Berita

Wukuf di Arafah. (Foto: Istimewa)

Publika

Arafah Hari Ini, Dunia Seolah Berhenti dan Langit Dibanjiri Doa

SELASA, 26 MEI 2026 | 12:58 WIB

ASLI merinding melihat dua juta manusia tumplek-blek di Padang Arafah. Hanya terlihat putih. Langit pun dibanjir doa. 

Di Plain of Arafat hari ini, sejauh mata memandang hanya putih. Putih yang tak putus-putus. Putih yang menelan cakrawala. Putih yang menutup tanah tandus sampai seolah gurun kehilangan warna aslinya. 

Tak ada celah kosong. Tak ada ruang tersisa. Bahu bertemu bahu. Kaki berhimpit dengan kaki. Kepala seperti ombak yang bergelombang pelan di bawah matahari.


Lebih dari dua juta jiwa berdiri di satu hamparan yang sama, di bawah langit Makkah yang membara. Dari kejauhan, mereka seperti samudra putih yang hidup. Bergerak. Bernapas. Menangis. Berdoa. Berguncang oleh harapan.

Mereka datang dari mana-mana. Dari kota-kota baja yang menjulang tinggi. Dari desa-desa kecil yang jalannya masih tanah merah. Dari tepi laut Afrika. Dari lembah Asia. Dari pegunungan Turki. Dari gang-gang sempit Indonesia.

Mereka datang membawa bahasa yang berbeda. Membawa warna kulit yang berbeda. Membawa sejarah hidup yang berbeda. Membawa dosa, luka, rindu, dan doa yang berbeda.

Namun setibanya di Arafah…semuanya luluh.

Tak ada presiden. Tak ada direktur. Tak ada konglomerat. Tak ada tukang sapu. Tak ada bangsawan. Tak ada rakyat jelata. Yang mahal kehilangan harga. Yang berpangkat kehilangan gelar. Semua dibungkus dua lembar kain putih. Sederhana. Sunyi. Setara.

Di sana, miliarder bisa berdiri berdesakan dengan petani kecil. Profesor bisa duduk di samping buruh bangunan. Raja bisa menangis di dekat orang yang seumur hidup tak pernah punya apa-apa. Tak seorang pun lebih tinggi dari yang lain.

Angin gurun membawa panas yang menyengat kulit. Bau debu bercampur keringat dan wewangian. Bibir-bibir bergerak lirih. Ada yang menangis. Ada yang menadahkan tangan tinggi ke langit. Ada yang diam memejamkan mata, seolah seluruh hidupnya sedang diputar ulang di hadapan Tuhan.

Lalu tibalah wukuf. Detik yang ditunggu-tunggu itu. Jutaan manusia seperti berhenti bersama. Bumi seakan menahan napas.

Tak ada konser di muka bumi yang mampu mengumpulkan manusia sebanyak itu dalam satu hati. Tak ada pertandingan. Tak ada parade. Tak ada kekuatan politik. Tak ada kerajaan.

Lalu orang bertanya, Agama apa ini?

Agama apa yang mampu memanggil jutaan manusia datang dari seluruh penjuru bumi, meninggalkan rumah, meninggalkan pekerjaan, menghabiskan tabungan bertahun-tahun, menembus panas gurun yang membakar, hanya untuk berdiri beberapa jam di sebuah padang tandus?

Jawabannya adalah Islam. Agama yang sejak lebih dari empat belas abad lalu mengirim gema yang tak pernah padam. Labbaik Allahumma labbaik… Aku datang memenuhi panggilan-Mu, ya Allah.

Kalimat itu melintasi zaman. Menyebrangi laut. Membelah benua. Mengetuk hati manusia dari generasi ke generasi. Hari ini gema itu berkumpul di Arafah.

Di sana tak ada Indonesia. Tak ada Pakistan. Tak ada Nigeria. Tak ada Turki. Tak ada Amerika. Yang ada hanya umat. Yang ada hanya hamba-hamba kecil menatap langit yang Maha Besar. 

Pemandangan itu membuat siapa pun merasa kecil. Sangat kecil. Seolah dunia dengan seluruh kebisingannya mendadak runtuh. Uang tak berarti. Kekuasaan tak berarti. Nama besar tak berarti.

Yang tersisa hanya satu pertanyaan yang menggantung di udara panas Arafah, “Ya Rabb… apakah Engkau melihat kami?”

Jutaan tangan terangkat bersamaan ke langit. Kalau ada pemandangan yang bisa membuat dada bergetar, mata basah, dan bulu kuduk berdiri hanya dengan melihatnya dari kejauhan, maka Padang Arafah hari ini adalah salah satunya. Bukan sekadar lautan manusia. Tapi lautan iman.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Kemitraan PLN Perkuat KDKMP jadi Penggerak Ekonomi Desa

Jumat, 16 Oktober 2026 | 06:16

Pemerintah Serap Masukan Akademisi hingga Peneliti untuk Perkuat Ekonomi Biru

Jumat, 16 Oktober 2026 | 05:53

Tak Hanya Tunjuk Kepala Baru, Pemerintah Diminta Serius Benahi BNPB

Jumat, 16 Oktober 2026 | 05:23

BUK dan Bukti Kegagalan SKK Migas

Jumat, 16 Oktober 2026 | 04:59

Korupsi Dana Bencana Bentuk Pengkhianatan terhadap Amanah Kemanusiaan

Jumat, 16 Oktober 2026 | 04:29

Wajah Muda Kemiskinan yang Berubah

Jumat, 16 Oktober 2026 | 03:58

Maruli Berjabat Tangan dengan Gibran

Jumat, 16 Oktober 2026 | 03:29

Lokasi Ledakan di Pasar Cimanggis-Ciputat Bukan SPPG

Jumat, 16 Oktober 2026 | 03:00

Selain Bupati Klaten, KPK Juga Tangkap Kepala Perwakilan BPK Jateng Ahmad Luthfi

Jumat, 16 Oktober 2026 | 02:45

Perpaduan Kekuatan Laut dan Udara Warnai Demo Pendaratan Amfibi di Pantai Banongan

Jumat, 16 Oktober 2026 | 02:08

Selengkapnya