Berita

Anggota Komisi XI DPR, Ahmad Najib Qodratulah. (Foto: Dok. Pribadi)

Politik

Ahmad Najib Dukung Wacana Perubahan Nama Provinsi Jabar jadi Sunda

SELASA, 07 JULI 2026 | 22:43 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Masyarakat Jawa Barat selaku "pemilik rumah" memiliki hak penuh untuk mengubah nama provinsinya menjadi Provinsi Sunda atau Tatar Pasundan.

Hal tersebut disampaikan Ketua DPW PAN Jawa Barat, Ahmad Najib Qodratulah merespons pro dan kontra terhadap usulan yang kini sudah disetujui oleh seluruh fraksi di DPRD Provinsi Jabar tersebut. Menurutnya, pro dan kontra pendapat sangat lumrah dalam iklim demokrasi.

"Ini kan aspirasinya dari kelompok masyarakat, pasti kita dengarkan. Apalagi aspirasinya dari pemilik rumah (warga Jabar). Pemilik rumah mau ganti nama jadi apa pun ya silakan, bebas dong," kata Najib dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 7 Juli 2026.


Anggota Komisi XI DPR ini mengingatkan, seluruh anggota dewan berkewajiban moral untuk tetap menyerap dinamika aspirasi yang berkembang. Kendati begitu, ia mengingatkan bahwa proses pembahasan wacana ini masih sangat panjang.

"Partai kami senantiasa mendengarkan aspirasi masyarakat terkait perubahan nama Jawa Barat menjadi Tatar Pasundan atau Sunda. Apakah nanti akan terealisasi atau tidak, kita ikuti prosesnya. Ini masih panjang. Kita juga belum tahu bagaimana respons Pak Gubernur," ujarnya.

Melihat dari sudut pandang sejarah, Najib menilai kurang pas opini pihak-pihak yang menolak perubahan nama dengan alasan tidak semua warga di Jabar menggunakan bahasa Sunda.

Ia menerangkan, Kerajaan Tarumanagara di wilayah Bekasi merupakan akar dari sejarah Sunda. Silsilah kekuasaan tersebut kemudian diteruskan oleh Sri Maharaja Tarusbawa Darmawaskita dengan mendirikan Kerajaan Sunda, yang menjadi fondasi berdirinya Kerajaan Pakuan Pajajaran.

"Prabu Tarusbawa inilah yang mendirikan Kerajaan Sunda yang kemudian menjadi Pakuan Pajajaran. Itu ada bukunya, itu sejarah. Jadi Sunda itu bukan lagi berbicara tentang etnis, tetapi kawasan," jelasnya.

Atas dasar itu, Najib meminta semua pihak untuk melihat rencana pergantian nama provinsi ini lewat kacamata sejarah dan budaya, alih-alih mengaitkannya dengan isu sentimen etnis.

"Kalau ada pihak-pihak yang merasa keberatan dengan nama itu, ya tadi, walaupun saya terkesan bercanda, tapi ini harus direnungi oleh kita semua. Yang pemilik rumah mau ganti nama, masa dilarang," pungkasnya.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya