Berita

Anggota Komisi II DPR RI Mardani Ali Sera. (Foto: Istimewa)

Politik

OTT Dua Bupati Beruntun Bukti Akar Masalah Korupsi Belum Tuntas

SELASA, 07 JULI 2026 | 12:11 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Operasi tangkap tangan (OTT) yang menjerat dua kepala daerah secara beruntun, yakni Bupati Langkat Syah Afandin dan Bupati Kuantan Singingi (Kuansing) Suhardiman Amby, dinilai menjadi peringatan bahwa akar persoalan korupsi di daerah belum terselesaikan.

Anggota Komisi II DPR RI Mardani Ali Sera menyebut rentetan kasus tersebut sebagai musibah yang harus dijadikan momentum untuk membenahi faktor-faktor utama penyebab korupsi.

"Ini musibah. Selama ini kita tidak menyelesaikan akar masalah. Mulai dari keserakahan dan high cost politic (politik berbiaya tinggi), harus dibenahi dengan seksama," kata Mardani lewat akun X miliknya, Selasa, 7 Juli 2026.


Menurutnya, praktik korupsi sejatinya dapat dicegah apabila tata kelola pemerintahan dijalankan secara terbuka dan transparan. Seluruh proses bisnis di lingkungan pemerintah daerah harus dipetakan, dibuka kepada publik, dan diawasi secara akuntabel.

"Korupsi sebenarnya dapat dicegah lewat transparansi. Bisnis prosesnya dipetakan dan dibuat transparan serta diumumkan," ujarnya.

Mardani menjelaskan, praktik korupsi di daerah umumnya terjadi dalam bentuk fee proyek, fee promosi dan mutasi jabatan, hingga melibatkan anggota keluarga pejabat. Karena itu, seluruh proses tersebut harus dibuat terang benderang agar tidak memberi ruang bagi praktik suap.

"Ada istilah vampire effect, drakula itu akan mati kalau terkena sinar mentari. Praktik suap-menyuap itu terjadi di ruang gelap," tegasnya.

Politikus PKS itu pun mendorong pemerintah daerah membuka seluruh proses penunjukan dan penetapan pemenang proyek, termasuk mekanisme pengangkatan jabatan di lingkungan pemda.

"Buka proses penunjukan dan pemenang proyek-proyek plus pengangkatan jabatan di pemda agar publik tahu. Kian transparan dan kian akuntabel, kian bersih dan jauh dari praktik korupsi," pungkasnya.


Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya