Berita

Ilustrasi (Artificial Intelligence)

Bisnis

Amerika Serikat Batalkan Izin Penjualan Minyak Iran

RABU, 08 JULI 2026 | 08:19 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pemerintah Amerika Serikat (AS) mencabut otorisasi yang sebelumnya mengizinkan Iran menjual minyaknya ke pasar global setelah terjadi serangkaian serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz. 

Keputusan tersebut diumumkan Departemen Keuangan AS pada Selasa, 7 Juli 2026, waktu setempat.

Seorang pejabat AS yang enggan disebutkan namanya mengatakan pencabutan izin dilakukan sebagai respons atas tindakan Iran yang dinilai mengancam keamanan pelayaran internasional.


"Iran hanya akan menuai manfaat jika mereka menunjukkan perilaku yang baik. Tindakan Iran di Selat Hormuz sama sekali tidak dapat diterima oleh Amerika Serikat dan akan ditindaklanjuti dengan konsekuensi," kata pejabat tersebut kepada CNBC, dikutip Rabu, 8 Juli 2026.

Menurut Joint Maritime Information Center (JMIC), kelompok keamanan maritim yang dipimpin AS, sedikitnya tiga kapal tanker diserang di atau sekitar Selat Hormuz pada Selasa. Kapal-kapal tersebut terdiri dari sebuah kapal tanker gas alam cair (LNG), sebuah supertanker minyak, dan satu kapal tanker lainnya.

JMIC juga meningkatkan tingkat ancaman bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz menjadi "parah", dengan memperingatkan bahwa tindakan permusuhan dari Iran kemungkinan besar masih akan terjadi.

Sebelumnya, AS sempat melonggarkan sanksi terhadap ekspor minyak Iran hingga 21 Agustus setelah kedua negara mencapai kesepakatan sementara untuk membuka kembali Selat Hormuz. Kesepakatan itu memungkinkan minyak mentah Iran kembali diperdagangkan dan memberikan sejumlah kelonggaran dalam transaksi pembayaran. Namun, kebijakan tersebut menuai kritik karena dianggap memberikan konsesi besar kepada Teheran.

Sebagai bagian dari kesepakatan, Iran berjanji menjamin keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Namun, Teheran kemudian meminta kapal-kapal menggunakan jalur utara yang berada di bawah pengawasannya. Menurut AS, Iran justru menyerang kapal-kapal yang tetap menggunakan koridor pelayaran yang dilindungi Angkatan Laut AS di sepanjang pantai Oman.

Laporan tersebut juga menyebut banyak kapal kini menghindari jalur utama di tengah Selat Hormuz karena adanya ancaman ranjau yang dipasang Iran, sehingga meningkatkan risiko terhadap salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

UPDATE

Pernah Puji LSP Kapolri Terbaik, Habiburokhman Ungkap Istilah ‘Perkalian Nol’

Minggu, 08 November 2026 | 04:30

Penahanan LSP Jadi Pukulan Berat bagi Jokowi

Minggu, 08 November 2026 | 04:18

Pengamat Puji Ketenangan Jokowi saat Tunjukkan Ijazah di Persidangan

Minggu, 08 November 2026 | 04:00

Ziarah ke Makam Bung Karno, Sekjen PDIP: Kekuasaan itu untuk Rakyat

Minggu, 08 November 2026 | 03:32

Penyadapan Prabowo Mustahil Bukan untuk Tujuan Makar

Minggu, 08 November 2026 | 03:19

Kolaborasi PAM Jaya dan Pemkot Jaktim Hadirkan Sarana Tinju di Kampung Melayu

Minggu, 08 November 2026 | 03:00

Wapres Gibran Tidak Lagi Memiliki Legitimasi sebagai Pemimpin

Minggu, 08 November 2026 | 02:32

Ada Aroma Kuat Makar di Balik Penyadapan terhadap Prabowo

Minggu, 08 November 2026 | 02:22

Kasus Ijazah Jokowi Mirip Pembunuhan Brigadir Yosua

Minggu, 08 November 2026 | 02:04

Wapres Gibran Wajib Menghormati Putusan MA

Minggu, 08 November 2026 | 01:43

Selengkapnya