DK OJK. Para pejabat ak­tif maupun bekas pejabat Bank Mandiri bertaburan, baik di pa­nitia seleksi maupun pada kan­didat yang lolos seleksi.

Divisi Korupsi Politik Indo­nesian Corruption Watch (ICW) Apung Widadi menuding ada konflik kepentingan pada Bank Mandiri. Misalnya saja, Pansel DK-OJK dipimpin Menteri Ke­uangan Agus Mart­o­war­dojo, bekas Di­rut Bank Mandiri.

“Anggota Pansel lainnya, se­perti Gunarni Soeworo dan Mah­mudin Yasin adalah Komisaris Bank Mandiri. Sedangkan Dar­min Nasution bekas Komisaris Bank Mandiri,” beber Apung kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Sedangkan di formasi kandidat DK OJK, Apung mencontrengi nama-nama yang berasal dari Bank Mandiri. Sebut saja I Wayan Agus Mertayasa yang  bekas Wadirut Bank Mandiri dan Ris­winandi yang kini masih menjabat Wakil Dirut Bank Mandiri.

Tak hanya itu, ICW juga men­catat 20 calon anggota DK OJK bermasalah, karena pernah terli­bat beberapa kasus industri ke­uangan di masa lalu. Dan lima calon di antaranya dianggap ter­lalu tua dan harusnya pensiun.

Dikonfirmasi masalah ini, Ketua Tim Pansel DK OJK Agus Martowardojo menyambut baik penilaian terhadap 37  calon DK OJK tersebut.

“Kalau masukan itu bukan hanya dari ICW, dari regulator, dari kom­ponen masyarakat, dari indus­tri, dari asosiasi, itu semua kita terima dan kita validasi. Kita meyakinkan ke­benarannya dan akan menjadi per­timbangan final nantinya,” kata Agus di Jakarta, Jumat (16/3).

Agus berjanji Pansel akan trans­paran dan men­jun­jung ting­gi in­tegritas dalam me­milih calon bos OJK ini. “Kita trans­pa­ran soal itu semua,” tegas Agus.

Anggota Pansel Fuad Rah­many memilih tidak memberi­kan komentar terkait tuduhan ICW. “Maaf, tudingan seperti se­baik­nya tidak perlu saya tang­gapi,” kata Dirjen Pajak itu singkat via SMS kepada Rak­yat Merdeka, Jumat (16/3).

Anggota Komisi XI DPR Arif Budimanta menilai, asum­si-asumsi negatif yang ber­kem­bang di mas­yarakat tak per­lu ditang­gapi seri­us. “Pansel su­dah ber­buat fair, mu­lai dari proses pembukaan calon OJK hingga taraf pemilihan calon,” katanya kepada Rakyat Merdeka.

Menyoal banyaknya calon dan panitia seleksi dari Bank Man­diri, Arif menilai hal itu hanya ke­­be­tulan. Karena, besar ke­mung­kin­an putra-putri terbaik Pansel serta DK OJK berasal dari Bank Mandiri. “Bukan ber­mak­sud men­dis­kre­ditkan bank yang lain. Tapi, memang kita semua tahu bahwa lembaga per­bankan yang saat ini mempu­nyai kredibi­litas yang baik ada­lah Bank Man­diri,” tandasnya.

Pendapat berbeda diutarakan pengamat ekonomi Yanuar Riz­ky. Dia adalah salah satu yang kece­wa terhadap proses re­k­rutmen calon DK OJK.

Yanuar menuding calon pe­mi­lihan bos OJK sudah di­ran­cang se­demikian rupa dan sarat de­ngan ke­pentingan politik.

“Saya tidak melihat adanya transparansi saat saya ikut men­daftar menjadi calon De­wan Ko­misioner OJK,” tandasnya.

Yanuar lalu meramalkan, ca­lon Komisioner OJK nantinya hanya akan diisi oleh orang-orang yang sudah dekat dengan panitia se­leksi. Yanuar menye­but­nya de­ngan istilah “4 L” alias Lu Lagi Lu Lagi. “Saya yakin itu. Pasti wajahnya tidak akan asing lagi di mata masyarakat kita saat ini,” ujarnya. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA