Berita

Diskusi RMOLTV bertajuk "Bandung Belum Beres, Hayuk Urang Bereskeun". (Foto: RMOL)

Nusantara

Semrawutnya Bandung: Kemacetan, Tata Ruang, hingga Kebijakan 'Hangat-Hangat Tahi Ayam'

SENIN, 03 AGUSTUS 2026 | 22:56 WIB | LAPORAN: SAEFUL ZAMAN

Kemacetan parah, semrawutnya tata ruang, hingga lemahnya eksekusi kebijakan di lapangan menjadi sorotan tajam dalam podcast Civic Talk RMOLTV bertajuk "Bandung Belum Beres, Hayuk Urang Bereskeun" yang digelar di Bandung belum lama ini.

Dipandu Redaktur Khusus RMOL Saeful Zaman, diskusi ini menghadirkan Ketua My Grab My Adventure (MGMA) Putra Ramdhansyah, pengusaha sekaligus pendiri Komunitas Bandung Ngariung Perry Tristianto, Co-Founder Bandung Ngariung Martin B. Chandra, serta pengamat perkotaan Frans Ari Prasetyo.

Para narasumber sepakat, benang kusut persoalan Kota Bandung bukan karena minimnya regulasi, melainkan lemahnya implementasi, inkonsistensi tata kelola, serta minimnya komitmen menjaga ruang kota.


Ketua MGMA, Putra Ramdhansyah mengungkapkan, kemacetan di Kota Kembang tak lepas dari melesatnya aktivitas ekonomi dan pertumbuhan kendaraan, termasuk transportasi daring. Namun di sisi lain, ribuan pengemudi ojek daring (ojol) terpaksa "memakan" bahu jalan karena tidak tersedianya shelter atau ruang tunggu yang memadai.

"Sering kali kami terpaksa menunggu di pinggir jalan karena tidak ada tempat yang layak. Akibatnya, bahu jalan ikut terpakai dan berpotensi menambah kemacetan," kata Putra dikutip Senin, 3 Agustus 2026.

Sementara itu, pengusaha kawakan Perry Tristianto menyoroti jamurnya bisnis kuliner dan kafe yang abai terhadap aturan tata ruang. Menurutnya, banyak alih fungsi rumah tinggal menjadi tempat usaha tanpa memikirkan lahan parkir hingga pengolahan sampah.

"Jangan hanya membangun tempat usaha. Harus dipikirkan juga tempat parkirnya, pengelolaan sampahnya, penghijauannya, dan dampaknya bagi lingkungan sekitar," tegas Perry.

Nada serupa disampaikan Co-Founder Bandung Ngariung, Martin B. Chandra. Ia menilai Pemkot Bandung sebenarnya mengantongi tumpukan regulasi, namun mandul saat dieksekusi di lapangan. Pembangunan ruang terbuka hijau (RTH) pun sering kali sekadar formalitas untuk mempercantik wajah kota, bukan berbasis kebutuhan ekologis.

"Kita sering bersemangat membangun dan membuat aturan, tetapi lupa merawat dan memastikan semuanya berjalan sesuai tujuan awal," kritiknya.

Dari kacamata akademis, pengamat perkotaan Frans Ari Prasetyo membeberkan bahwa Bandung sejatinya dirancang hanya untuk menampung 500 ribu hingga 700 ribu jiwa. Namun kini, akibat mobilitas warga kawasan penyangga (commuter), beban aktivitas kota pada siang hari melonjak drastis hingga menyentuh 4 juta jiwa.

Kondisi tersebut membuat kapasitas jalan dan transportasi publik kedodoran. Frans juga menyentil penyakit klasik pergantian rezim yang kerap mengubah arah kebijakan tata ruang.

"Kalau tata ruang terus berubah setiap ganti kepemimpinan, pembangunan jadi tidak konsisten. Akhirnya muncul bangunan-bangunan baru tanpa dukungan infrastruktur yang memadai," tutur Frans.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Dua Tahun Cukup bagi Prabowo Mengasuh Geng Solo

Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:43

UPDATE

Bursa Asia Tertekan, Kospi Anjlok Lebih 2 Persen

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:33

Ekonom Sentil Menteri Prabowo: Jangan Jadi Beban Presiden!

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:21

Wall Street Tertekan Aksi Jual Saham Teknologi

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:56

Lonjakan Minyak Tekan Logam Dunia: Emas Anjlok ke Level Terendah

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:45

Saham BYAN Tancap Gas, Naik 3,16 Persen ke Rp10.600

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:22

Penguatan IHSG Sinyal Kepercayaan ke Pemerintah Mulai Pulih

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:10

Pasar Eropa Merah Gara-gara Minyak

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:06

Terbuka Peluang Bangun Museum Haji Indonesia

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:58

Pujian Prabowo Jangan Jadi Obat Tidur Menteri

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:57

Pemerintah Harus Berlakukan Wajib Halal pada Oktober 2026

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:19

Selengkapnya