Berita

Ilustrasi (Artificial Intelligence)

Publika

Mengungkap Sejarah Kurban Versi Yahudi dan Islam

RABU, 27 MEI 2026 | 12:14 WIB

HARI ini seluruh umat Islam merayakan Hari Raya Iduladha, atau hari raya kurban. Esok juga negeri ini akan bau sate. Karena, semua pada Pesta Ba..ups, Pesta Sate. 

Saya tak membahas soal itu, melainkan sejarah kurban. Ternyata, sejarah pemotongan domba atau kambing itu ada kemiripan antara Yahudi dan Islam. 

Kita mulai dari versi Yahudi. Dalam tradisi agama ini, kisah kurban dikenal sebagai Akedah, artinya “Pengikatan Ishak.” Cerita ini tertulis dalam Kitab Kejadian (Genesis) 22:1-19 di Taurat. Di sinilah Abraham mendapat ujian yang levelnya bikin mental manusia modern langsung minta healing tiga bulan.


Tuhan memerintahkan Abraham membawa anaknya yang sangat dicintai, Ishak, ke Gunung Moriah untuk dijadikan korban bakaran. Ini bukan ujian “sabar ya.” Ini ujian yang kalau terjadi hari ini pasti sudah trending, dibahas podcast, lalu muncul lima pengamat dadakan di TikTok.

Abraham tetap taat. Ia membawa Ishak, kayu bakar, api, dan pisau. Di tengah perjalanan, Ishak bertanya dengan polos, “Ayah, mana domba untuk korban?”

Nah, jawaban Abraham ini luar biasa pendek tapi menggetarkan sejarah, “Tuhan akan menyediakan.” Kalimat itu sekarang terdengar lembut. Tapi bayangkan situasinya. Tegangnya mungkin setara rapat elite politik saat hasil quick count berbeda tipis.

Ketika Ishak sudah diikat di altar dan Abraham mengangkat pisau, Tuhan lewat malaikat menghentikannya. “Jangan kau lunjurkan tanganmu kepada anak itu.”

Plot twist!

Ternyata ada seekor domba jantan tersangkut di semak-semak sebagai pengganti. Abraham lalu menamai tempat itu Yahweh Yireh “Tuhan menyediakan.”

Dalam tradisi Yahudi, kisah ini dipandang sebagai puncak ketaatan Abraham. Namun banyak rabbi juga menafsirkannya sebagai penolakan Tuhan terhadap praktik pengorbanan manusia yang dulu lazim di dunia kuno.

Artinya, Tuhan seperti sedang memberi pengumuman resmi kepada umat manusia, “Stop jadikan manusia tumbal.”

Sayangnya, manusia modern kadang tetap hobi cari tumbal. Rakyat kecil dikorbankan demi proyek mercusuar. Hutan dikorbankan demi investasi. Bahkan kadang logika dikorbankan demi mempertahankan jabatan. Pisau Ibrahim memang berhenti. Tapi pisau kepentingan sering tetap diasah tiap musim politik.

Dalam tradisi Yahudi, kisah Akedah dibacakan saat Rosh Hashanah, Tahun Baru Yahudi. Maknanya bukan cuma soal ketaatan, tapi juga rahmat Tuhan yang menghentikan tragedi.

Lalu, bagaimana dengan versi Islam?

Dalam Al-Qur’an Surah As-Saffat ayat 99-111, Nabi Ibrahim juga diperintahkan menyembelih anaknya. Namun Islam meyakini anak itu adalah Ismail, bukan Ishak. Di versi Islam, Ismail tampil luar biasa tenang.

Ketika Ibrahim mengatakan ia bermimpi menyembelihnya, Ismail tidak kabur ke rumah tetangga. Tidak bikin thread panjang di media sosial. Tidak berkata, “Ayah toxic!”

Ia justru menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Di titik ini, kisah qurban berubah menjadi simfoni kepasrahan ayah dan anak kepada Tuhan.

Ketika Ibrahim benar-benar siap melaksanakan perintah itu, Allah memanggilnya, “Wahai Ibrahim, sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu.”

Lalu Ismail diganti dengan seekor domba besar. Dari sinilah lahir tradisi kurban dalam Idul Adha.

Karena itu, Iduladha sebenarnya bukan lomba adu gengsi ukuran sapi. Bukan pula ajang foto selfie dekat hewan kurban sambil caption, “Masya Allah, titipan Allah.”

Kurban adalah simbol, manusia harus mampu menyembelih ego, keserakahan, dan cinta dunia yang berlebihan. Al-Qur’an bahkan menegaskan dengan sangat jelas dalam QS. Al-Hajj ayat 37, “Daging dan darahnya tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketakwaanmulah yang sampai kepada-Nya.”

Kalau ada yang merasa paling suci hanya karena sapinya dua ton, tenang saja. Tuhan tidak sedang membuka kompetisi “Indonesia Mencari Qurban.”

Perbedaan utama Yahudi dan Islam memang terletak pada siapa anak yang hendak dikorbankan. Yahudi meyakini Ishak, anak Sarah. Islam meyakini Ismail, anak Hajar. Yahudi mengaitkan lokasi kejadian dengan Gunung Moriah di Yerusalem, sementara Islam menghubungkannya dengan Mina dekat Mekah.

Namun keduanya bertemu pada pesan yang sama, pengorbanan sejati bukan soal darah, melainkan ketundukan total kepada Tuhan. Mungkin itu sebabnya kisah ini tetap hidup ribuan tahun. Karena manusia selalu punya sesuatu yang ingin dipertahankan mati-matian: jabatan, uang, ego, popularitas, bahkan pencitraan religius.

Padahal sejarah kurban justru mengajari hal sebaliknya. Kadang yang paling perlu disembelih bukan kambing di halaman masjid, melainkan sifat rakus yang duduk nyaman di dalam kepala manusia sendiri.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Jokowi Dalangi Operasi Politik Pertahankan Wapres Gibran

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:14

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Pejabat BNPB juga Korupsi Pengadaan HT Penanganan Karhutla

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:37

Status MSCI Bukan Tanda Kiamat

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:21

Penguatan Ekosistem Dagang RI Didorong Tembus 5 Besar Ekonomi Dunia

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:06

Mengenal Ahmad Luthfi Auditor BPK yang Minta Jatah Rp600 Juta

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:37

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia, Polri Sampaikan Duka Cita

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:17

MSCI Pertanyakan Pasar RI, BEI Harus Buktikan Pengawasan Bekerja

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:06

Fahira: Mimpi dan Cita-cita Tak Boleh Dibatasi Kondisi Ekonomi

Senin, 19 Oktober 2026 | 01:35

Polisi Tembak Polisi di Markas Ditpolairud Pondok Cabe, Pelaku Ditahan

Senin, 19 Oktober 2026 | 01:15

Selengkapnya