Berita

Tokoh Pemuda Wilayah Adat Tabi, Paulinus Ohee. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Politik

Tokoh Pemuda Papua Soroti Ancaman Provokasi Asing dalam Film Pesta Babi

KAMIS, 28 MEI 2026 | 00:10 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Tokoh Pemuda Wilayah Adat Tabi, Paulinus Ohee, menilai berbagai dinamika sosial yang berkembang di Papua belakangan ini tidak dapat dilepaskan dari adanya pengaruh kepentingan luar yang berupaya memanfaatkan kondisi sosial masyarakat, terutama generasi muda. 

Menurutnya, kemunculan film “Pesta Babi” dan berbagai narasi provokatif di ruang publik patut dicermati secara kritis agar tidak menjadi alat yang memecah persatuan bangsa maupun memicu konflik sosial di Tanah Papua.

"Indonesia saat ini sedang bergerak menuju kemajuan besar sebagai kekuatan ekonomi kawasan. Karena itu, menurut dia, terdapat pihak-pihak tertentu yang tidak menginginkan Indonesia tumbuh menjadi negara kuat dan berpengaruh di Asia," kata Paulinus dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Rabu, 27 Mei 2026.


Ia bahkan menilai pola-pola propaganda dan pembentukan opini publik yang berkembang saat ini memiliki kemiripan dengan situasi menjelang krisis politik tahun 1998.

“Generasi muda, khususnya Gen Z, harus diberikan pemahaman yang baik agar tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang sengaja dibangun untuk menciptakan perpecahan. Anak-anak muda Papua harus menjadi generasi yang kritis, cerdas, dan tidak mudah dimanfaatkan oleh kepentingan tertentu,” ujar Paulinus.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa tantangan pembangunan Papua tidak hanya berkaitan dengan persoalan keamanan, tetapi juga dipengaruhi faktor ideologi, ekonomi, pendidikan, kesehatan, hingga masuknya budaya asing yang tidak selalu sejalan dengan nilai-nilai lokal masyarakat Papua. 

"Kondisi tersebut kerap dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk memperkeruh situasi dan menghambat pembangunan di Papua," tegasnya.
 
Paulinus menilai persoalan ekonomi menjadi salah satu titik paling rentan yang sering dimanfaatkan untuk mempengaruhi masyarakat Papua. Ketika kesejahteraan belum merata, lapangan pekerjaan terbatas, dan akses pendidikan maupun kesehatan masih belum optimal, masyarakat menjadi lebih mudah diprovokasi dan diarahkan pada konflik yang merugikan masyarakat Papua sendiri.

“Di Papua ini banyak masyarakat yang sebenarnya hanya ingin hidup tenang dan sejahtera. Tetapi ketika ada persoalan ekonomi, pendidikan, dan lapangan kerja yang belum tuntas, itu sering dimanfaatkan oleh pihak lain untuk menciptakan konflik dan mempengaruhi masyarakat,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa pendekatan pembangunan di Papua tidak cukup hanya melalui pembangunan fisik semata, tetapi harus dibarengi pendekatan kemanusiaan yang mampu menghadirkan rasa keadilan bagi Orang Asli Papua. Karena itu, ia berharap pelaksanaan Otonomi Khusus Papua benar-benar mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di akar rumput.

"Negara harus hadir secara utuh melalui pemerataan pembangunan, penegakan hukum yang adil, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, serta pembukaan lapangan pekerjaan yang luas bagi masyarakat Papua," tegasnya lagi. 

Lebih lanjut, ia berharap Orang Asli Papua dapat merasakan dirinya sebagai tuan di negerinya sendiri dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Harapan kami, Otonomi Khusus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh Orang Asli Papua. Negara harus hadir dengan pendekatan kemanusiaan, keadilan harus merata, dan hukum ditegakkan dengan adil agar masyarakat Papua merasa memiliki masa depan yang baik dalam bingkai NKRI,” tutupnya.


Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

UPDATE

SGU Gandeng Poltek SSN Perkuat Pendidikan Siber Keamanan

Rabu, 29 Juli 2026 | 02:09

Jokowi Bohong soal 54 Kali Ajak Makan Siang PKL Solo

Rabu, 29 Juli 2026 | 02:02

Sentralisasi Hambat Otonomi Daerah

Rabu, 29 Juli 2026 | 01:49

Kejagung Periksa Tujuh Saksi Kasus TPPU Febrie, Empat Penyidik Polri

Rabu, 29 Juli 2026 | 01:05

Terungkap Jokowi Ikut Dirikan Gerindra di Solo Jelang Pemilu 2009

Rabu, 29 Juli 2026 | 01:00

Satgas Jaga Jakarta dan FKDM Jangan Loyo Antisipasi Tawuran Warga

Rabu, 29 Juli 2026 | 00:28

Polda Metro Jaya Bongkar Sindikat Pengedar Etomidate

Rabu, 29 Juli 2026 | 00:24

Beredar Hasil Survei 32 Capres 2029

Rabu, 29 Juli 2026 | 00:02

DKPP Putus Perkara Helikopter KPU pada 29 Juli

Selasa, 28 Juli 2026 | 23:23

GOR Ciracas Diserbu 3.190 Pelamar Kerja

Selasa, 28 Juli 2026 | 23:05

Selengkapnya