Berita

Ilustrasi. (Foto: AI)

Publika

Sesuatu yang Tak Tergantikan AI

RABU, 24 JUNI 2026 | 04:30 WIB

"TUJUAN hidup bukanlah sanjungan. Bukan pula harta yang bertaburan. Melainkan jiwa yang bersih dan tenang, yang ilmu dan amalnya selalu seimbang."

Begitulah Buya Hamka pernah mengingatkan. Sebuah nasihat sederhana, tetapi terasa semakin relevan di zaman ketika manusia berlomba menjadi pintar, namun sering lupa menjadi bijaksana.

Pendidikan sejak lama dipandang sebagai jalan untuk melawan kebodohan dan kemiskinan. Melalui pendidikan, seseorang tidak hanya memperoleh keterampilan untuk mencari nafkah, tetapi juga belajar mengenali dirinya sendiri, memahami orang lain, serta membangun peradaban yang lebih beradab.


Namun, dunia hari ini bergerak begitu cepat. Bahkan kadang terlalu cepat untuk sempat kita renungkan.

Di layar gawai, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) bukan lagi sekadar cerita fiksi ilmiah. Ia telah menjadi kenyataan yang memengaruhi cara manusia bekerja, berpikir, hingga berinteraksi. Mesin kini mampu menulis artikel, membuat gambar, menyusun kode program, bahkan memprediksi berbagai tren masa depan. Banyak pekerjaan dapat diotomatisasi, dan kecerdasan manusia seolah menemukan tandingannya.

Tetapi di tengah riuh rendah kepintaran artifisial itu, ada satu ruang sunyi yang tak akan pernah mampu direplikasi oleh barisan kode secanggih apa pun: keluhuran adab dan keheningan akhlak.

Mesin dapat menyimpan miliaran data, tetapi tidak dapat merasakan kasih sayang. Mesin mampu menjawab pertanyaan, tetapi tidak mampu menumbuhkan empati. Mesin bisa belajar dari algoritma, tetapi tidak dapat membedakan mana yang baik dan mana yang benar tanpa nilai yang ditanamkan manusia.

Karena itu, pendidikan sejatinya bukan sekadar proses mencetak manusia yang pintar, melainkan membentuk manusia yang berkarakter.

Salah satu jalan paling sederhana untuk membangun karakter adalah membaca.

Sejak kecil kita akrab dengan ungkapan, “Buku adalah jendela dunia.” Kalimat itu mungkin terdengar biasa, tetapi maknanya sangat dalam. Melalui buku, seseorang dapat menjelajahi dunia tanpa harus meninggalkan tempat duduknya. Dari lembar-lembar buku, kita mengenal sejarah, ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan pengalaman manusia dari berbagai belahan dunia.

Membaca bukan hanya memperluas wawasan. Membaca juga melatih kesabaran, memperkaya imajinasi, membangun rasa percaya diri, dan membentuk karakter. Seseorang yang terbiasa membaca akan lebih mudah memahami kehidupan, lebih terbuka terhadap perbedaan, serta lebih bijak dalam mengambil keputusan.

Yang menarik, kebiasaan membaca bukanlah bakat bawaan. Tidak ada manusia yang lahir dengan kegemaran membaca. Kebiasaan itu dipupuk, dibina, dan dilatih secara terus-menerus. Karena itulah keluarga, sekolah, dan lingkungan memiliki peran penting dalam menumbuhkan budaya literasi.

Buku juga memiliki kekuatan yang melampaui batas geografis. Melalui buku, gagasan dari berbagai penjuru dunia dapat berpindah dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Peradaban besar selalu dibangun oleh masyarakat yang mencintai ilmu dan menjadikan membaca sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Mungkin benar bahwa kecerdasan buatan akan terus berkembang. Mesin akan semakin canggih, pekerjaan akan berubah, dan dunia akan terus bergerak menuju era yang belum pernah kita bayangkan sebelumnya.

Namun satu hal yang tidak boleh hilang adalah keseimbangan antara ilmu dan amal, antara kecerdasan dan kebijaksanaan, antara kemampuan berpikir dan keluhuran akhlak.

Sebab pada akhirnya, manusia tidak dikenang karena seberapa banyak informasi yang ia miliki, melainkan karena seberapa besar manfaat yang ia berikan.

Dan seperti yang diingatkan Buya Hamka, tujuan hidup bukanlah pujian dan kemewahan yang bertaburan, melainkan jiwa yang bersih dan tenang, yang ilmu dan amalnya selalu berjalan beriringan.


Yaya Sunaryo
Kontributor Banrehi dan Periset Senior di Nusantara Centre


Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

Praperadilan Dokter Tifa Ditolak, Ini Pertimbangan Hakim

Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:25

UPDATE

Jaga Energi dan Cairan, Tantangan 14.000 Pelari Maybank Marathon 2026

Senin, 24 Agustus 2026 | 08:25

Bawa Hasil Riset UGM ke Bursa, SWAP Bidik Dana Segar Rp45 Miliar Lewat IPO\

Senin, 24 Agustus 2026 | 08:14

BEI Agendakan RUPSLB, Catat Syarat Kehadirannya

Senin, 24 Agustus 2026 | 08:00

Iran Anggap Negara Pendukung Perang Ekonomi AS sebagai Musuh

Senin, 24 Agustus 2026 | 07:21

ASBI Laporkan Dugaan Penggelapan ke BEI-OJK, Enam Pihak Jadi Terlapor

Senin, 24 Agustus 2026 | 07:03

Hasil Penelitian Ungkap Air Galon Guna Ulang Tak Berisiko Kanker

Senin, 24 Agustus 2026 | 07:02

Pemuda Katolik NTT Berangkatkan Puluhan Relawan ke Flores

Senin, 24 Agustus 2026 | 06:42

PAN Launching Lapor PAN dan PANsar Murah

Senin, 24 Agustus 2026 | 06:27

Pertina Bawa Polemik Legalitas ke PTUN dan PN Jakpus

Senin, 24 Agustus 2026 | 06:14

TNI AL Berhasil Operasi Patah Tulang Korban Gempa NTT di KRI

Senin, 24 Agustus 2026 | 06:02

Selengkapnya